Kisah Keteguhan Iman yang Menjadi Bukti Kebenaran

Penolakan dan penentangan selalu menjadi pupuk dalam meneguhkan keimanan. Setiap Nabi yang diutus oleh Allah Ta’ala pasti menerima berbagai penentangan dari kaumnya. Para pengikutnya dicaci dan dibenci sedemikian rupa. Namun mereka tetap teguh pada kebenaran meski orang-orang selalu menghinanya.

Malam ini ingatanku mengembara menuju beberapa tahun silam. Ketika aku beranjak remaja, ibuku selalu bercerita bahwa saat awal masuk Jemaat Ahmadiyah, ia selalu diminta berpisah dengan ayah karena orangtuanya tidak  menerima jika ibuku masuk Jemaat Ahmadiyah. Namun keyakinannya yang begitu kuat membuatnya tetap bertahan menghadapi berbagai cobaan. Ayah dan ibu selalu semangat berkhidmat dalam Jemaat.

Kenyataan hidup tak selamanya manis. Ada saja batu-batu dan kerikil tajam yang menghalangi jalan mereka dalam berkhidmat. Bahkan hambatan itu muncul dari tetangga yang tinggal dekat dengan kami.

Suatu hari teman ayahku hendak bertamu ke rumah. Ketika sudah sampai di depan rumah, seorang tetangga yang tengah memandikan kuda peliharaannya berseru, “Jangan bertamu ke rumah itu. Nanti kamu disuruh masuk ke dalam Ahmadiyah, aliran sesat.”

Mendengar kalimat provokasi semacam itu, tamu tersebut mengurungkan niatnya untuk bertamu dan bergegas pulang.

Tak lama setelah teman ayah pergi, tiba-tiba kuda yang sedang dimandikan itu menendang kaki si pemiliknya. Ia merasa kesakitan dan memutuskan untuk pergi ke dokter.

Setelah diperiksa ternyata kakinya terinfeksi dan harus segera dirujuk ke Rumah Sakit di Cianjur Kota. Ia pun harus dirawat di Rumah Sakit untuk beberapa lama. Diagnosa dokter menyebutkan bahwa kakinya semakin parah, dan akhirnya harus diamputasi.

Dalam kesedihannya tak ada seorang pun diantara keluarganya yang datang menjenguk selain istrinya yang menjaga siang malam.

Mendengar kondisinya yang semakin parah, ayahku berangkat untuk menjenguknya. Begitu ia melihat ayah masuk ke kamarnya, ia menangis tersedu-sedu. Ia meminta maaf dan merasa berdosa karena selalu menghujat dan membenci kedua orangtuaku karena masuk Ahmadiyah.

Ayah mengutarakan bahwa ayah telah memaafkan kesalahannya bahkan sebelum ia meminta maaf, dan ayah mendoakan kesembuhannya. Keesokan harinya ia pun bisa pulang dari rumah sakit.

Ujian yang dihadapi kedua orangtuaku tak berhenti sampai disitu.

Pada suatu hari ayahku dipanggil oleh tujuh orang ustadz yang terkenal di daerah Cikalong Kulon-Cianjur. Mereka mengajak berdiskusi dan mengajukan berbagai macam pertanyaan mengenai Ahmadiyah.

Diskusi pun berjalan cukup alot karena tak ada satupun dari mereka yang menerima kebenaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Berbagai dalil yang mereka sampaikan, dengan sabar dijawab oleh ayah satu persatu.

Melihat tidak ada titik temu dalam diskusi ini, akhirnya ayahku berkata, “Begini saja. Kita semua serahkan kepada Allah. Apabila kalian ber-tujuh ini benar, maka saya berusia pendek. Namun apabila keyakinanku ini benar, maka kalian lah yang berusia pendek.”

Sebulan setelah peristiwa diskusi tersebut, salah seorang dari tujuh Ustadz tersebut dikabarkan masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal. Tak lama kemudian muncul kabar bahwa salah seorang Ustadz kehilangan harta bendanya karena kebakaran, dan akhirnya meninggal dunia.

Satu per satu dari ketujuh Ustadz tersebut meninggalkan dunia ini. Ayahku masih hidup dan mendapatkan karunia menjadi seorang Mubaligh di wilayah Cianjur dan sekitarnya.

Nama ayahku Mu’allim Abidin. Pada usia 82 tahun, ia dipanggil oleh Allah Ta’ala dan meninggalkan kenangan yang berharga bagi anak cucunya. Menjadi tauladan bagi keturunannya agar dapat mengikuti jejak langkahnya dalam keimanan.

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh di dunia dan di akhirat. Dan Allah membiarkan sesat orang-orang aniaya. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
(Q.S. Ibrahim:28)

Penulis: Dede Nurhasanah

Editor: Mumtazah Akhtar

 

Hits: 426

Dede Nurhasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *