Menjadikan Kejujuran sebagai Pondasi Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari
Indonesia kini sedang darurat kejujuran, kasus korupsi yang selalu kita dengar dari berita-berita sering berseliweran di setiap medsos kita. Apakah memang segawat inikah keadaan negara ini? Apa yang menyebabkan semua ini terjadi? Apakah fenomena ini bisa dicegah agar tak menjadi budaya? Banyak pertanyaan di benak kita yang mempertanyakan semua hal ini, namun terkadang sebagai rakyat kecil, kita seringkali hanya bisa mengusap dada tanpa bisa berbuat apa-apa.
Hadhrat Rasulullah saw. dengan gelarnya sebagai Ash-Shiddiq yakni orang yang jujur/benar atau gelarnya sebagai Al Amin yakni dapat dipercaya, seharusnya bisa menjadi teladan bagi kita umat Islam untuk meneladani setiap langkah perilaku beliau. Beliau saw. dikenal sebagai pedagang yang sangat jujur bahkan beliau memberi tahu harga modal barang yang beliau jual dan memberikan kebebasan kepada pembeli untuk memberikan berapa kelebihan yang akan diberikan sebagai imbalan kepada pedagang. Jika hal ini diterapkan di zaman sekarang, tentu kabar korupsi yang marak terjadi tak akan pernah ada. Hal ini membuktikan bahwa bangsa ini telah kehilangan pondasi akhlak yang sangat penting yakni kejujuran.
Dalam kehidupan berbangsa, di dalam sejarah juga dikatakan bahwa bangsa ini sebenarnya tak pernah kehilangan sosok orang yang jujur seperti seorang polisi Hoegeng Imam Santoso, di masa hidupnya pak Hoegeng dikenal sebagai polisi yang jujur dan paling berani karena dia tak pandang bulu dalam mengungkap kasus termasuk kasus korupsi yang melibatkan para petinggi elit politik pada masa itu. Bahkan presiden RI yang ke 4 ,Bapak Gusdur pernah berseloroh bahwa hanya ada 3 polisi jujur yakni polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng.
Selain itu ada juga tokoh nasional yakni Bung Hatta terkenal dengan kutipannya yakni:
“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.”
Pernyataan yang terkenal dari seorang tokoh di masa lampau menunjukkan bahwa dimanapun kita berada, di zaman apakah itu nyatanya kejujuran merupakan pondasi utama penegak akhlak kepribadian manusia. Bung Hatta tentu menyampaikan pernyataan tersebut dengan pengalaman beliau yang sangat mumpuni sebagai seorang tokoh nasional.
Kecerdasan seseorang memang terbukti bisa diasah dengan belajar, kecakapan seseorang bisa diperbaiki dengan pengalaman demi pengalaman karena sejatinya kesalahan itu adalah cara untuk menemukan sesuatu yang benar. Tapi ketidakjujuran sangat sulit diperbaiki karena itu menjadi penyakit yang bisa diderita oleh orang pintar, orang kaya bahkan orang yang punya jabatan sekalipun. Oleh sebab itu, kejujuran sangat penting sekali untuk ditanamkan dari sejak dini agar menjadi siapapun kita nanti, kejujuran akan selalu ada dalam diri.
Allah SWT. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” [1]
Dalam ayat ini, Allah SWT. memberikan perintah kepada kita untuk senantiasa berkata jujur karena kebohongan hanya akan membuka pintu keburukan yang lain. Di tempat lain Allah SWT. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [2]
Dalam ayat ini, Allah SWT. pula memerintahkan kita untuk bergaul dengan orang-orang benar karena lingkungan juga berpengaruh kepada tingkah laku kita dalam bermasyarakat.
Hadhrat Rasulullah saw. pun menempatkan kejujuran menjadi poin utama bagaimana kita bisa menjadi penghuni surga, hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadits sebagai berikut:
“Jaminlah kepadaku enam perkara dari diri kalian, niscaya aku menjamin kepada kalian balasan surga: [1] jujurlah ketika berbicara, [2] penuhilah janji, [3] tunaikan jika dipercaya, [4] jagalah kemaluan kalian, [5] tundukkan pandangan kalian, dan [6] tahanlah tangan kalian.” [3]
Hadhrat Rasulullah saw. tentu tahu benar bagaimana kejujuran itu membuka pintu kebaikan yang lain sehingga jika jujur ada maka pintu lain pun akan terbuka. Semoga kita semua bisa menerapkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap jujur pula banyak dicontohkan oleh sahabat Rasulullah saw. seperti Abdulah bin Mas’ud ra. Sebelum memeluk Islam, Abdullah bin Mas’ud ra. adalah seorang penggembala kambing milik seorang pembesar Quraisy. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ra. yang sedang kehausan minta susu dari kambing yang digembalakan. Abdullah bin Mas’ud ra. menolak dengan jujur karena kambing-kambing itu bukan miliknya. Berkat kejujuran dan amanahnya, ia kemudian menjadi salah satu sahabat utama dan ahli Al-Qur’an.
Semoga kisah-kisah di atas bisa menjadi contoh bagi kita semua dalam menjadikan kejujuran sebagai pondasi akhlak kita, baik dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi:
[1] QS. Al-Ahzab 33: 71
[2] QS. At-Taubah 9: 119
[3] HR. Ahmad
Views: 12
