MASIH SANGGUP BERJUANG DI USIA SENJA

“Krekeeett…” Pintu tua yang reot itu berdecit. Seorang nenek dengan langkah gontai yang ditopang kayu berjalan keluar.

Pagi itu cerah. Mentari mengintip di balik bukit. Sinarnya menembus dahan-dahan dan dedauanan. Angin laut yang sedari malam terus menggigit kulit mulai sirna diterpa kehangatan matahari.

Nenek dengan langkah gontai tadi bernama Surya. Usianya tak lagi muda. Bahkan sudah terlalu tua untuk ukuran manusia di akhir zaman ini. Bukankah 80 tahun sudah cukup tua?

Nenek Surya harus menambah satu kaki lagi untuk menopang langkahnya yang sudah timpang. Meski langkahnya gontai, dengan tubuh yang mulai membungkuk. Nenek Surya seperti tak pernah kehabisan energi dan harapan.

Nenek tua yang hidup di jaman kolonial Belanda itu sedang mempersiapkan dagangannya. Jagung depan rumah yang sudah dipanen mulai masuk dalam sebuah bakul yang terbuat dari daun lontar.

Bakul besar itu tak digendongnya. Tapi pikul di atas kepalanya. Langkahnya
memang tak sempurna, tapi keseimbangan kepalanya begitu sempurna. Ia berjalan menyusuri jalan. Menuju pasar yang hanya ada seminggu sekali di kampung ini.

Saat ditanya, kenapa nenek di usia senja ini masih juga berkebun dan menjual hasil kebunnya sendiri? Nenek tua itu menjawab dengan sangat sederhana sekali, “Nenek tidak mau mengandalkan keluarga saja. Selama masih bisa berjalan, nenek akan terus bekerja, walau sekedar mencabut rumput depan rumah.”

Sebenarnya, nenek Surya tak perlu khawatir soal kehidupannya di usia senja. Karena anak dan cucunya pun siap untuk melayani. Sehingga, nenek tua itu tak perlu lagi memikul bakul besar dengan kepalanya ke pasar.

Tapi, ini bukan soal kasihan-mengasihani. Ini adalah soal semangat hidup. Pribadi seperti Nenek Surya adalah seorang wanita yang terbiasa dengan perjuangan hidup yang keras.

Hidup di pedalaman Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Mengandalkan kehidupan dengan mencari kemiri di hutan yang terletak di pegunungan. Juga tanam jagung di saat musim penghujan. Tentu semua ini menempa seorang Nenek Surya untuk hidup di atas kaki sendiri.

Belum lama ini viral. Seorang ibu di Alor bernama Salomi. Ia menolak bantuan paket sembako dari Pemerintah lantaran ia merasa sudah Tuhan beri sepuluh jari untuk dimanfaatkan.

Nusa Tenggara Timur memang daerah yang cukup jarang mendapatkan bantuan dari Pemerintah. Infrastruktur disana masih sangat minim dibanding di Jawa.

Pertanian dan perkebunan disana juga masih menggunakan cara-cara lama yang sudah ditinggalkan di era modern. Tapi itulah yang membuat mereka kuat. Karena mereka bisa bertahan dengan segala keterbatasan itu.

Sang Surya mulai naik ke ubun-ubun. Membuat Nenek Surya pun memutuskan untuk pulang. Tak banyak yang didapat hari ini. Sebab, memang segitulah yang biasa didapat.

Tapi, ini bukan soal banyak atau sedikit. Ini adalah soal sikap kita atas setiap rezeki yang Tuhan beri. Nenek Surya masih tetap menyisihkan sepersekian persennya untuk agama.

Ia tak pernah takut miskin. Sebab, miskin harta tak lebih susah dari miskin jiwa. Ya, jiwa yang selalu terpaut pada-Nya. Sebab Dia-lah alasan utama Nenek Surya bertahan sampai kini.

Angin laut di teluk Kalabahi menghembus lembut. Menyejukkan pesisir Alor Barat Daya. Terdengar teriakan seorang cucu Nenek Surya, “Nek… Doa… Doa..”

Rupanya, ada pemotongan kambing sebagai tolak bala untuk perlindungan dari serangan Covid-19. Juga sebagai ungkapan syukur, besok Ramadhan tiba.

Hits: 46

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories