Tidak Menunda Embun Kebaikan: Meneladani Kisah Hadhrat Utsman

Pernahkah sahabat shalihah menyesal karena menunda meminta maaf, menunda sedekah, atau menunda membantu seseorang, lalu esoknya kesempatan itu hilang begitu saja? Kesempatan berbuat baik itu seibarat embun pagi—jika tak segera disambut, ia akan lenyap begitu saja saat sinar mentari mulai meninggi. Kitab Suci Al-Qur’an menyebutkan ciri hamba pilihan: “Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” [1] Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebaikan tidak untuk ditunda. Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpesan, “Bersegeralah berbuat kebaikan, sebelum datang keadaan yang menghalanginya.” [2]

 

Masalahnya, kita sering terjebak dalam alasan “nanti saja”. Nanti kalau hati sudah tenang, baru memaafkan. Nanti kalau sudah kaya baru bersedekah. Nanti kalau sudah sempat baru menjenguk orang yang sakit. Nanti kalau sudah pensiun, baru aktif di pengajian. Padahal “nanti” adalah penghalang paling licin yang menjauhkan kita dari kebaikan.

 

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memahami sekali hal ini. Hadhrat Abu Bakar tidak menunggu kaya untuk menginfakkan seluruh hartanya. Hadhrat Utsman tidak menunda membeli sumur Raumah sampai harga turun. Mereka paham, menunda kebaikan sama artinya dengan mempertaruhkan nasib sendiri, karena penghalang bisa datang kapan saja—sakit, sibuk, atau bahkan ajal yang datang tanpa menunggu kita siap.

 

Lihatlah Hadhrat Utsman bin Affan RA menerjemahkan prinsip “bersegera” dalam hidupnya. Ketika kaum Muslimin di Madinah kesulitan air karena satu-satunya sumur milik seorang Yahudi bernama Raumah dijual dengan harga tinggi, Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mau membeli sumur Raumah lalu mewakafkannya untuk kaum Muslimin, maka baginya surga.” Mendengar itu, Hadhrat Utsman bin Affan RA tidak berkata, “nanti saya pikirkan” atau “nanti tunggu harganya turun”. Beliau segera menemui pemiliknya dan membeli sumur itu seharga 20.000 dirham. Angka yang sangat besar pada zaman tersebut, kemudian beliau mewakafkan sumur tersebut untuk kepentingan umum. [3]

 

Hadhrat Utsman bin Affan RA paham sekali bahwa kesempatan meraih surga itu seperti perumpamaan embun pagi tadi. Jika ditunda sehari saja, bisa jadi orang lain sudah mendahuluinya, atau dirinya keburu tidak mampu. Sikap “bersegera” inilah yang membuat namanya abadi sebagai salah satu teladan dalam beramal tanpa tapi.

 

Cerminan sikap Hadhrat Utsman bin Affan RA itu sangat relevan dengan kondisi kita hari ini. Di era yang serba cepat dan serba digital, justru godaan untuk menunda kebaikan semakin besar. Reminder mengenai candah (sedekah) kita skip dengan alasan “nanti pas gajian” atau “nanti saja akhir bulan”. Ajakan untuk menghadiri Ta’limul Qur’an di grup, kita balas “insyaAllah kalau sempat”. Chat teman yang sedang kesulitan kita baca, tapi lupa tidak direspon karena sibuk scroll media sosial. Padahal pintu kebaikan zaman sekarang mudah diketuk—bayar candah cukup satu klik aplikasi, info orang kesulitan atau sakit serta ajakan menghadiri majelis ilmu langsung masuk ke genggaman melalui handphone. Tapi, kemudahan itu seringkali melahirkan banyak alasan. Kita lupa bahwa “sibuk”, “lelah”, dan “nanti” adalah tiga penghalang yang Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam peringatkan dalam hadist tadi. Embun pagi kebaikan di zaman ini tidak hanya menguap oleh sinar matahari, tapi juga oleh distraksi layar dan daftar to do list yang tidak pernah habis.

 

Karena itu, sebelum embun pagi kebaikan benar-benar menguap, mari kita jadikan hadist ini sebagai alarm: “Bersegeralah berbuat kebaikan, sebelum datang keadaan yang menghalanginya.” Teladani mereka yang dipuji Allah sebagai “orang-orang yang bersegera dalam kebaikan” yang disebut dalam Al-Qur’an. Mulailah dari yang paling dekat dan paling mudah, seperti jadi pendengar untuk teman yang kesulitan, menyisihkan uang jajan untuk sedekah, candah tanpa perlu diingatkan, senyum dan tawarkan bantuan untuk saudara atau orang tua. Jangan menunggu momen besar atau jumlah uang banyak. Sebab, surga diraih oleh mereka yang lebih dulu mengambil kesempatan, bukan yang paling banyak berencana. Penghalang itu pasti datang—sakit, sibuk, ekonomi menurun, atau ajal yang menjemput tiba-tiba. Maka bersegeralah, hari ini, detik ini. Sebab kita tidak pernah tahu, apakah kesempatan berbuat baik ini akan datang untuk kedua kalinya atau tidak.

 

Referensi:

[1] QS. Al-Mu’minun:62

[2] HR. Thabrani

[3] HR. Imam Tirmidzi no. 3703, hasan

 

Views: 74

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *