Jangan Terima Pasanganmu Apa Adanya

Beberapa waktu yang lalu, saya lihat ada cuplikan video di Instagram. Seorang ibu berceramah dengan tema, ‘Terimalah Suami Apa Adanya, Niscaya Balasannya Surga.’ 

Saya sangat paham konteks ceramah ini. Si ibu penceramah ini ingin menyampaikan pesan agar para istri tidak menuntut suaminya agar bisa sempurna. Karena ya… tidak ada manusia yang sempurna. Jadi daripada menuntut sesuatu yang tidak mungkin, lebih baik ikhlas saja menerima suami apa adanya, dan bersyukur. Sebuah pesan yang indah, bukan?

Tapi hati saya terusik, dan ini karena sahabat saya. Lho?

Jadi salah satu sahabat saya pernah menulis, saya lupa entah di mana. Dia bilang seharusnya kita tidak menerima pasangan kita apa adanya. Seharusnya kita maupun pasangan kita, harus mau untuk saling maju dalam perbaikan diri. Kita dan pasangan kita harus saling mendukung dan saling mendorong satu sama lain untuk terus memperbaiki diri dan menjadi hamba dan manusia yang lebih baik. 

Saya telaah lagi, benar juga. Allah Ta’ala senantiasa mengajarkan kita untuk selalu memperbaiki diri kita setiap saat. Memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah kita, memperbaiki dan menambah keilmuan dan wawasan kita, memperbaiki kualitas sikap dan pikiran kita. Segala aspek dalam hidup kita sebagai manusia dan hamba-Nya harus senantiasa diperbaiki.

Hitung saja berapa kata memperbaiki diri yang tercantum dalam Al-Qur’an. Saya hitung sendiri, ada lebih dari 10. Allah Ta’ala selalu mengajarkan umat-Nya untuk memperbaiki diri, tidak stagnan, tidak jalan di tempat dalam banyak hal.

Bila mengalami kebuntuan mengembangkan diri di suatu tempat, kita diperintahkan-Nya berhijrah. Dia sendiri berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d 13: 12) Artinya kita diberikan pilihan, kita diberikan kuasa oleh Allah Ta’ala untuk mengubah keadaan, termasuk keadaan diri kita sendiri.  

Masih Mau’ud as. juga mengajarkan kita untuk senantiasa memperbaiki diri, memajukan diri sendiri. Beliau as. menyatakan, “Jadi, hendaknya harus senantiasa dilihat sampai dimanakah kita telah meraih kemajuan dalam hal ketakwaan dan kesucian., standarnya adalah Al-Quran.” (Malfuzat, jilid I, hlm 12-13 / Pidato Pertama Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada Jalsah Salanah, 25 Desember 1897).

Bila seumur hidup kita, Allah Ta’ala senantiasa mengajarkan kita untuk selalu memperbaiki diri, lantas kenapa kita harus pasrah-pasrah saja menerima pasangan kita, membiarkannya terlena dengan segala kekurangan yang sebenarnya sangat bisa untuk diperbaiki? Tidakkah itu justru menjerumuskan pasangan dalam lubang hitam yang membuatnya tidak bergerak maju, stagnan, dan diam di tempat?

Dalam persoalan rumah tangga, Allah Ta’ala menyatakan, “…mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka…” (QS. Al-Baqarah 2: 188) 

Apa maksud dari ‘pakaian’? Dalam penjelasan berkaitan dengan ayat ini, “Tujuan pokok perkawinan, demikian ayat ini mengatakan, ialah kesentausaan, perlindungan, dan memperhias kedua pihak, sebab memang itulah tujuan mengenakan pakaian.” 

Memperhias kedua belah pihak artinya memperbaiki dan memperindah amalan masing-masing. Tidak serta merta kita membiarkan pasangan kita, pun diri kita sendiri, begitu-begitu saja dalam amalan-amalan. Manusia diberikan potensi yang tak terbatas untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Semua kembali kepada diri kita sendiri, mau menggalinya terus menerus atau tidak.

Jadi, kalau kita tidak menerima pasangan kita apa adanya, bukan berarti kita menuntut kesempurnaan. Tetapi yang harus kita inginkan adalah semata-mata kebaikan, dengan mendorong pasangan kita untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas dirinya, kualitas amalan dan kualitas keimanannya. Menerima pasangan kita apa adanya dan membiarkan amalannya begitu-begitu saja tanpa ada peningkatan kualitas maupun kuantitas, saya meyakini bukanlah sesuatu yang diajarkan Allah Ta’ala.

Dalam salah satu khutbahnya, Hz. Khalifatul Masih atba. menyampaikan bahwa dalam rumah tangga, hendaknya kita fokus pada kebaikan-kebaikan pasangan kita dan mengabaikan kekurangan-kekurangannya. Yang saya pahami adalah kita dianjurkan untuk tidak menggerutu dan hanya melihat sisi negatif pasangan kita, tanpa memberikan solusi, tanpa mendorongnya untuk memperbaiki diri, dengan cara yang tidak berkenan baginya.

Tentu penting sekali untuk menaruh perhatian besar pada kebaikan pasangan. Sama pentingnya untuk juga mengajak dan menyemangati pasangan untuk memperbaiki apa yang kurang dari dirinya dan meningkatkan segi kualitas keimanan dan amalan-amalan kebaikan lainnya. 

Adalah keharusan untuk bisa mendorong pasangan kita untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Tentu dengan cara yang ihsan, yang baik, yang berkenan bagi pasangan kita. Karena, kebenaran yang disampaikan tanpa kebaikan, akan sulit untuk diterima. Dan kebaikan yang disampaikan tanpa kebenaran, hanyalah kosong belaka.

 

Hits: 1561

Lisa Aviatun Nahar

16 thoughts on “Jangan Terima Pasanganmu Apa Adanya

  1. Konsep yang harus menerima apa adanya sebenarnya bener juga. Tapi terhadap sesuatu hal yang memang sudah ketetapan-Nya. Seperti warna rambut, bentuk hidung, warna kulit, kesukuan, Ras nya, orangtuanya, keluarga besarnya. Sesuatu yang di luar kendali diri pasangan kita. Selebihnya jangan mau terima apa adanya. Harus saling berjuang untuk terus memperindah satu sama lain dalam urusan jasmani dan rohani 🥰🥰🥰🥰

    Tulisannya sangat indah banget teh. Syukaaaa~

  2. Setuju Teh Lisa… Pasangan terbaik adalah yang selalu saling mengingatkan dalam hal kebaikan bukan membiarkan orang yang mereka kasihi terus larut dalam kekurangan (terutama dari sisi rohani).

    Kebayangkan betapa indahnya hubungan keluarga yg saling mengingatkan dalam meraih Ridha Allah. Suami membangunkan istri untuk Tahajud bareng. Istri juga selalu mengingatkan dengan lembut ketika suami mungkin lalai. Surga berasa ada di dunia.❤

  3. Setuju banget sama Bu Lisa…karena pasangan adalah pakaian bila digambarkan pakaian secara zahir,bila pakaian itu ada yg sobek tentu tidak nyaman kita memakainya kita akan menjahitnya begitu juga pasangan bila ada kekurangan (khususnya masalah rohani) bukan berarti menerima apa adanya tp harus saling mengingatkan saling memperbaiki satu sama lain untuk bisa meraih Ridha Allah Ta’ala dalam berumah tangga
    Jazakumullah bu Lisa tulisannya baguuuus banget 😍

  4. Bu lisa benar sekali….. Masyaa Allah….. Pasangan hidup ibarat pakaian, yang mana ingin yang trbaik n sangat bagus begitu pula pasangan kita ingin yang lebih baik n bagus, bukan bagus di lihat dr bahan tp yang penting nyaman bila kita menggunakannya. Bgtu pula pasangan kita harus bisa memberi nyaman dikala kita bersama dimanapun n kapanpun. 💝💝🌹🌹🌷

  5. MasyaAllah tulisan Bu Lisa selalu suka bacanya. Bikin buku deh Bu.

    Saya termasuk yg setuju dengan pemikiran ini Bu.

    Saya juga pernah baca tulisan sahabat Bu Lisa di blog pribadinya. Hehe

  6. Mohon maaf…mungkin jargon itu khusus ditujukan tuk fisik….krn fisik seseorang sudah ada dari sononya karena Allah yg membuat. Ada yg cantik, ada yg biasa2, ada yg pendek, ada yg tinggi, ada yg hitam, ada yg putih, ada yg mancung dan sebaliknya. dll.
    Maksud saya,, jangan krn fisik kurang baik jadi tdk cinta. Jadi terimalah apa adanya.
    Kalau dlm kebiasaan ya harus sama2 saling mengingatkan, jangan terima apa adanya. Kelakuan atau kebiasaan yg buruk hrs dirubah jangan dibiarkan apa adanya. Mohon maaf kalau ada kata2 saya yg kurang berkenan atau kurang tepat. Ini hanya pendapat pribadi saya yg bisa saja salah. Jazakumullah

    1. Betul, Bu Rani, seperti pada komentar Nn. Lika sebelumnya, untuk hal-hal yang sudah ada ketetapan-Nya seperti fisik, ras, orangtuanya, keluarga besarnya, tentu tak bisa diubah dan harus diterima apa adanya.

      Tulisan ini memang menyasar hal-hal yang sebenarnya bisa diperbaiki seperti keimanan, amal ibadah, pemikiran, sikap, kebiasaan, kemauan bekerja keras, dan lain sebagainya. Karena pada kenyataannya ada orang-orang yang menuntut untuk diterima apa adanya, juga segala kekurangannya yang sebenarnya bisa diperbaiki. Dan ceramah dari ibu pendakwah yang saya sebutkan di tulisan ini pun menyasar ke hal-hal tersebut juga. Makanya saya tulis mengenai hal ini.

      Jazakumullah sudah mau membaca tulisan saya.. 🥰🙏

  7. Mohon doanya ya Bu Lia.. mudah-mudahan dikasih karunia rejeki dan kesempatan ke arah sana.. hehe 😘😘

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories