Memupuk Rasa Syukur: Rahasia Kehidupan yang Terpenuhi
Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya. Namun, hendaklah selalu memohon petunjuk pada Allah Ta’ala agar jalan yang kita tempuh tidak membuat ibadah kita berkurang.
Kisah nyata tentang dua orang sahabat yang akan kita bahas di sini akan membuka pemahaman kita tentang pentingnya berpikir panjang dalam mengambil sebuah keputusan.
Kita sebut saja dua sahabat ini Mawar dan Melati. Keduanya dekat saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang sama. Mereka sama-sama taat beribadah dan rutin menghadiri kegiatan keagamaan.
Setelah lulus kuliah Mawar memutuskan untuk membuka usaha sendiri membuka toko kue di rumahnya. Tidak lama kemudian Mawar menikah dan menjalani hidup yang sederhana.
Sementara Melati melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dan kemudian sibuk berkarir.
Seiring waktu berlalu kegiatan keduanya menjadi sangat berbeda.
Mawar yang bekerja di rumah masih memiliki banyak waktu untuk menghadiri kegiatan keagamaan. Sehari-hari pun ia memiliki waktu khusus untuk membaca al-Qur’an dan terjemahan, juga membaca buku-buku agama. Mawar yang selalu mensyukuri apa yang dimilikinya hidup dalam ketenangan dan kedamaian.
Melati yang karirnya gemilang dengan penghasilan yang tinggi tenggelam dalam kesibukan dan semakin jarang menghadiri acara keagamaan, di rumah pun waktu untuk membaca al-Qur’an semakin berkurang. Melati sibuk mengembangkan karirnya dan
selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Ia pun terbiasa mengukur segala sesuatu dengan angka, saldo rekening, koleksi kendaraan, dan memamerkan pencapaiannya melalui media sosial. Target hidupnya seolah bergantung pada jumlah ‘like’ dalam postingannya. Semakin banyak, semakin dianggap berhasil.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah banyaknya, melainkan keberkahannya. Segala sesuatu yang kita miliki jangan menjauhkan kita dari karunia Allah Ta’ala. Amal dan ibadah adalah hal yang wajib diutamakan di atas segalanya.
Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan besar, tetapi selalu merasa kekurangan. Gaji cepat habis sedangkan kebutuhan terus bertambah, dan hatinya tidak pernah merasa cukup.
Di sisi lain, ada orang yang penghasilannya biasa saja. Namun, ia mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, bisa bersedekah, hidup tenang, dan tidur dengan hati yang damai. Bukan karena rezekinya lebih banyak, melainkan karena Allah memberikan keberkahan pada rezekinya.
Begitu pula dengan waktu.
Banyak orang mengeluh tidak punya waktu. Seharian sibuk, tetapi pekerjaan tidak kunjung selesai. Waktu habis untuk menggulir media sosial, menonton video tanpa tujuan, dan melakukan hal-hal yang sia-sia.
Sebaliknya, ada orang yang memiliki kesibukan yang sama, bahkan lebih padat. Namun, ia masih sempat membaca al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Waktunya terasa cukup karena Allah memberkahinya.
Rasulullah saw. bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Membaca al-Qur’an satu halaman setiap hari dengan istikamah lebih dicintai Allah daripada membaca satu juz hanya sesekali lalu berhenti berbulan-bulan. Sedekah yang nilainya kecil namun rutin bisa lebih bernilai daripada sedekah besar yang dilakukan untuk mencari pujian manusia.
Lebih baik memiliki sedikit teman yang membawa kita semakin dekat kepada Allah daripada banyak teman yang menjauhkan kita dari-Nya.
Hal ini sangat sesuai seperti yang disampaikan Ali bin Abi Thalib:
“Adakalanya yang sedikit lebih berkah daripada yang banyak.”
Dunia adalah kendaraan, bukan tujuan. Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akan terus merasa kurang. Sebaliknya, orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akan memperoleh ketenangan hati, dan Allah akan mencukupkan urusan dunianya sesuai kehendak-Nya.
Views: 20
