Islam Hadir Berkat Perjuangan Bukan Paksaan

Al-Quran Karim telah menerangkan bahwa bukan hanya kaum Muslim saja yang diperintahkan bersiteguh dalam keimanan dan berlaku adil terhadap pengikut lain agama. Banyak umat yang lainnya pun diingatkan dan melakukan hal yang sama.

Sikap inilah yang sepatutnya dianut oleh semua pengikut agama-agama di dunia dalam rangka memperbaiki hubungan antar agama. Kedamaian agama tidak mungkin dapat dicapai tanpa memanfaatkan asas rendah hati, berfikir lapang dan sikap penuh pengertian terhadap pengikut yang beda agama.

Diantaranya  Al-Quran menjelaskan :

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

Dan di antara manusia  yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan itu pula mereka menegakkan keadilan. {QS. Al-Araf, 7 : 182}

وَمِن قَوْمِ مُوسَى أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

Dan dari kaum Musa ada satu golongan yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan itu mereka menegakkan keadilan”. {QS. Al-Araf, 7 : 160}.

Pengikut-pengikut Nabi Musa as tidak semuanya rusak. Beberapa di antaranya bukan hanya diri mereka sendiri yang baik, malahan juga mereka membimbing orang-orang lain kepada jalan kebenaran dan mereka sendiri berlaku adil terhadap sesama manusia. Al-Qur’an tidak pernah mengutuk suatu kaum secara umum dan tanpa membeda-bedakan.

 

ISLAM MERUPAKAN AGAMA UNIVERSAL, dimana berulangkali Al-Quran menjelaskan bahwa Islam adalah suatu agama yang ajarannya terkait dengan fitrat manusia dan fitrat manusia tidak akan berubah jika tidak dirusak. Islam menekankan bahwa suatu agama yang berakar pada fitrat manusia akan dapat mengatasi waktu dan ruang. Dengan demikian, agama yang benar-benar berakar pada fitrat manusia juga tidak akan mengalami perubahan asal saja agama tersebut tidak terlalu mencampuri situasi-situasi transient/sementara manusia dalam kurun waktu mana pun dalam sejarah kehidupannya. Begitu juga bila agama tersebut tetap bersiteguh pada prinsip-prinsip yang bersumber pada fitrat manusia maka agama itu memiliki potensi untuk menjadi agama universal. Dalam hal ini, Islam malah selangkah lebih maju dari itu maka wajar Islam merupakan AGAMA UNIVERSAL.

Islam Sebagai agama yang universal sudah tentu mempunyai tujuan untuk mempersatukan seluruh umat manusia di bawah satu bendera. Selain dari itu sejak zaman purba banyak sudah para filosof yang memimpikan persatuan umat manusia dalam satu ikatan keluarga besar di bawah satu bendera. Konsep persatuan umat manusia ini tidak saja diimpikan oleh para pemikir politikus, tetapi juga oleh para ekonom dan ahli sosiologi. Dan pemikiran ini amat mendapat perhatian dalam ruang lingkup keagamaan, terutama agama Islam.

Dalam mewujudkan persatuan umat ini, Islam tidak tidak membenarkan menggunakan kekerasan untuk menyebar­kan pesan-pesannya. Kekerasan itu tidak akan merubah manusia seutuhnya, sebagaimana dikatakan ;

Pedang bisa memenangkan negeri tetapi tidak mungkin hati.

                  Paksaan dapat menundukkan kepala tetapi tidak mungkin isinya.

Bahkan Al-Qur’an telah mengabadikan ajaran ini, yakni :

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدمِنَ الْغَيِّ

Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan . . . {QS. Al-Baqarah, 2 : 257}

Ayat ini melenyapkan salah paham itu (memerangi) dan bukan saja melarang kaum Muslimin dengan hal itu. Melalui kata-kata yang sangat tegas, tidak membenarkan kekerasan dalam rangka menarik orang-orang bukan Muslim masuk Islam, Justru memberikan pula alasan-alasan mengapa kekerasan tidak boleh dipakai untuk tujuan itu. Alasan itu ialah karena kebenaran itu nyata berbeda dari kesesatan, cahaya tidak menyatu dengan kegelapan, maka tidak ada alasan untuk membenarkan penggunaan kekerasan. Islam itu kebenaran yang nyata.

وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لآمَنَ مَن فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُواْ مُؤْمِنِينَ

Dan sekiranya Tuhan engkau menghendaki, niscaya orang yang ada di bumi akan beriman semuanya. Apakah engkau akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang beriman ? “ {QS. Yunus, 10 : 100}.

Dari ayat ini lebih jelas tanpa keraguan sedikit pun, bahwa Islam tidak mengizinkan menggunakan kekerasan dalam menyebarkan ajaran nya.

Dengan demikian dalam ajaran Islam tidak perlu adanya paksaan dalam bentuk apa pun. Biarkanlah manusia untuk menentukan mana yang benar. Selain itu telah dibuktikan dalam Story Islam tentang betapa luhur hikmah/ kebijaksanaan Islam yang telah dipraktekkan oleh penganutnya sesuai petunjuk Nabi Muhammad saw. Islam melalui Al-Qur’an telah mengajarkan kebebasan beragama dan menyampaikan syiarnya dengan mudah dengan perjuangan Qaolbu yang ramah. Allah SWT tegas mengingatkan Rasulullah saw untuk jangan sekali-kali mempertim­bangkan penggunaan kekerasan guna merubah masyarakat. Status Rasulullah saw sebagai pembaharu ditegaskan dalam ayat berikut ini, yakni ;

لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ   #  فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ

Maka nasihatilah, sesungguhnya engkau hanya seorang pemberi nasihat # Engkau bukan penjaga atas mereka”. {QS. Al-Ghasyiyah, 88 : 22-23}

Dengan tema yang sama, Nabi Muhammad saw diingatkan :

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظاً إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ

“Tetapi, sekiranya mereka berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau atas mereka sebagai penjaga. Tidaklah kewajiban engkau melainkan menyampaikan . . .”.  {QS. Asy-Syura, 42 : 49)

Meskipun dalam proses penyebaran ajaran Islam itu mungkin timbul pergulatan dan muncul reaksi yang keras, Islam tetap meminta para pengikutnya agar bersabar, bersiteguh dan berlaku adil serta sedapat mungkin menghindari konflik. Terus berjuang tanpa memaksa orang lain dengan paksaan dan kekerasan.

Sehingga Dalam penyebarannya Islam mengajarkan perjuangan yang gigih. Hal ini digambarkan dalam Surah An-Nahl ayat 126 ;

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Panggilah kepada jalan Tuhan engkau dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan bertukar-pikiranlah dengan mereka, dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhan engkau Dia lebih mengetahui siapa yang telah sesat dari jalan-Nya ; dan Dia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. {QS. An-Nahl, 16 : 126)

Sangat Jelas bahwa Al-Qur’an mengajarkan kita menyampaikan ajaran Islam adalah dengan Bijaksana/Hikmah. Menjadi insan yang hikmah sangat diperlukan perjuangan bukan paksaan. Hikmah itu Maksudnya adalah bijak dan berjuang melalui Pengetahuan atau ilmu, Kesetimbangan atau keadilan, Kelemah-lembutan atau kemurahan hati, Keteguhan , Sesuatu ucapan atau percakapan yang serasi atau cocok dengan kebenaran dan sesuai pula dengan tuntutan keadaan, Anugerah nubuatan dan Apa yang menghalangi atau mencegah seseorang dari perbuatan tolol (Lane)

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

Kemudian, dia menjadi di antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya bersabar dan mengajak satu sama lain berbelas kasih {QS Al-Balad, 90 : 18}

Cita-cita dan asas-asas benar, berpadu dengan kesetiaan yang tetap lagi teguh pada jalan yang menjurus kepada akhlak lurus, serta mengajarkan nilai kebaikan kepada orang lain, adalah sama pentingnya untuk mencapai tujuan mulia tersebut di atas

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ

Tolaklah keburukan dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan. {QS Al-Muminun, 23 : 97}

Di sini Rasulullah saw. dititahkan, bahwa selama beliau tinggal bersama-sama dengan orang-orang kafir di Mekkah, beliau hendaknya menanggung dengan sabar segala caci-maki dan penindasan yang ditimpakan kepada beliau, dan membalas kejahatan itu dengan kebaikan.

Ketika Rasulullah saw menyampaikan bahwa bahwa Beliau saw telah diutus oleh Allah SWT, maka serentak orang-orang Mekah memusuhi Beliau saw. Hingga Beliau saw dan para pengikutnya dihadapkan pada situasi yang sangat Zholim, harga diri, dan keselamatan jiwa telah sampai pada titik yang membahayakan. Hak beragamapun hilang, Akhirnya Beliau dan para pengikutnya atas izin Allah SWT hijrah Ke Madinah yang dahulu terkenal dengan nama Yashrib. Walaupun kondisi sulit sekalipun Rasulullah saw mencontohkan penyampaian syiar Islam dengan perjuangan akhlak yang baik nan indah tanpa memaksa Insan dengan kekerasan. Sejarah telah mencatat dan merekam sikap Rasulullah saw dengan prilaku dan akhlak nan luhur. Dan melalui BERKAT PERJUANGAN akhlak tersebutlah insan bergabung dalam pangkuan Islam.

Itulah Ajaran Islam di dalam Al-Qur’an mendorong umatnya berjuang dalam penyiaran tetapi tidak dengan paksaan. Tidak menumpahkan darah, apalagi sampai menghilangkan nyawa Insan.

Hits: 42

Mubarak Achmad. Penulis, Pengajar, Muballigh.
Akar segala sesuatu adalah takwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories