DUA HARI KEHIDUPAN ANTARA NIKMAT DAN UJIAN
Bagaimana jika kebahagiaan yang kita rasakan hari ini sebenarnya adalah ujian, dan kesulitan yang kita hindari justru menjadi jalan menuju kebaikan?
Kehidupan tidak pernah berjalan dalam satu warna. Ia berganti, berputar dan mengajarkan makna melalui dua sisi yang saling berlawanan. Sebagaimana ungkapan penuh hikmah dari Ali bin Abi Thalib:
“Kehidupan itu cuma dua hari, satu hari berpihak kepadamu dan satu hari melawanmu. Maka pada saat ia berpihak kepadamu, jangan bangga dan gegabah dan pada saat ia melawanmu bersabarlah. Karena keduanya adalah ujian bagimu.”
Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan cermin dari hakikat kehidupan yang sesungguhnya bahwa setiap keadaan, baik maupun buruk, adalah ujian dari Allah Ta’ala.
Ketika kehidupan berpihak kepada kita dengan rezeki yang dilapangkan, urusan dimudahkan dan hati dipenuhi kebahagiaan sering kali manusia terlena. Rasa bangga muncul bahkan tanpa disadari berubah menjadi kesombongan. Padahal Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Dan jika Kami berikan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, kemudian Kami cabut kembali darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” [1]
Nikmat bukanlah tanda kemuliaan mutlak melainkan ujian, apakah kita bersyukur atau justru lalai? Sebaliknya ketika kehidupan seakan melawan, kesulitan datang silih berganti, harapan terasa jauh dan langkah terasa berat disitulah kesabaran diuji. Tidak semua orang mampu bertahan tanpa mengeluh, tidak semua hati mampu tetap teguh tanpa goyah. Namun bagi mereka yang bersabar Allah Ta’ala telah menyiapkan balasan yang tak ternilai.
Hadhrat Rasulullah saw. pun mengajarkan keseimbangan dalam menyikapi dua keadaan ini. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” [2]
Inilah puncak kedewasaan iman, ketika seseorang tidak terombang-ambing oleh keadaan. Tidak menjadi sombong saat berada di atas dan tidak terpuruk saat berada di bawah. Ia memahami bahwa kehidupan bukan tentang menang atau kalah melainkan tentang bagaimana ia bersikap dalam setiap keadaan.
Maka janganlah terlalu larut dalam kegembiraan hingga lupa diri dan jangan pula tenggelam dalam kesedihan hingga hilang harapan. Karena di balik setiap ujian, Allah Ta’ala sedang mendidik jiwa, menguatkan iman dan menuntun langkah menuju kedewasaan spiritual.
Referensi:
[1] QS. Hud 11: 10
[2] HR. Muslim
Views: 18
