Mencari Validasi Hanya dari Allah Ta’ala

Hidup sebagai makhluk sosial mendorong kita untuk terus berinteraksi di setiap saat. Karena tanpa bisa dipungkiri, interaksi yang kita lakukan akan memperluas lingkaran pertemanan sehingga banyak sekali peluang-peluang keuntungan yang tidak kita sadari.

Seperti misalkan ketika kita sering berinteraksi dengan orang-orang yang senang menulis, maka kita akan menemukan ilmu-ilmu tentang menulis. Atau bahkan, kita mulai menambah skill dengan mencoba menulis pada genre-genre lain.

Ini menjadi arti bahwa ternyata interaksi membawa diri kita menjadi orang yang dinamis. Kita mampu ikut mengalir dengan apa yang ada di sekitar kita.

Namun kadang, karena kita sering merasakan benefit dari terbangunnya hubungan dengan orang lain, kita mulai melakukan hal-hal di luar batas karena takut rasa percaya orang lain kepada kita menghilang.

Salah satu sifat yang sering kita tidak sadari adalah kita menjadi seorang penjilat. Demi mempertahankan atau memperluas lingkaran pertemanan, kita akan berusaha banyak melakukan hal yang disenangi orang lain walaupun itu salah.

Seperti dalam suatu kisah. Suatu ketika Abu Nawas diundang oleh Khalifah Harun Al Rasyid untuk mengikuti pertemuan di istana bersama para menteri yang memiliki kinerja yang buruk dan cenderung penjilat. Sebelum pertemuan laksanakan, Abu Nawas dipanggil menghadap Khalifah.

“Wahai, Abu Nawas. Maukah kau aku beri tugas?” tanya Khalifah. Abu Nawas menyatakan kesediaannya. “Apa hukumannya kalau kau gagal dalam melaksanakan tugas?” desak Khalifah. “Aku siap dihukum 10 kali cambukan,” ujar Abu Nawas.

Khalifah pun memerintahkan kepada para dayangnya untuk mempersiapkan pakaian mewah seperti anggota istana kepada Abu Nawas. Pertemuan akan dilaksanakan keesokan harinya. Abu Nawas muncul di tengah pertemuan dengan berpakaian ala istana, kecuali pecinya yang kumal dan lusuh.

“Wahai, Abu Nawas. Mengapa di acara terhormat seperti ini kau pakai peci kumal?” tegur Khalifah. “Asal tahu saja Khalifah, peci yang saya pakai ini wasiat dari ayahku. Bagi siapa yang tidak pernah maksiat, ia akan mampu membuka peci ini dan merasakan harumnya bau surga,” ujarnya. Sang Khalifah pun memerintahkan menteri di sebelah kanannya untuk membuka peci Abu Nawas.

Menteri itu segera memenuhi perintah Khalifah dan segera membukanya dengan perasaan gemetar. Tidak ada bau surga di dalam peci itu kecuali bau busuk yang menyengat. Tapi, menteri menutupi kebohongannya dan berpura-pura di hadapan Khalifah.

“Benar, Tuan! Bau surga di peci itu harum sekali,” ujarnya. Khalifah manggut-manggut percaya. Tidak cukup dengan pengakuan sang menteri ini, Khalifah Harun al Rasyid memerintahkan menteri yang duduk di sebelah kiri untuk melakukan hal serupa.

Ia juga tak mencium bau harum surga, sebaliknya malah bau busuk yang menyengat. Tapi, ia juga berpura-pura dan mengatakan bahwa baunya harum sekali.

Makin bertambah penasaran sangat Khalifah. Lalu ia sendiri berusaha membuka peci Abu Nawas. Namun, tak lama setelah membukanya, Khalifah langsung melepaskannya. Ia marah kepada Abu Nawas dan kedua menterinya yang tak jujur. Ia pun memerintahkan kedua menterinya itu dipecat. Abu Nawas, karena berbohong, dihukum dengan 10 kali cambukan.

Dari kisah ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sering sekali kita lebih memilih melakukan hal yang menyimpang untuk memvalidasi perasaan orang lain. Para menteri tersebut lebih memilih untuk berbohong di hadapan Abu Nawas karena gambaran kemewahan dari penampilannya. Tapi hal tersebut justru mendatangkan hal lebih buruk dari Khalifah Harun Al Rasyid.

Dan seperti itulah kita di dunia nyata. Kita pun sering lebih memilih melakukan dosa untuk meraih keuntungan dari orang lain. Kita melupakan bahwa sikap menyimpang itu akan mendatangkan kemurkaan dari Allah Swt.

Kita tahu pasti bahwa berbohong adalah hal yang salah dan dibenci Allah Swt. Namun karena kita lebih mementingkan penilaian manusia, kita terperosok dalam kemurkaan Allah Swt. padahal memprioritaskan Allah Swt. itulah yang lebih utama.

Sebagaimana sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s.:
“Janganlah cemas akan kutukan dunia, sebab kutukan itu lama kelamaan akan hilang dengan sendirinya laksana asap menipis dan hilang di udara. Tetapi, kamu harus takut kepada kutukan Tuhan yang turun dari langit, kutukan yang jika menimpa seseorang akan menjadikan ia binasa di dalam kedua alam (yakni di alam dunia ini dan di alam akhirat nanti).”

Visits: 129

Renna Aisyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *