Ketika Semua Pintu Tertutup, Hanya Amal yang Menyertaimu

Apa yang terlintas di dalam benak kita saat mendengar kata kematian? Terasa menakutkan bukan? Terlebih lagi kita tidak pernah tahu kapan dan di mana kita akan bertemu dengan kematian serta akan seperti apa cara kita dalam menghadapi kematian.

 

Sungguh setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati dan satu-satunya kepastian di dalam hidup ini hanyalah kematian. Untuk itu, manusia sebagai makhluk yang bernyawa harus selalu bersiap siaga dalam menghadapi kematian.

 

Mengapa kita harus mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian? Karena kita semua adalah milik Allah Ta’ala dan pada akhirnya kita semua akan kembali hanya kepada Allah Ta’ala. Kemudian, apa yang harus kita persiapkan dalam menghadapi kematian? Allah Ta’ala berfirman “Bawalah perbekalan, karena sesungguhnya sebaik-baik perbekalan adalah takwa.”

(QS. Al-Baqarah:197)

 

Allah Ta’ala memerintahkan kita agar senantiasa membawa perbekalan dan perbekalan itu adalah amal-amal baik yang dibalut dengan ketakwaan.

 

Allah Ta’ala telah menetapkan suatu masa bagi tiap-tiap jiwa, kematian tidak mengenal apakah seseorang itu tua atau muda, sehat atau sakit, kaya atau miskin, yang pasti kematian akan menghampiri siapa pun yang telah Allah Ta’ala tetapkan masanya.

Betapa nyatanya hal ini tergambar dalam diri Mus’ab bin Umair, seorang pemuda Quraisy terkaya dan paling dimanjakan dengan kemewahan. Namun ketika ajal menjemputnya di medan Perang Uhud, ia gugur dan Rasulullah Saw. melihat jasadnya hanya tertutup sehelai kain; jika menutupi kepala, kakinya terbuka, dan jika menutupi kaki, kepalanya terbuka. Kemewahan dunia tidak sedikit pun mampu menolak atau menunda kematian. Sehingga kita harus selalu mempersiapkan diri dalam menghadapinya.

 

Masa atau waktu bagi kita tinggal di dunia ini sangat terbatas, oleh sebab itu kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu dan kita harus mengisi waktu yang terbatas itu dengan melakukan amal-amal baik yang tidak terputus karena hanya amal-amal itulah yang akan kita bawa pada saat kematian menjemput kita dan amal-amal baiklah yang akan menyelamatkan kita di kehidupan selanjutnya.

 

Dalam sebuah hadis pun diriwayatkan bahwasanya “Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.”

(HR. Muslim)

 

Bahkan dalam sebuah riwayat shahih disebutkan bahwa di surga ada seseorang yang diangkat derajatnya (ditinggikan kedudukannya), lalu ia bertanya, “Mengapa aku mendapat derajat setinggi ini?” Maka dijawab kepadanya, “Itu karena anakmu senantiasa memohonkan ampunan (mendoakanmu) setelah engkau meninggal.”

(HR. Imam Ahmad)

 

Tiga perkara ini adalah amalan yang tidak akan pernah terputus meskipun kita telah meninggal sehingga dalam kehidupan yang sementara ini kita harus selalu mengusahakan untuk melakukan amal-amal baik itu secara terus menerus karena hanya amal-amal baik yang dapat menolong kita.

 

Allah Ta’ala berfirman, “Maha beberkatlah Dia yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Maha Perkasa Maha Pengampun.”

(QS. Al-Mulk: 1-2)

 

Dari ayat tersebut dapat kita tahu bahwa setiap makhluk hidup akan mengalami kehancuran dan kematian, lalu kematian itu sendiri adalah sebuah pintu gerbang menuju kehidupan kekal dan kemajuan rohani yang tak terhingga, sedangkan dunia ini hannyalah tempat untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan yang kekal itu. Sehingga selama kita masih hidup di dunia ini kita harus selalu mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian dengan cara selalu mengingat kematian agar kita tidak menunda-nunda waktu untuk bertaubat. Sebagaimana penyesalan orang-orang yang digambarkan dalam firman Allah Ta’ala, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Munafiqun: 10).

 

Namun Allah Ta’ala tegaskan bahwa tidak akan ditunda ajal seseorang apabila telah tiba waktunya. Maka jangan pernah tunda taubat, melainkan selalu berusaha untuk mengerjakan amal-amal baik karena perbekalan yang akan kita bawa hanya amalan yang dibalut dengan ketakwaan.

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkan kita dalam keadaan menyerahkan diri kepada-Nya.

 

Views: 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *