MEMPUNYAI DARAH AHMADIYAH

Namaku Indri Dwiyanti. 1 Juni kemarin aku baru saja bai’at masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah, di usiaku yang baru menginjak 20 tahun.

Aku ingin menuliskan kisahku. Kisah perjalanan spiritualku yang mengantarkanku pada Jemaat ini. Entahlah, kadang hidayah datang bak rezeki, tak pernah disangka tapi begitu menenteramkan.

Sebenarnya, bapakku adalah Ahmadi keturunan. Sementara ibuku bukan. Tapi yang aktif dalam kegiatan Jemaat adalah nenekku. Tak hanya aktif, ia juga sebagai muhasil (juru pungut) candah, yakni jenis pengorbanan harta dalam Ahmadiyah.

Waktu kecil, nenek selalu mengikutkanku dalam acara-acara Jemaat. Dapat dikatakan nenek adalah Jemaat tulen. Sementara bapak, tak hanya tidak aktif dalam Jemaat, tapi juga masih enggan melaksanakan ibadah saat itu.

Tahun 2008 nenek meninggal. Tentu menyisahkan kesedihan mendalam bagi keluarga. Tapi bapak sama sekali tidak berfikir untuk berubah. Bapak tetap saja dengan keasyikannya larut dalam hiruk-pikuk dunia.

Kedua orang tuaku seringkali terlibat dalam pertengkaran. Karena ibu selalu menyuruh bapak untuk shalat tapi bapak selalu punya alasan untuk menolak.

Melihat pemandangan seperti itu membuatku jadi malas untuk beribadah. Meski sekolah ketat dengan urusan agama, tapi tak membuat untuk berubah.

Karena bagiku, shalat bukan sebatas aturan. Shalat butuh dorongan yang lahir dari dalam hati. Yang dapat memberikan rasa tenang saat menjalaninya. Dan itu tidak pernah aku temukan.

Pernah sekali waktu, saya diajak teman-teman untuk ikut dalam kegiatan Jemaat. Tapi saya bersikeras menolaknya. Karena memang sudah tidak ada alasan lagi saya untuk pergi kesana. Nenek sudah meninggal, bapak berkelana dalam kehidupannya yang jauh dari agama, juga suasana rumah yang membuatku makin jauh dari ibadah.

Saat itu, kedua orang tua “diam-diaman” selama tiga bulan. Padahal, orang tua tak semestinya begitu. Akupun jadi bingung harus berbuat apa.

Aku mencoba untuk shalat kembali. Perlahan tapi pasti aku mulai menguatkan kaki untuk berdiri, rukuk dan sujud di hadapan singgasana-Nya. Aku mulai mendoakan secara khusus untuk kerukunan keluargaku.

Aku amat berharap bapak bisa berubah. Bisa lebih mencintai istri dan anaknya. Juga bisa lahir kembali ghairat dalam hatinya untuk beribadah kepada Allah.

Saat itu, ibu sempat berfikir untuk berpisah karena melihat bapak yang tak kunjung berubah. Tapi rupanya, Allah sayang kami.

Dia mulai hidupkan api cinta ibadah kepada bapak. Akhirnya bapak mulai menunaikan kewajibannya untuk shalat. Entah kekuatan apa yang telah membolak-balikkan hatinya. Tapi aku yakin ini adalah jawaban Allah Ta’ala atas doa-doaku.

Saya terus belajar untuk ibadah dari nol. Selain shalat wajib, saya mulai menegakkan shalat sunnah, seperti dhuha dan istikharah. Semua saya pelajari lewat media daring.

Alhamdulillah, respon dari teman, keluarga hingga orang sekitar sungguh luar biasa.

Dan entahlah, serasa ada suatu kekuatan yang mendorong saya untuk mendekat lagi kepada Jemaat Ahmadiyah. Di saat saya mulai istiqamah dalam beribadah, di saat itu pula doronga untuk mendekat ke Jemaat makin besar.

Saya betul-betul terinspirasi oleh saudara saya yang dia adalah pengikut Ahmadiyah. Telah terjadi perubahan yang signifikan dalam dirinya. Hingga membuat saya makin tertarik untuk mendekat kepada Jemaat lebih dekat lagi.

Ibuku juga suka menceritakan mengenai sejarah Jemaat Ahmadiyah. Entah ia belajar dari mana. Tapi aku jadi lebih mengenal Jemaat dari ibuku yang masih seorang ghair-Ahmadi.

Pada tanggal 1 Juni 2020, yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, saya memohon izin ke ibu bahwa aku ingin menjadi seorang muslimah Ahmadiyah yang biasa disebut Lajnah Imaillah. Dan ibuku mengizinkan.

Akhirnya, saya bai’at pada hari itu. Saya kembali kepada salah satu bagian dalam sejarah keluarga kami. Masjid Baiturrahim Jelambar menjadi saksi bahwa hidayah datang begitu tiba-tiba. Saya sendiri masih belum percaya bahwa perjalanan spiritual saya akan berlabuh di tempat ini.

.

.

.

editor: Muhammad Nurdin

Hits: 30

Indri Dwiyanti

5 thoughts on “MEMPUNYAI DARAH AHMADIYAH

  1. Mubarak atas baiatnya saudariku terkasih yang telah dengan tabah dan sabar menghadapi masalah ketidakharmonisan kedua orang tua. Semoga baiatnya membuka jalan-jalan kesuksesan dunia dan akhirat. Aamiin.

  2. MasyaAllah…tak dipungkiri hidayah Allah swt masuk ke relung hati terdalam, bagi manusia yg membuka pintu ataupun celah hatinya…mubarak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories