Kami Adalah Islam Ahmadiyah

Mata saya terpejam seolah sedang bernostalgia menerawang jauh pada masa ketika saya masih seorang murid sekolah dasar yang hari-harinya selalu saja ada ancaman, caci maki dan hinaan. Saya tumbuh di lingkungan yang jauh dari kata tenang. Bukan hanya saya, tapi seluruh siswa atau teman-teman yang merupakan seorang Ahmadi. Bahkan 2 orang guru saya pun merasakan pengucilan, hal yang sama dirasakan.

Saya ingat betul saat itu baru naik ke kelas 6 SD dan saya duduk di bangku ketiga paling pojok. Bangku yang saya duduki seolah menjadi tempat paling tak nyaman. Di belakang saya duduk seorang anak santri dari salah satu pondok pesantren di sana, hari ke hari kebiasaannya adalah menendang bangku yang saya duduki dengan usil dan cacian.

“Kamu Ahmadiyah, ya! Sesat! Tidak pantas hidup!” katanya.

Waktu terus saja berlalu. Tidak hanya sampai situ saja saya merasakan hal tersebut yang bisa dikatakan bullying. Syukurnya, bullying yang saya terima hanya sebatas lisan saja.

Suatu ketika saya pernah dibawa 2 orang teman sekelas ke belakang sekolah, laki-laki dan perempuan. Saya memang salah satu murid yang tidak berani membantah terang-terangan ujaran cacian atau hinaan mereka. Hingga akhirnya mereka juga berani terus-menerus berkata semau mereka.

Entah apa yang terjadi dan keberanian apa yang membuat mereka berani menyeret saya. Salah satu dari mereka memulai pembicaraan, “Kamu Ahmadiyah, saya bunuh kamu!” Dia tersenyum kecut sambil memandang saya tak suka. Saya yang terbiasa diam hanya mengatakan, “Udah, ya!”

Betapa lugu dan polosnya saya sebagai anak sekolah dasar waktu itu namun mendapat bullying dari rekan sekolah yang bahkan mungkin mereka hanya tahu sepintas dari guru maupun orang-orang yang lebih dewasa dari mereka.

Namun, kala itu saya seolah diberi keberanian untuk melawan, ketakutan itu seolah sirna. Meskipun ditemani dengan gemuruh jantung yang berdetak begitu cepat, saya pun menjawab, “Salah saya apa?”

Bibir saya sedikit bergetar, ketakutan itu ada. Di pelupuk mata sudah menggenang luka seolah ingin tumpah ruah. “Kamu Ahmadiyah! Kitab kamu Tadzkirah. Kamu sesat! Saya bunuh kamu!” Jarinya menunjuk-nunjuk seolah ia benar-benar akan melakukannya.

Saya menatapnya dengan mata nyalang penuh kesal dan takut. Saya berusaha mengumpulkan kekuatan sedemikian rupa karena saya tahu saya merasa benar-benar seorang Muslim. “Jika berani, silahkan bunuh saya!” Saya berdiri tegak menghadap mereka hari itu, saya tak gentar.

Hingga akhirnya mereka pergi dan berhenti. Kaki saya lemas. Saya sedikit marah pada diri sendiri karena pemahaman mengenai kejemaatan begitu minim. Tapi saya pun yakin mereka tidak paham. Mereka hanya bertindak berdasarkan ‘katanya’, bukan kemauan mereka.

Saat itu bahkan saya baru mendengar ‘Tadzkirah’. Beberapa tahun itu saya hanya bertanya-tanya, apa itu Tazkirah? Jika benar itu adalah kitab Ahmadiyah, kenapa saya tidak mengetahuinya? Itulah pemikiran saya saat itu.

Hingga akhirnya saya mengetahui bahwa Tadzkirah merupakan kumpulan wahyu yang diturunkan Allah kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Masih Mau’ud a.s. Saya sendiri tahu bahwa Tazkirah bukan kitab suci Jemaat Ahmadiyah. Kitab kami-Al Qur’an, kami sama dengan Muslim lainnya.

Setelah hal itu terjadi, saya jadi lebih penasaran dan semakin tekun mempelajari Islam Ahmadiyah. Membaca-baca agar saya bisa menjawab pertanyaan mereka mengenai Islam Ahmadiyah.

Syukurnya, waktu pun begitu cepat berlalu. Kelulusan saya dari sekolah dasar akhirnya tiba. Meskipun kemudian, guru dan adik-adik kelas saya tidak bisa melanjutkan sekolah di sana. Mereka dipindahkan karena sekolah itu tidak menerima Ahmadi.

Kami yakin masih begitu banyak orang baik. Masih banyak yang mau menerima kami dengan baik. Saya jadi teringat sebuah pesan ketika menghadiri mulakat dengan mantan Amir Nasional Jemaat Ghana pada Agustus 2023 di Jemaat Ciparay, Jabar 04. Beliau menyampaikan, “Sampaikanlah tabligh ini dengan aman dan damai agar mereka bisa menerima kebenaran.”

Kami tidak pernah membalas kejahatan mereka, kami tidak pernah melakukan hal yang sama. Mereka yang membenci menyatakan, “Mereka Ahmadiyah bukan Islam, tidak bisa membaca Al-Qur’an, tidak bisa naik haji, semua orang menentang keberadaannya.”

Namun ketika mengingat di zaman Rasulullah saw., para awwalin Islam dihina, dicaci-maki dengan kejamnya, kejadian itu pun dialami Jemaat Muslim Ahmadiyah. Masjid dirusak, penentangan-penentangan yang luar biasa seperti pada zaman Rasulullah saw., rumah dibakar, diusir dari kampung, dan sebagainya. Tapi yang taat terus berkhidmat, senantiasa berada di bawah naungan Allah Swt. dan Jemaat Ilahi ini.

Alhamdulillah terdengar juga kabar kebesaran Allah. Salah satu guru saya yang seorang Ahmadi, atas keteguhan, kesabaran, dan hebatnya beliau di Jemaat ini, beliau sudah melaksanakan umroh. Hal ini menjadi bukti bahwa Dia akan menolong siapapun yang teguh dalam keimanan kepada-Nya, juga kepada utusan-Nya.

Visits: 39

Kamila Saida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *