Kebahagiaan Hati yang Tak Bisa Dibeli Dengan Apapun Juga

Sabtu, 26 Desember 2020.

Dari usai Subuh aku sudah sibuk di dapur. Mengejar waktu hingga  jam setengah delapan. Agar bisa beres tepat waktu.

Sementara masakin anakku untuk  berbagi dengan kaum duafa dan fakir miskin akhirnya selesai sudah. Kini tinggal memasukan nasi liwet dan temennya untuk kubawa.

Aku periksa ulang barang bawaanku. Peralatan kebersihan, biskuit, energen susu, seprei, handuk. Washlap, tali rafiah, daster buat nenek. Hijab. Sarung tangan. Sabun. Karbol. Ember, gunting sampai makan siang. Semua oke.

Alhamdulillah, tepat jam 8 semua beres. Saat kubuka WA. Subhanallah, tim KJB minta konfirmasi

“Ibu hari ini jadi kan? “

InsyaAllah , aku akan menepati  omonganku  jika tak ada halangan yang penting. Kutelpon Robby bahwa aku “OTW” jemput ibu Ketua.

Sampai di rumah bu Ketua tak perlu waktu lama. Bahkan aku tak turun. Begitu di klakson ibu Ketua keluar dengan tas plastik hitam buat nenek. Ibu ketua semptt bilang ada dasternya layak pakai. Alhamdulilkah rejeki nenek.

Di perjalanan kuceritakan pada ibu Ketua rejeki nenek begitu banyak. Teman-teman dari yayasan Al-Mukmin menitipkan amplop dan aku diamanahkan sebagai bagian dari Al-Mukmin. Ada sumbangan lain  dari beberapa  teman-temanku  di kantor dulu. Dan tak dinyana bu Ketua pun titip amplop dari anak-anak beliau. MasyaAllah.

Rabb terima kasih. Kau mudahkan niat baik kami meng-upgrade tempat tinggal “nenek” menjadi layak ditinggali.

Sampai di Suka hati, Cikampek. Kutelpon Robby, sementara Ayu masih sarapan. Sambil menunggu mereka, kukeluarkan peralatan yang kubawa. Setelah semua kumpul dan siap kami berjalan ke rumah nenek.

Di sana sesuai dengan amanah donatur dari Al-Mukmin, aku  selaku wakil Yayasan sosial tersebut dan beberapa donatur memberikan amplop sebagai tanda serah terima sumbangan. Semoga bisa menjadi ladang pahala bagi donatur. Dilanjut kami berdoa bersama lalu ke tugas inti.

Kami permisi pada pemilik tanah yang ditinggalin nenek. Kemudian  tanpa di komando kami menyebar. Para bapak membuang barang nenek dengan ditumpuk di sudut luar agar bisa ditarik dinas kebersihan dan membersihkannya. Sebagian pergi membeli paku, kayu dan triplek, sedang 2 ibu membeli pempers, sendal, minyak kayu putih, kasur dan bantal. Sementara aku, Ayu dan ibu ketua menyiapkan bale tempat mandiin nenek serta membuat tirainya dari tali rafiah dan seprei yang kubawa sebagai penutup.

Nenek kami kasih sarapan susu dan biskuit agar tidak masuk angin terlebih dahulu. Setelahnya kami mulai menggunting baju yang nenek gunakan.

Ibu pemilik tanah yang nenek tempati  sempat berkata, “Neneknya  jorok padahal baju baru diganti udah kotor lagi.”

Kami “no komen” karena kami tahu hari selasa saat pertama kami dipertemukan dengan nenek. Baju yang dikenakan kulihat masih sama berwarna merah persis dengan di foto. Tak bermanfaat kami bicara. Kami biarkan ia bicara.

Ketika kami sedang memandikan nenek, warga ribut nenek meninggal.

Asalnya aku terkejut tapi kenapa mereka hanya  kumpul dan herannya hanya satu warga yang tergerak mendekat kami. Semua hanya nonton. Innalillahi.

Padahal, duduk bersama orang miskin dan orang yang kurang beruntung akan menghilangkan ego dan kesombongan dari hati kita bahkan hadits mengatakan bahwa orang yang membantu para janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah.

Kami  sendiri tidak punya banyak uang untuk membantu nenek, tapi kami  hanya punya hati untuk membantu, dan Masya Allah. Materi, Allah datangkan dari segala penjuru untuk nenek.

Kami pun tetap bekerja sesuai niat, yang mau bantu silahkan yang tidak pun monggo. Sementara warga malah pada menonton kami.

Memandikan nenek bukan pekerjaan mudah, tubuhnya penuh daki dan kotoran tebal. Perlu ekstra hati-hati untuk menggosok permukaan kulit dan rambut  agar nenek tidak merasa sakit. Kuku kami pedicure manicure karena panjang dan hitam. Rambut yang gimbal bahkan perlu dieksekusi oleh dua orang agar prosesnya cepat.

Pasukan “gercep” beraksi rame-rame. Alhamdulillah nenek  rapih dan wangi layaknya bayi karena kami beri minyak telon agar hangat.

Tiba-tiba nenek bersuara, “Bakso.” Saat itu memang ada tukang bakso cuanki lewat.

Kutanya apakah nenek mau? Dia mengangguk. Mungkin dia masih kedinginan setelah kami mandikan.  Bakso cuanki plus nasi kami beri, ibu ketua menyuapi dengan sabar sementara aku bergabung bersihin tempat tinggal nenek. Sesudah dimandikan  dan diberi makan, nenek sempat tertidur.

Sementara nenek tidur dijaga ibu Ketua, kubersihkan gubuk nenek lalu kusemprot dengan air, setelah itu baru kusemprot dengan karbol agar kuman-kuman mati.

Sementara selesai bersih-bersih. Para bapak yang belanja kayu dan triplek datang. Mereka langsung bekerja mengukur dan membuat bale-bale serta atap agar nenek tak kedinginan.

Setelah bale-bale selesai kami hamparkan karpet plasik baik di lantai maupun di bale-bale. Kasur kami letakkan di atasnya dan kami alasi perlak, baru seprei.  Sekarang gubuk nenek layak dihuni seorang manusia.

Upaya memanusiakan manusia pun terwujud sudah. Rabb terima kasih Kau lancarkan segalanya.

Nenek pun  mau dipakaikan pempers oleh bu ketua, ketika kami akan coba menggendong nenek ke dalam. Tiba-tiba nenek BAB. Kami semua tertawa. Nenek ngasih hadiah buat kami semua. Canda kami. Eh.. nenek malah ikut tertawa. Tentu kami senang melihat nenek sudah bisa tertawa. Akhirnya kami kerja bakti lagi. Aku nyuci bajunya, bu Ketua bersihin  kotoran, yang lain angkat nenek ke atas.

Ketika  akan dipindahkan, nenek sempet ngambek, tak  mau diangkat oleh seorang bapak. Sedangkan kalau kami yang  bopong nenek, kami takut gak kuat. Akibatnya malah nenek bisa jatuh. Setelah lama dibujuk bujuk, akhirnya manyun di mulutnya hilang. Dan nenek pun dibopong pindah ke tempat barunya.

Nenek  terlihat senang diletakan di kasur bersih. Meja kami letakan di sampingnya agar mudah dijangkau. Dan kami titipkan nenek  pada warga, seorang ibu yang tadi membantu. Kami tidak dapat mengandalkan pemilik tanah tempat gubuk nenek berdiri apalagi dia sudah tak peduli dengan nenek.

Padahal andai dia tahu bahwa barang siapa yang membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka kelak Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat.

Sungguh sayang dilewatkan begitu saja.

Alhamdulillah  ibu yang kami titipkan bersedia. Kami lega sambil kuserahkan vitamin dari donatur buat  nenek. Semoga dia memegang ucapannya.

Hal yang lucu saat kami pamit pulang. Nenek  memanyunkan mulutnya. Saat kami bujuk akhirnya keluar suara dari mulutnya yang mungil,

“Jangan lama-lama pulangnya”

Terharu rasanya, dia tak mau kami tinggalkan. Maafkan kami nek.

Kami semua salim pada nenek.

“Assalamualaikum nek kami pulang.”

Tolong-menolong yang dilakukan sesama umat manusia terasa dapat  mengukuhkan dan menguatkan tali persaudaraan yang baru terjalin.

Kami pun berjalan pulang menuju base camp, yang letaknya tak jauh dari rumah nenek. Begitu sampai kulihat Robby sudah bersiap-siap di atas motornya. Ketika kutanya mau kemana, dia mengatakan bahwa dia bermaksud  membeli nasi Padang. Kukatakan aku bawa liwet, kita makan seadanya dia menjawab

“Ih ibu bikin seneng aja.”

Dalam kondisi capek, lalu makan bareng. MasyaAllah nikmatnya . Nikmat Allah mana lagi yang kan kau dustakan?

Semoga kau memudahkan langkah kami semua dalam menolong  siapapun sesama  manusia yang memerlukannya

Ya, hari ini  kami dapatkan  Kebahagian Hati yang Tak  Bisa Dibeli  Dengan Apapun Juga pada diri kami  semua yang terlibat.

Pekerjaan kami sudah selesai? Ternyata belum.

Kami harus mencari panti jompo yang gratis untuk orang terlantar. Karena nenek tak bisa hidup sendiri. Ia butuh orang lain yang bisa membantunya.

.

.

.

Penulis: Henny Ruwahsasi

Editor: Muhammad Nurdin

Hits: 442

Henny Ruwahsasi

2 thoughts on “Kebahagiaan Hati yang Tak Bisa Dibeli Dengan Apapun Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories