PENAMPAKAN DUA ISTANA BIDADARI BERKAT TAHRIK JADID

Malam ini, tak bisa kupejamkan mata. Walau lampu telah padam, dan keheningan malam kian mencekam. Ada rindu memilukan, yang tengah aku rasakan.

Ibu dan Nenek, dua sosok wanita yang begitu kucinta, begitu istimewa, sandaran jiwa. Kepada merekalah rinduku tertuju. Hanya dalam hitungan minggu, keduanya pergi meninggalkanku. Membuatku tenggelam dalam rasa bersalah karena tak sempat bersua, walau keduanya dalam keadaan sakit kala itu.

Dan kini, kerinduan pun menghujam ulu hati.

Kadangkala, ketika rindu sudah di puncaknya, Allah berikan pelipur hati. Dia hadirkan berbagai mimpi, seolah-olah kita bisa bercakap-cakap selayaknya kehidupan di dunia. Alhamdulillah hal ini bisa menjadi penawar rinduku. Bahkan, tak jarang dalam mimpi, Ibu selalu memberikan nasehat yang selalu menguatkanku.

Seperti hari itu, satu hari di bulan Oktober, waktunya untuk perjanjian Tahrik Jadid. Aku sampaikan niatku pada suami, untuk mengikut-sertakan almarhum ibu dan nenekku dalam perjanjian. Suami pun tentu sangat setuju. Saat itu belum kami goreskan di kertas perjanjian karena kami baru berniat.

Malam harinya aku bermimpi. Ibu dan nenek datang menghampiri dan memelukku, dengan raut bahagia dan mata sedikit berkaca-kaca.

“Alhamdulillah, Nduk, kamu masih ingat pada kami. Terimakasih, Nduk, untuk semua yang kamu lakukan. Sebagai balasannya, ayo ikut kami! Akan kami perlihatkan tempat tinggal kami saat ini,” ajak mereka.

Dengan senang hati aku digandeng mereka berdua menuju tempat tinggal mereka saat ini.

MasyaAllah! Subhanallah! Benar-benar seperti sebuah istana yang bahkan belum pernah terlihat oleh mata di dunia nyata. Air mengalir, kedamaian, keindahan dan segalanya ada. Tidak dapat tergambarkan keindahan, namun sangat bisa untuk dirasakan.

Ibu dan nenek memang tidak tinggal dalam satu istana. Keduanya tinggal di dua istana yang berbeda, namun keduanya sama-sama penuh dengan kenyamanan. Ibu sampaikan kebaikan-kebaikan dan amalan-amalan yang harus dilakukan agar mendapatkan tempat terindah di singgasana-Nya.

Tempat itu begitu terasa istimewa. Rasanya tak ingin kumeninggalkannya. Namun, akhirnya Ibu mengakhiri perjumpaan kami. Beliau sampaikan, “Pulang lah, Nduk! Belum waktunya kamu di sini. Siapkan bekal yang banyak agar sama-sama kita nanti berada di sini. Ibu yakin kamu bisa.”

Aku terbangun dari tidur panjangku. Tubuhku basah oleh keringat. Akupun mulai mengingat-ingat, hal apa yang telah aku lakukan semenjak kepergian ibu dan nenek baru-baru ini. Alhamdulillah, malam ini aku mendapatkan mimpi yang begitu istimewa. Diberikan-Nya aku karunia dan kehormatan melihat singgasana keabadian-Nya.

Siang dan malam aku berdoa, Allah hadirkan mimpi juga. Namun itu masih hal yang biasa. Ketika berniat untuk mengikut-sertakan keduanya dalam perjanjian Tahrik Jadid bagi almarhum, hal itu ternyata begitu istimewa pengaruhnya.

Benar adanya bahwa amal Jariyah akan terus mengalir pahalanya. Sebuah amal jariyah yang bahkan layak mendapatkan ganjaran istana di surga-Nya.

Mengikut-sertakan nama alm. yang kita cintai dalam perjanjian ini, ternyata menjadi sebentuk hadiah tersendiri bagi mereka yang telah meninggalkan dunia. Buat kita mungkin terasa biasa saja. Tapi untuk mereka bisa menjadi hal yang istimewa.

Kepergian sosok yang kita cintai, pastilah meninggalkan kesedihan mendalam di hati. Tapi, cinta punya caranya sendiri dalam mengungkapkan diri. Perjanjian Tahrik Jadid ternyata bisa menjadi jembatan kasih kita dengan mereka yang telah tiada. Ia bisa menjadi sebentuk tanda cinta, walau raga tak lagi bersama.

.

.

editor: Lisa Aviatun Nahar

Hits: 39

Endah Fitri

14 thoughts on “PENAMPAKAN DUA ISTANA BIDADARI BERKAT TAHRIK JADID

  1. Subhanallah…
    Dan jalan amal jariah itu ada dalam Tahrik Jadid, yang belum tentu ada di tempat lain. Ini adalah karunia besar. Bagaimana mungkin orang yang sudah merasakan nikmatnya berkorban akan mengabaikan hal ini.

  2. Subhanallah, semoga kita selalu diberikan karunia utk selalu ikut serta dalam segala perjanjian dalam jemaat Illahi ini, Aamiin.

  3. MasyaAllah Tabarakallah…ana pun pernah merasakan kehilangan mendalam ketika ayahanda Rahimahulloh harus berpulang. Sangat menginspirasi, perjanjian tahrik jadid yg bs dirasakan di dua alam. Semoga kita selalu diberi kemudahan utk menjemput hidayah dan karunia Nya sehingga bs mjd bekal di akhirat kelak.Aamiin. Subhanaallah…Barakallahu fiikum💛

  4. MasyaAllah Tabarakallah…kesedihan mendalam jg pernah sya rasakan ketika kesayangan “ayahanda Rahimahulloh” berpulang. Dan tulisan ini sgt menginspirasi, bagaimana tidak ada sebuah perjanjian yg hikmah nya bs dirasakan di dua alam. Smg kita selalu diberi kemudahan utk menjemput hidayah dan karunia Nya sebagai bekal di akhirat kelak Aamiin. Barakallahu fiikun

  5. Aamiin. Jazakumullah say. Kehilangan yg tidak berujung, namun kita msh sllu ada harapan untuk bertegur sapa meskipun lwt mimpi. Obat rindu. Trmksh bu dosen, di sela2 kesibukan msh menyempatkan untuk meluangkan waktu membaca. 😍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories