SEMPAT DIANGGAP GILA, MBAH SADIMAN KINI JADI PAHLAWAN

Seorang tokoh revolusioner adalah orang yang selalu dianggap gila oleh kaumnya. Idenya dianggap sebagai mimpi di siang bolong. Gagasan dipahami sebagai yang mustahil untuk dilakukan.

Itulah mengapa, seorang revolusioner sangat langka di dunia ini. Karena, cuma mereka yang mau menerobos sekat-sekat kenyamanan hidup. Cuma mereka yang mau bersusah payah melakukan perubahan yang terlihat mustahil.

Seorang kakek tua renta bernama Sadiman telah membuktikannya. Ia dianggap gila oleh masyarakat lingkungannya akibat “ide gilanya”.

Ia mengungkapkan, awalnya ia sangat terpukul dan sedih melihat bagaimana reaksi masyarakat sekitar atas ide mulianya. Bagi masyarakat, bukan seberapa mulia sebuah gagasan, tapi mungkin atau tidak itu bisa dilakukan.

Mbah Sadiman memilih untuk mengambil sisi mulianya. Ia tak peduli seberapa kecil kemungkinan itu bisa dilakukan. Baginya, mengedepankan ikhtiar lebih utama ketimbang menunggu Tuhan yang turun tangan sendiri.

Mbah Sadiman adalah sosok yang mencintai lingkungan. Ia sedih melihat keadaan lingkungan dimana ia tinggal. Lereng Gunung Lawu, menjadi saksi tekad kuat selama puluhan tahun untuk mengembalikan keasriannya.

Saat musim kemarau tiba. Desa tempat tinggalnya menderita kekeringan. Sungai kering. Mata air tidak ada. Para petani tak bisa bercocok tanam. Begitu terus sampai orang-orang terbiasa menghadapi semua itu.

Sejak tahun 1996, ia memulai gerakan penghijauan di lereng Gunung Lawu. Ia melakukannya sendiri. Dengan biaya sendiri. Tak mengharapkan apapun dari siapapun atas ide gilanya ini. Bahkan ia harus berlapang dada, jika yang ia dapat setiap hari adalah ejekan.

Mbah Sadiman adalah orang yang sangat konsisten. Sangat langka menemukan manusia yang secara konsisten menanam dan merawat 11.000 pohon di atas lahan seluas 250 hektar sendirian, dengan kocek sendiri, selama 23 tahun.

Kalau bukan karena “cinta” takkan membuat si Mbah segila itu. Cinta lah yang mendorong Mbah Sadiman melakukan ikhtiar penuh kemustahilan itu.

Cinta lah yang membenamkan kebenciannya atas umpatan orang-orang yang tidak percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

 Dan, hasil akhir takkan pernah mengingkari proses panjang yang melelahkan. Orang yang dianggap gila dulu, kini berhasil membantu 340 keluarga mendapatkan air jernih secara cuma-cuma. Bahkan saat musim kemarau tiba, air tetap melimpah ruah.

Sebab, tanaman yang dipilih untuk ditanam oleh Mbah Sadiman adalah pohon beringin yang akar-akar menghujam sampai ke bawah. Sehingga, mampu menampung air dan menciptakan mata air di bawahnya.

Atas kerja keras yang menginspirasi ini, Mbah Sadiman mendapatkan penghargaan dari BNPB sebagai tokoh inspiratif Reksa Utama Anindha (Penjaga Bumi yang Penuh Kebijakan).

“Dulu, saya dinggap gila. Ketika masyarakat yang lain menanam tanaman pangan, saya malah menanam pohon beringin. Tapi sekarang, apa yang saya tanam itu bisa menghasilkan air untuk warga dan udara menjadi sejuk,” ungkap Mbah Sadiman.

Hits: 407

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories