RIDA ORANG TUA, KUNCI RIDA ALLAH: BAKTI YANG MEMBUKA PINTU BERKAH
“Sekali lagi, saya harus menyatakan bahwa apa yang saya capai hari ini merupakan berkah dan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa dan kekuatan doa dari Sang Ibu sangat luar biasa terhadap kesuksesan yang saya raih hingga detik ini.” [1]
Chairul Tanjung, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian tahun 2014, merupakan pengusaha ulung, pemilik dan CEO CT Corp, juga salah satu orang terkaya di Indonesia, menyatakan bahwa kesuksesan yang dicapainya hingga hari ini adalah berkat doa-doa orang tua, salah satunya doa Sang Ibu, Halimah.
Doa yang senantiasa dipanjatkan sang ibunda tentulah bentuk keridaan orang tua terhadap anaknya. “Rida Allah terdapat dalam rida orang tua, dan murka Allah terdapat dalam murka orang tua.” [2] Bukan sekadar slogan, tapi kompas hidup yang diajarkan Rasulullah SAW. Saat kuliah di FKG UI dan kesulitan ekonomi menghimpitnya, Chairul Tanjung senantiasa berusaha keras untuk tidak merepotkan orangtuanya dan membiayai kuliahnya sendiri. Bahkan, saat kesuksesan telah digenggamnya, baktinya kepada ibundanya tidak pernah pudar. Saat kesibukan luar biasa, beliau tetap menemani dan senantiasa memeluk sang ibu dalam perjalanan menunaikan ibadah haji.
Dalam Islam, kedudukan orang tua sangat tinggi, bahkan keridaan Allah dikaitkan langsung dengan keridaan orang tua. Dengan bersikap santun, membantu kebutuhan mereka, menjaga ucapan, dan mendoakan mereka setiap hari, kita bukan hanya membalas jasa yang tak terbalaskan, tetapi juga membuka pintu keberkahan hidup.
Kisah Uwais Al Qarni, menjadi kisah legendaris mengenai turunnya rida Allah Taala berkat rida dari orang tua. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya yang tua dan lumpuh sebagai bentuk cinta dan bakti. Ketika sang ibu ingin menunaikan ibadah haji, Uwais rela menempuh perjalanan yang sulit dari Yaman menuju Mekah dengan berjalan kaki sambil menggendong ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.
“Ya Allah, ampunilah semua dosa ibu,” kata Uwais.
‘Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang ibu dengan keheranan.
Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah rida dari ibu yang akan membawaku ke surga.”
Begitu istimewanya Uwais hingga Rasulullah SAW mengatakan kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.” [3]
Dari dua kisah di atas, kita dapat memahami bahwa anak yang memuliakan orang tuanya akan dimudahkan rezekinya, ditenangkan hatinya, dan diangkat derajatnya, karena doa tulus dari orang tua adalah salah satu doa yang jarang tertolak.
Lantas bagaimana jika orang tua yang menjadi sumber keridaan telah tidak ada di dunia ini? Rasulullah SAW bersabda, “Iya, ada empat perkara: mendoakan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji mereka, memuliakan sahabat mereka dan menyambung silaturahmi yang tidak tersambung kecuali melalui keduanya.” [4] Dengan menjaga akhlak dan nama baik mereka, pahala terus mengalir kepada orang tua, dan insya Allah rida mereka tetap kita raih meski mereka telah tiada.
Di era digital sekarang, hal-hal yang tampaknya sepele, justru dapat menjadi jalan untuk meraih rida dari orang tua. Lakukanlah cara-cara kekinian tapi tetap esensial, seperti me-reply chat orang tua dengan cepat dan jelas, bertanya tentang keadaan mereka saat tinggal berjauhan, quality time mengobrol tanpa HP, menemani dan membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, atau berangkat bersama menghadiri majelis ta’lim. Bahkan, bisa juga membuat konten kebaikan yang bisa mengingatkan circle kita akan pentingnya meraih rida orang tua.
Sikap bakti kepada orang tua menjadi bukti nyata keimanan kita, dari mendengar nasihat tanpa membantah, merendahkan suara di hadapan orang tua, hingga mendahulukan kebutuhan mereka di tengah kesibukan aktivitas kita. Ketika orang tua dimuliakan dengan hati yang tulus, sejatinya kita sedang mengetuk pintu rida Allah Ta’ala; karena doa, senyum, dan restu orang tua-lah yang membuka jalan keberkahan, ketenangan, dan kemudahan hidup yang kita cari selama ini.
Referensi:
[1] Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong, halaman 165
[2] HR. Tirmidzi
[3] https://jateng.nu.or.id
[4] HR. Abu Dawud no. 5142 & Ibnu Majah no. 3664
Views: 12
