Muhasabah Diri: Akhiri Perbuatan yang Tidak Bermanfaat

Sebagai seorang Muslim, tentu kita harus berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu hal, menimbang apakah perbuatan yang kita lakukan akan mendatangkan kemaslahatan atau justru kemudharatan. Hadhrat Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah mengingatkan kita (umatnya) dengan sabdanya, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” (HR. At-Tirmidzi) 

Hadits di atas dianggap sebagai sepertiganya bagian dari Islam, karena mencakup beberapa aspek baik dari segi perbuatan maupun perkataan. Seperti tidak banyak berbicara yang tidak perlu, tidak berlaku aniaya yang nantinya bisa mendatangkan petaka, dan tidak berlaku berlebihan dalam hal apa pun. 

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita terbuai dan larut dalam perbuatan yang bersifat laghwu (sia-sia). Perbuatan yang sesering apa pun dilakukan, namun tak pernah menambah berat beban timbangan kebaikan kita. Bahkan malah sebaliknya, perbuatan tersebut perlahan-lahan menyeret kita mendekati api neraka. 

Dalam kesempatan mengikuti kajian online yang diselenggarakan oleh Komunitas Muslimah Tangguh, menurut seorang ulama, ada 10 macam perbuatan laghwu yang sering dilakukan manusia secara terus menerus. Salah satu diantaranya adalah berbuat tabzir (boros, menghambur-hamburkan) serta tidak menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Di zaman yang semakin modern ini, merek dagang dari bidang fashion yang harganya melambung tinggi semakin menarik minat kita untuk membeli. Tak sedikit orang rela memperketat anggaran makan demi menyisihkannya untuk ditabung dan dibelikan barang dambaannya itu. 

Tentu hal tersebut tidak diharamkan, namun Islam menegaskan untuk mendahulukan urusan ukhrawi ketimbang duniawi. Tidak pula ada yang salah dengan membeli pakaian bagus, karena Islam pun mencintai keindahan. Perbuatan konsumtif akan menjadi kurang tepat ketika demi mendapatkannya kita sampai mengurangi nominal untuk pengorbanan harta di jalan Allah (membayar candah) atau mengabaikan kerabat yang untuk mendapatkan sesuap nasi pun sulit. 

Allah Ta’ala telah memudahkan kita dalam mencari rezeki, dengan mudahnya Dia menaikkan pangkat dan pendapatan kita, tanpa harus kita keluarkan peluh karena segala bentuk adorasi. Namun kita sering berlaku sia-sia, melebihkan untuk membeli yang tidak bermanfaat hingga lupa untuk membelanjakan sebagian harta kita di jalanNya. Hobi mengoleksi barang yang tidak diperlukan ini sudah sepatutnya kita kikis, agar kita terhindar dari perbuatan yang tidak bermanfaat. 

Pada satu kesempatan, Huzur atba dalam khutbahnya menyampaikan sebuah kisah dari keluarga Arab yang kondisi ekonominya berada di bawah, namun mereka memiliki harapan dapat memberikan pengorbanan (membayar candah) secara maksimal. Mereka (suami-istri) bergelar Phd dan baru saja selesai menuntut ilmu, sehingga belum mendapatkan pekerjaan. Mereka Ahmadi baru (Mubayyin) namun mereka beserta kedua anaknya sangat condong pada Jemaat. 

Betapa sulitnya kehidupan yang harus mereka jalani, sehingga untuk makan pun, mereka meminjam pada kerabatnya. Hati mereka selalu gelisah karena mereka tidak dapat membayar candah. 

Mendengar itu, Huzur pun menasehatinya, “Berdasarkan kondisi Anda, apa yang bisa Anda berikan, atau apa yang Anda berikan, itu sudah cukup!” Namun mereka dengan tegas sekaligus pilu menjawab, “Sekarang saya tidak ingin tertinggal dari para Ahmadi lainnya dalam pengorbanan apapun.”

Huzur menambahkan, “Jadi, revolusi ini yang timbul setelah bai’at pada diri orang-orang yang beriman pada Hz. Masih Mau’ud a.s. setelah merasakannya, maka masalah menonjol-nonjolkan (pamer) pun tidak akan timbul. Bahkan yang ada adalah kegelisahan bahwa ‘Kami tidak memberikan pengorbanan, atau tidak mencapai standar pengorbanan yang kami inginkan.'”

MashaAllah, mendengar kisah yang membuat hati teriris ini rasanya seperti ditampar oleh kenyataan. Ketakwaan keluarga itu jelas sudah berada di titik yang tinggi, hingar-bingar duniawi nampaknya tak menarik mata dan pikiran mereka. Di masa-masa sulitnya, mereka hanya gelisah memikirkan cara agar dawam membayar candahnya. Rentetan hal-hal duniawi seakan sirna bagi mereka, bahkan kebutuhan primernya pun mereka kesampingkan. 

Rasa malu terasa menyelimuti kalbu, terus menerus membeli dan menumpuk hal yang tidak bermanfaat walaupun harganya jauh di atas pendapatan selalu diutamakan, namun selalu merasa berat dan menguranginya saat Allah hanya meminta 10% dari penghasilan. Astaghfirullahal’adziim! Semoga dengan membaca kisah keluarga luar biasa tersebut, kita dapat lebih memedomani dan mengamalkan anjuran Islam untuk mengedepankan agama dibanding dunia. Aamiin.

Hits: 219

Nurul Hasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories