Dua Tetes Air Mata yang Diharamkan dari Api Neraka

Mata adalah satu dari sekian banyak karunia tak ternilai yang Allah anugerahkan bagi manusia. Dengan mata kita mampu menyaksikan keagungan dan kebesaran wujud Allah melalui ciptaan-Nya di dunia ini. Bahkan bila seseorang mampu menjaga bulir bening yang keluar dari matanya dari hal-hal yang dapat menjerumuskannya pada keburukan. Maka Allah menjamin surga baginya.

 

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

 

“Barangsiapa yang menjaga dua air matanya dari api neraka, maka dia akan masuk surga.” [1]

 

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda:

 

“Ada dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: Mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga di jalan Allah.” [2]

 

 

Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena orang yang takut kepada Allah Ta’ala akan menjaga dirinya, menjaga lisannya, menjaga pendengarannya, menjaga penglihatannya, dan menjaga seluruh anggota badannya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Kalaupun dia terjerumus ke dalam dosa, maka dia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia menyesali dan menangisi perbuatannya. Maka orang yang demikian keadaannya akan diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari azab api neraka.

 

Coba kita bayangkan… Neraka yang panasnya 70 kali lipat dari api dunia. Tapi Allah menjanjikan ada 2 jenis air mata yang diharamkan untuk disentuhnya.

Betapa besar kasih sayang Allah pada hamba-Nya yang mau meneteskan air mata dan mengorbankan tidurnya untuk-Nya.

 

Golongan Pertama: Mata yang Menangis karena Takut kepada Allah

 

1. Teladan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq

Beliau dijuluki “Al-Awwah” – orang yang banyak merintih karena Allah. Hazrat Umar bin Khattab r.a. berkata: “Kalau Abu Bakar membaca Al-Qur’an, suaranya bergetar dan air matanya membasahi janggut.”

Padahal beliau sudah dijamin surga. Tapi tetap takut. Tetap menangis di malam hari. Karena beliau sadar, surga itu mahal.

 

2. Teladan dari Sayyidah Fatimah az-Zahra r.a.

Putri Rasulullah ﷺ ini dijuluki “Penghulu Wanita Surga”.

Setelah ayahnya wafat, beliau sering menangis di makam Nabi. Di rumahnya, beliu juga rajin shalat malam sampai kakinya bengkak.

Itulah tangisan orang yang hatinya hidup. Menangis bukan karena dunia, tapi karena rindu dan takut kepada Allah.

 

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Jika mata sudah kering dari tangisan karena Allah, maka itu tanda kerasnya hati.”

 

Golongan Kedua: Mata yang Terjaga di Jalan Allah

 

1. Teladan dari Hazrat Abbad bin Bishr r.a.

Di Perang Dzatur Riqa’, beliau ditugaskan berjaga malam. Saat shalat, beliau terkena 3 anak panah.

Tapi beliau tetap menyelesaikan shalatnya dulu. Setelah itu baru membangunkan rekannya dan berkata:

“Andai bukan karena tugas dari Rasulullah, aku sudah mati di tempat.”

Itulah pengorbanan. Tidur dikorbankan demi menjaga kaum muslimin.

 

2. Teladan dari Hazrat Nusaibah binti Ka’ab – Ummu Umarah ra.

Di Perang Uhud, ketika kaum muslimin terpencar, Hazrat Nusaibah r.a. maju dengan pedang dan perisai melindungi Rasulullah ﷺ.

11 luka di tubuhnya. Tapi beliau tetap bertempur sambil berteriak: “Lindungi Rasulullah!”

Setelah itu beliau juga ikut menjaga kemah di malam hari.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Di setiap tempat aku menoleh, aku melihat Nusaibah sedang berperang untukku.”[3]

 

Pelajaran untuk Kita Hari Ini

 

Kita mungkin tak akan mampu mencapai derajat Hazrat Abu Bakar r.a. Kita juga tak sehebat Hazrat Nusaibah r.a.

Tapi pintu hadits ini terbuka untuk semua umat Islam sesuai batas kemampuan maksimal masing-masing dalam mencari ridha Tuhannya.

 

“Mata yang menangis” bisa kita dapatkan dengan:

Shalat Tahajud meski hanya 2 rakaat lalu menangis minta ampun atas segala dosa dan kelemahan.

Menangis saat membaca dan mentadaburi Al-Qur’an, karena sadar masih banyak perintah yang belum mampu kita laksanakan. Menangis karena takut kembali kepada-Nya dalam keadaan buruk.

 

“Mata yang berjaga” bisa kita dapatkan dengan:

Terus belajar mendidik anak agar jadi shalih. Memperdalam ilmu agama untuk diajarkan ke orang lain. Terjaga untuk memohon pertolongan Allah dalam menjaga lisan, menjaga keluarga, menjaga iman di tengah fitnah.

 

Memilih Jalan Pulang

 

Allah berfirman:

“Maka barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung.” [4]

 

Sampai detik ini kita harus lebih banyak bersyukur karena masih Allah karuniakan mata yang bisa menangis. Allah berikan tenaga untuk tetap terjaga dalam ketaatan.

 

Jangan sampai karunia penglihatan yang telah Allah beri, hanya kita habiskan untuk scroll hal yang sia-sia, terlebih lagi untuk maksiat/hal-hal yang tak pantas dilihat.

 

Teruslah memohon pertolongan Allah untuk melembutkan hati ini, mengalirkan air mata ini semata-mata hanya karena rasa takut kepada-Nya dan mengharapkan ampunan-Nya.

 

Referensi:

 

[1] HR. Tirmidzi

[2] Sunan At-Tirmidzi No. 1639 – Hasan Shahih

[3] Sirah Shahabat: Abu Bakar, Fatimah az-Zahra, Abbad bin Bishr, Nusaibah binti Ka’ab.

[4] QS.Ali Imran 3: 185

 

Views: 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *