MISKIN ITU SOAL MENTAL BUKAN NASIB

Hadhrat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah bersabda, “Siapa yang menjauhkan diri dari sifat suka mengeluh maka berarti ia mengundang kebahagiaan.”

Membaca beberapa riwayat para sahabat Nabi Saw yang di masa-masa awal Islam hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan, kadang melewati hari dengan tanpa makan, mereka mencoba untuk membenamkan rasa laparnya, dan berusaha untuk terus bertawakal kepada Allah.

Suatu hari Hadhrat Abu Hurairah ra tengah dilanda kelaparan. Beliau duduk di jalan dimana orang lalu Lalang. Lalu lewatlah Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau kemudian bertanya tentang suatu ayat yang sebenarnya ditujukan agar Abu Bakar mau menjamunya. Tapi Abu Bakar tidak membaca maksud halus tersebut.

Lalu datang Umar bin Khattab ra, beliau pun melakukan hal yang sama agar Umar mau menjamunya. Umar pun tak bisa membaca maksud halus tersebut.

Hingga datanglah Rasulullah Saw. Melihat Abu Hurairah tersenyum, Rasul sudah tahu bahwa beliau tengah kelaparan. Lantas diajaklah Abu Hurairah untuk menikmati susu satu mangkuk.

Mengeluh adalah respon alami manusia ketika berhadapan dengan situasi buruk yang merugikan lagi menyengsarakan kehidupannya. Responnya bisa dalam bentuk bahasa tubuh atau ujaran-ujaran yang bisa kita kenal dengan “menggerutu”.

Pembawaan alami ini telah digariskan dalam Quran Surah Al-Ma’arij ayat 20-21 bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpakan kesusahan maka ia berkeluh kesah.

Rasul Saw tidak suka dengan mereka yang banyak mengeluh. Itulah sebabnya beliau sering menasehatkan soal sabar dan ikhlas dengan tidak melupakan ikhtiar dalam bentuk bekerja keras.

Seorang sahabat Nabi yang kaya raya serta dermawan, Hadhrat Abdurrahman bin ‘Auf ra, ketika beliau hijrah ke Madinah, semua harta kekayaan beliau ditinggalkan di Mekkah. Beliau diikatkan tali persahabatan oleh seorang warga Madinah kaya raya, Hadhrat Sa’ad bin Rabbi.

Melihat Abdurrahman bin Auf yang tengah dilanda kesusahan, Sa’ad bin Rabbi menawarkan setengah kekayaan sebagai bentuk simpati. Anehnya, beliau menolaknya. Dan bertanya kepada Sa’ad bin Rabbi, dimana letak pasar?

Berniagalah Hadhrat Abdurrahman bin ‘Auf di pasar tersebut. Hingga menjadi seorang saudagar kaya raya yang demikian dermawan.

Spirit Islam tak pernah bisa lepas dari beberapa unsur ini. Pertama, jika ditimpakan musibah ia menjalaninya dengan sabar. Kedua, jika diambil sesuatu darinya dari apa-apa yang ia cintai, ia ikhlas menerimannya. Ketiga, jika ia mendapatkan kesempatan ia akan berusaha sekuat tenaga. Terakhir, ketika ia telah berusaha dengan maksimal, ia serahkan hasil akhirnya kepada Allah Ta’ala dengan doa dan tawakal.

Ketika semua telah dilakukan, tidak ada lagi celah untuk mengeluh. Karena mengeluh hanyalah sebuah pembenaran atas ketidakmampuannya mengelola masalah. Bukankah masalah adalah bagian yang tak bisa kita lepaskan dalam hidup ini?

Kemiskinan sebenarnya bukan soal kita punya uang berapa dan orang lain punya berapa. Ini cuma soal mentalitas. Ini cuma soal nilai-nilai yang kita pegang dan kita amalkan. Keyakinan kita lah yang akan membedakan siapa yang miskin dan siapa yang kaya.

Apa yang disampaikan Hadhrat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra diawal benar-benar menyadarkan kita bahwa untuk mengundang kebahagiaan maka tinggalkanlah keluh kesah.

Mengeluh takkan membawa perubahan apa-apa untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Jikapun keluhan kita didengar orang, dan mereka memberikan apa yang kita keluhkan. Itu takkan mengubah apapun, karena ini soal mental.

Hari ini mungkin tabungan kita sedikit. Tapi jika kita punya bekal mental pekerja keras yang tak pernah lupa bersyukur, ini hanya soal waktu yang akan membalikkan semuanya.

Adakah mereka yang berada di puncak karir, hidup bersahaja dan berkecukupan datang dari mereka yang gemar mengeluh dan kesulitan untuk bersyukur?

Hits: 131

Writer | Website

Sab neki ki jarh taqwa he, agar yeh jarh rahi sab kuch raha ~ Akar dari semua kebaikan adalah takwa, jika ini ada maka semua ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *