Cara Bijak Menghadapi Masalah

Di sebuah desa kecil hiduplah seorang pemuda bernama Arga. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi seorang pengrajin kayu terbaik. Suatu hari ia mendengar kabar bahwa di balik sebuah bangunan tua terdapat ruangan yang menyimpan berbagai alat ukir terbaik yang dapat membantu siapa saja menjadi ahli.

 

Dengan penuh semangat, Arga pergi ke bangunan itu. Namun, sesampainya disana, ia hanya melihat sebuah dinding batu yang sangat kokoh. Ia yakin bahwa harta itu berada di balik dinding tersebut.

 

Hari demi hari ia memukul dinding itu dengan palu. Minggu berganti bulan, tenaganya terkuras, tangannya terluka, dan waktunya habis. Orang-orang yang lewat menyarankan agar ia mencari jalan lain, tetapi Arga selalu menjawab, “Kalau aku terus memukulnya, suatu hari nanti dinding ini pasti berubah menjadi pintu.”

 

Sementara itu, seorang perempuan tua yang juga ingin menemukan ruangan tersebut memiliki cara berbeda. Ia mengamati bangunan itu dengan teliti. Ia berjalan mengelilinginya, memperhatikan setiap sudut, hingga akhirnya menemukan sebuah pintu kecil yang tertutup semak-semak di sisi belakang bangunan.

 

Pintu itu memang tidak mudah ditemukan, tetapi ketika dibuka, ruangan yang selama ini dicari ternyata benar-benar ada di dalamnya.

 

Arga yang melihat perempuan itu keluar membawa berbagai alat ukir merasa kecewa. Ia sadar bahwa selama berbulan-bulan ia telah menghabiskan waktunya untuk melawan sesuatu yang tidak akan berubah, padahal jalan masuk yang sebenarnya sudah ada sejak awal.

 

Sejak hari itu, Arga mengubah cara berpikirnya. Ketika menghadapi hambatan, ia tidak lagi memaksakan satu cara. Ia mulai belajar, bertanya kepada orang lain, mencoba pendekatan baru, dan berani mengubah arah ketika diperlukan. Perlahan-lahan usahanya membuahkan hasil. Ia pun menjadi pengrajin kayu yang terkenal, bukan karena keras kepala, melainkan karena bijaksana dalam memilih jalan.

 

Ia kemudian berkata kepada murid-muridnya,

 

“Bukan semua dinding harus dihancurkan. Ada kalanya kita hanya perlu berhenti memukulnya, lalu mencari pintu yang memang sudah disediakan.”

 

Didalam kehidupan nyata sering kali kita merasakan kebahagian dan kesedihan, kadang kesedihan yang diiringi dengan kesulitan membuat kita hampir menyerah dengan apa yang kita hadapi.Tetapi, Allah memerintahkan kita untuk selalu tawakal kepadaNya. Allah tidak akan mengubah suatu keadaan jika kita tidak merubahnya. Jika kita menemukan hambatan disatu cara, maka kita harus mencari cara lain untuk memecahkan hambatan itu.

 

“Jangan Habiskan Waktumu Memukuli Dinding dan Berharap Bisa Mengubahnya Menjadi Pintu”

 

 

Views: 26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *