
Ratu Tanpa Mahkota
Ketika wanita mengenakan sebuah mahkota, maka tentulah wanita itu memiliki derajat yang istimewa, tidak bisa disamakan dengan wanita pada umumnya. Karena mahkota merupakan sebuah simbol yang mencerminkan kehormatan, keindahan, kemegahan, kedudukan dan derajat yang tinggi dari pemakainya.
Namun apa yang terjadi, jika ada wanita yang menanggalkan mahkotanya? Bahkan tanpa ragu ia mencampakkan simbol kehormatan itu seperti barang yang tidak berharga, meskipun yang menganugerahkan mahkota itu adalah Wujud Pemilik alam semesta?
Melalui ajaran Islam, Allah telah menetapkan jati diri seorang wanita sebagai Muslimah. Muslimah merupakan gambaran keistimewaan wanita sebagai makhluk ciptaan-Nya dengan fitrat yang dipenuhi kelembutan, kasih sayang dan rasa malu. Oleh karena itulah, setiap wanita Islam layak menjadi sosok yang sangat dihormati, dimuliakan, dan ditinggikan derajatnya.
Untuk mengabadikan keistimewaan seorang wanita dalam Islam, Allah telah menurunkan surah khusus dalam Al Qur’an yang dikenal dengan surah An-Nisa. Di beberapa tempat lain dalam Al Qur’an pun, Allah Swt. membahas segala hal terkait aturan kehidupan wanita dari berbagai sisi, yang tidak akan ditemui pada kitab suci lainnya. Sehingga, apabila setiap wanita Islam mampu menerapkan ajaran Al Qur’an dengan baik dalam menjalani kehidupan dunia ini, ia akan layak menjadi ratu sesuai jati dirinya sebagai seorang Muslimah.
Seorang penulis ternama berpesan, “Hidup bukan tentang menemukan siapa dirimu, tapi menciptakan dirimu.” [George Bernard Shaw]
Allah telah menetapkan, Muslimah sebagai jati diri seorang wanita Islam. Maka menjadi kewajiban bagi setiap wanita Islam untuk menciptakan karakter yang sesuai dengan ajaran Islam dalam dirinya. Setiap wanita Islam tak perlu menghabiskan banyak energi untuk menemukan jati dirinya. Ia hanya perlu menampilkan karakter Islami sesuai tuntunan Al Qur’an sebagai perwujudan Muslimah sejati dalam setiap sisi kehidupan.
Namun saat ini, dunia dengan segala keindahannya yang fana telah mampu mengubah jati diri kebanyakan wanita Islam dengan begitu mudah. Iming-iming ketenaran, kemegahan, dan kenikmatan hidup yang ditawarkan dunia membuat wanita dengan rela menanggalkan mahkota sebagai perhiasan yang begitu berharga yaitu rasa malu.
Istilah-istilah zaman ini seperti, FOMO (Fear of Massing Out), YOLO (You Only Live Once), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinions) telah disalahartikan oleh kebanyakan kaum wanita kepada sisi negatif. Hal-hal tersebut memaksa kaum wanita untuk melakukan apa yang tak pantas ia lakukan, hanya demi mendapat pengakuan sebagai wanita paripurna di mata dunia.
Mereka menanggalkan rasa malu atas dasar kebebasan dan perkembangan zaman, mempertontonkan diri dengan cara yang tak pantas di berbagai sosial media untuk sebuah pengakuan akan keindahan. Bahkan, mereka mengabaikan tanggung jawab mereka sebagai Muslimah, demi mengikuti tren masa kini.
Seolah selama ini mereka tak tahu siapa dirinya, seolah tidak ada yang memberikan arahan dan mereka lupa betapa berharganya kedudukan mereka dalam agamanya. Mereka tidak menyadari, bahwa hilangnya rasa malu ini akan membawa dampak buruk bagi wanita itu sendiri, bahkan juga bagi anak keturunannya kelak.
Saat ini kaum wanita Islam seolah melupakan pesan mulia yang disabdakan oleh Rasulullah saw., “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah, hasan)
Dalam riwayat lainnya Rasulullah saw. bersabda, “Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya diangkat maka yang lainpun akan terangkat.” (HR. Al Hakim dalam Mustadroknya)
Kondisi yang sangat menyedihkan akan terpampang di depan mata saat seseorang sudah kehilangan rasa malu. Karena, bila rasa malu sudah terangkat maka iman pun perlahan akan lenyap. Maka hal apa lagi yang dapat diharapkan dari wanita demikian sebagai madrasah pertama bagi anak keturunannya?
Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah sejak belasan tahun lalu, dengan rasa kasih sayang dan perhatian beliau kepada kaum wanita, telah berpesan, “Kevulgaran membuat seseorang tak sedap dipandang, sementara hijab dan rasa malu memberikan kecantikan luar dalam dan menjadikan seseorang terlihat cantik.” (Khutbah Jumat disampaikan pada 15 Januari 2010 di Masjid Baitul futuh, London. Diterbitkan di Al Fazl Internasional, 5 Februari 2010)
Sebagai teladan dalam mempertahankan jati diri sebagai seorang Muslimah, hendaknya kita memperhatikan ketika sosok mulia Hazrat Fatimah r.a. menerapkan rasa malu dalam kehidupan hingga saat kewafatannya.
Diceritakan bahwa Hz. Fatimah r.a. meminta kepada Hz. Ali bin Abi Thalib r.a. untuk dibuatkan keranda sebagaimana pernah dicontohkan Hz. Asma’ binti Umais (istri Hz. Khalifah Abu Bakar r.a.) yang di atasnya ditutup dengan kain. Sehingga saat jenazah Hz. Fatimah r.a. diangkat, bentuk tubuhnya tidak terlihat, karena memelihara dan menjunjung tinggi rasa malu.
Sikap Qana’ah yang ditunjukkan oleh Hz. Fatimah r.a. yang begitu luar biasa dalam menjalani kehidupan rumah tangga pun hendaknya kita jadikan contoh untuk diamalkan. Karena salah satu jalan terbaik untuk mengendalikan diri dari rasa cinta terhadap dunia adalah sifat Qana’ah, sikap penuh kesederhanaan dan rasa syukur, sehingga kaum wanita dapat terselamatkan dari hasrat duniawinya.
Beberapa waktu lalu, Imam Jamaah Ahmadiyah, memberikan pesan khusus pada kaum wanita agar dapat menciptakan sifat Qana’ah, sebagai salah satu jalan terbaik untuk menjaga anak keturunannya.
Huzur aba. menyampaikan:
“Di zaman ini, orang-orang sedemikian rupa mencari nafkah, sehingga melupakan tanggung jawab mereka kepada anak, bahkan mereka tidak sempat sekedar menanyakan kabar. Jika mereka (orang tua, khususnya para istri/ibu) bersikap Qana’ah merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan, mereka akan menganggap anak sebagian harta terbaiknya.”
“Berupayalah untuk menciptakan hubungan yang hidup dengan Allah Ta’ala, tidak hanya itu, bahkan jalinkanlah anak-anak dengan Allah Ta’ala. Ini akan terjadi hanya jika anda memiliki hubungan persahabatan dengan anak-anak anda, jadilah teladan terbaik bagi mereka, supaya tercipta hubungan khas antara mereka dengan Allah Ta’ala.” (Pidato Hz. Mirza Masroor Ahmad aba di Jalsah Gah Wanita, Jalsah Salanah UK, 2024)
Karenanya, wahai kaum wanita Islam, peliharalah rasa malu itu pada diri kita sebagai sebaik-baik perhiasan bagi seorang Muslimah, wanita yang mulia dan pantas untuk dimuliakan. Sungguh, rasa malu itu lebih berharga jika dibandingkan dengan mahkota yang terbuat dari emas permata.
Jangan sampai rela mencampakkan rasa malu, hanya demi sesuatu yang tak bernilai pada pandangan Allah. Semoga kita terhindar dari segala keburukan tersebut dan semoga kita bukanlah termasuk dari wanita yang bergelar ratu tanpa mahkota, karena telah kehilangan rasa malunya.
Views: 210