CUKUP ALLAH SEBAGAI SANDARAN: KETENANGAN JIWA DI TENGAH UJIAN
Pernahkah merasa lelah sendiri? Seakan semua beban hanya di pundak kita dan jalan keluar tidak terlihat. Harapan rasanya makin jauh. Di titik itu, kita sering bertanya, “Sebenarnya mau berpaling ke mana lagi?” Siapa lagi yang bisa dipegang?
Terkadang kita lupa, kita menaruh kecemasan karena terlalu berharap pada jabatan, harta, hubungan, atau kemampuan diri sendiri. Saat hal itu goyah, hati pun ikut goyah dan kehilangan arah.
Padahal, ada satu pertanyaan indah yang Allah Ta’ala tujukan untuk setiap hati yang sedang gundah, “*Tidakkah Allah cukup bagi hamba-Nya?*”
Coba kita lihat kisah seorang ibu rumah tangga bernama Sakinah.
Sakinah adalah ibu rumah tangga biasa dengan empat anak. Dulu dia dikenal ramah, baik, dan sukses menjalankan bisnisnya bersama suaminya. Namun, setelah suaminya meninggal, hidup Sakinah runtuh seketika. Ujian datang bertubi-tubi, usahanya bangkrut perlahan-lahan.
Suatu hari, dia nekat datang kepada rekan bisnisnya. Dalam hati dia yakin, teman lamanya ini pasti akan membantunya karena selama ini mereka berhubungan baik sebagai rekan bisnis. Tetapi harapannya sirna. Rekannya itu malah ragu dengan kemampuan Sakinah, apalagi melihat kondisinya yang sekarang sendirian.
Sakinah mulai putus asa. Hidup yang dulu terasa mudah, sekarang berbalik seakan tidak ada jalan yang terbuka untuk bangkit kembali. Teman-teman yang dulu dekat, satu per satu menjauh.
Hari demi hari hatinya semakin terasa sesak. Suatu malam dia merenung dalam keheningan dan berbisik lirih,
“Ya Allah, aku harus minta tolong ke mana lagi?”
Akhirnya, Sakinah memutuskan pergi ke rumah bibinya. Jalannya terasa berat, pikirannya penuh gelisah. Dia berharap sang bibi bisa memberikan pencerahan karena dia tahu bibinya dulu juga pernah mengalami hal serupa.
Begitu sampai, Sakinah mengutarakan segala kegundahan yang ada dalam hatinya. Sang bibi mendengar dengan sabar, lalu menunjuk ke sebuah kaligrafi di dinding yang bertuliskan, “*Alaisallahu Bikafin ‘Abdah*”.
“Nak, kamu tahu artinya?” tanya bibi. “Ini artinya, ‘Tidakkah Allah cukup bagi hamba-Nya?’ Ayat inilah yang menjadi pegangan bibi sampai sekarang. Dulu, waktu pamanmu meninggal, bibi juga merasa hancur seperti kamu sekarang. Tetapi kalimat ini terus bibi pegang erat. Jangan pernah putus asa, Nak. Dekat dengan Allah Ta’ala, jangan ditinggalkan. Berdoalah dan yakinlah, hanya Allah Ta’ala yang cukup menjadi penolongmu.”
Nasihat itu langsung mengenai hati Sakinah. Dia sadar, tidak ada penolong yang lebih baik dari Allah Ta’ala. Satu-satunya tempat untuk bersandar saat sedang susah. Perlahan, kegelisahan yang selama ini menghantuinya mulai reda.
Sakinah pun berbenah. Dia memperbaiki hubungannya dengan Allah Ta’ala yang mungkin selama ini terasa jauh. Dia mulai yakin, di balik setiap ujian, pasti ada hikmah yang tersembunyi.
“*Alaisallahu Bikafin ‘Abdah*” bukan sekadar rangkaian kata indah, tetapi pengingat bahwa sumber kekuatan yang hakiki hanya datang dari Allah Ta’ala—Tuhan semesta alam yang selalu menjaga, melindungi, mencukupi kebutuhan kita, dan membukakan jalan keluar dari setiap masalah.
Memang, masalahnya tidak akan lenyap dalam sekejap. Tetapi yang berubah adalah perasaan kita. Rasa gundah, putus asa, dan gelisah perlahan diganti dengan hati yang lebih tenang dan lapang.
Perlu diingat, kata “cukup” di sini bukan berarti kita bebas dari ujian. Namun, kita yakin tidak pernah sendirian saat menghadapinya. Allah Ta’ala yang memberi ujian, pasti Allah Ta’ala juga yang menyiapkan kekuatan untuk kita lewati.
Pada akhirnya, ketenangan dan kebahagiaan sejati tidak terletak pada jabatan tinggi, harta melimpah, atau banyaknya teman. Semua itu sifatnya sementara. Yang membuat hati benar-benar tenang adalah keyakinan bahwa Allah Ta’ala selalu bersama hamba-Nya. Jika sandaran utama kita hanya Allah Ta’ala, kita akan tetap bersyukur, tetap optimis, dan kuat menghadapi cobaan apa pun.
Jadi, mari kembali bersandar kepada-Nya. Karena tidak ada sandaran yang lebih kokoh, tidak ada penolong yang lebih setia, dan tidak ada kasih sayang yang lebih tulus selain Allah Ta’ala.
Semoga kita semua termasuk hamba yang selalu merasa cukup bersama Allah Ta’ala, tenang saat ujian datang, dan selamat di dunia sampai akhirat. Amin.
Views: 39
