Allah Kabulkan Doa Saya dengan Ditugaskannya Mubaligh Ahmadiyah di FakFak

Biasanya, kita berdoa kepada Allah ketika butuh sesuatu. Tapi pernahkah kita berdoa dengan giat, sampai-sampai tak pernah terlewat dalam sujud, dimana kita tak mengerti mengapa kita selalu berdoa demikian?

—–

Dan itulah yang saya alami. Hingga benar-benar Allah Ta’ala mengabulkannya, saya pun dengan sendiri berhenti dari memanjatkan doa-doa tersebut.

Doa saya sederhana. Tapi saya pun tak mengerti, mengapa saya jadi terdorong untuk selalu memanjatkan doa ini, “Ya Allah berikanlah hamba hidayah dan petunjuk-Mu.”

Doa yang ringkas bukan? Tapi ia selalu hadir dalam setiap sujud saya. Ia menjadi satu bentuk keresahan, dimana saya sendiri tak mengerti dari titik mana keresahan itu bermula?

Peristiwa itu terjadi sejak saya meninggalkan Manokwari, tempat saya berkuliah kala itu. Saya pulang kembali ke kampung halaman di FakFak, Papua Barat. Dan sejak saat itulah, doa itu hadir, seolah mulut ini tak pernah dibuatnya kering untuk melafalkannya.

Sebelum saya menceritakan tentang pengabulan dari doa tersebut, saya ingin mundur sedikit ke belakang. Saya ingin bercerita tentang awal perjumpaan saya dengan Jemaat Ahmadiyah, yang berawal di kota Manokwari tempat saya kuliah.

Saya pertama kali tahu tentang Ahmadiyah dari seorang teman. Ketika itu kami sedang ada kegiatan sosial. Saya dan beberapa teman relawan mampir di Markas PMI, dimana salah seorang tim relawan kami tinggal disitu. Rupanya, ia adalah anggota Ahmadiyah.

Disitu rupanya ada orang lain. Berperawakan tinggi, kulit putih, seperti orang dari Jawa. Rupanya, ia adalah mubaligh Ahmadiyah yang bertugas di Manokwari. Namanya, Mln. Tatep Wahyu.

Tak lama setelah kami sampai. Tibalah waktu Zuhur. Saya reflek mengambil air wudhu karena saya lihat Pak Tatep dan teman relawan yang seorang Ahmadi akan melaksanakan shalat berjamaah.

Saya sempat mengajak beberapa teman untuk ikut. Tapi mereka tidak ada yang beranjak dari tempatnya. Mereka bilang, kamu duluan saja. Saya buru-buru ambil wudhu dan ikut berjamaah dengan imam Mln. Tateh Wahyu.

Usai shalat saya kembali mengobrol dengan teman-teman. Ditengah percakapan ada seorang teman berkata, “Nanti kalau shalat lagi tidak usah shalat sama mereka.”

Saya benar-benar tak paham maksud perkataan teman saya. Saya yang bingun pun jadi bertanya, “Memangnya kenapa?”

Ia menjawab, “Mereka itu kan Ahmadiyah.” Disinilah pertama kali saya mendengar nama Ahmadiyah. Dan jujur, saya tak pernah sama sekali mendengar nama ini sebelumnya.

Saya yang bingung dan tak tahu apa-apa jadi balik bertanya, “Ohhh… emang kenapa dengan Ahmadiyah? Bukankah shalat mereka sama? Bukankah yang terpenting disini adalah shalat berjamaahnya? Bukankah pahala berjamah itu lebih besar daripada shalat sendiri?”

Diberondong dengan banyak pertanyaan, akhirnya mereka pun terdiam. Dan obrolan kami berhenti tanpa saya sedikitpun mendapatkan penjelasan apa-apa tentang alasan pelarangan mereka.

Setelah kejadian itu, saya tidak pernah lagi bersentuhan dengan Ahmadiyah, juga berjumpa lagi dengan Pak Tatep. Semua mengalir seperti biasa hingga saya lulus kuliah dan kembali ke kampung halaman.

Setelah pulang kampung, doa itu mulai hadir mengisi ruang harapan yang belum jelas apa urgensinya.

Ketika tengah berlibur ke luar kota. Tiba-tiba handphone saya berdering. Saya lihat nomor baru yang menghubungi. Saya pun mengangkatnya. Suara seorang laki-laki yang tak asing terdengar.

Assalamu’alaikum. Sri dimana kabarnya? Saya Pak Tatep temannya Sri dulu waktu di Manokwari. Masih ingat gak?”

Oh iya pak. Gimana pak?” Saya tidak mungkin lupa dengannya, karena diacara syukuran kelulusan sayaa, Pak Tateplah yang mengisi ceramahnya.

Setelah menanyakan kabar dan posisi sekarang dimana, Pak Tatep berkata lagi, “Sri boleh minta tolong gak? Ada saudara saya dari Jakarta mau kerja di FakFak, bisa tolong bantuin carikan rumah kontrakan buat beliau? Kos-kosan juga gak apa-apa.”

Oh iya pak, insyaAllah nanti saya bantu.” Kemudian beliau mengirimkan saya nomor kontak saudaranya.

Saya pun langsung mencarikan rumah kontrakan untuk saudaranya Pak Tatep. Saya sendiri tak tahu persis saudaranya datang ke FakFak untuk apa dan bekerja dimana. Hingga saya mengetahui semuanya setelah berkenalan dengan saudaranya yang bernama Kalimuddin Zyghas Ahmadi.

Sampai saat itu saya belum tahu Pak Kalimuddin di FakFak bekerja sebagai apa. Yang saya tahu beliau hanyalah saudara pak Tatep.

Setelah Pak Kalimuddin menempati rumah kontrakan, saya sering diajak bersilaturahmi kesana. Walaupun cuma sekedar mampir sebentar setelah pulang dari mengajar di sekolah.

Setiap kali singgah. Selalu ada tumpukan buku yang mungkin sengaja diletakkan di ruangan untuk kami baca. Saya pun mengambil salah satu buku.

Dibagian bawah cover buku tersebut tertulis “JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA”. Tiba-tiba saya jadi teringat kembali peristiwa tiga tahun yang lalu. Saat teman saya membahas soal Ahmadiyah ini.

Ketika di sekolah, saya ceritakan hal ini kepada rekan guru bahwa saya punya kenalan orang dari Jakarta yang datang ke FakFak untuk bekerja. Saya diminta mencarikan kontrakan. Tapi dalam rumahnya ada buku yang tulisannya JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA.

Spontan rekan guru ini langsung berkata, “Sudah… sekarang tidak usah lagi bersilaturahmi dengannya lagi. Yang penting kamu sudah bantu dia untuk carikan rumah.”

Mendengar respon seperti itu, saya cukup tersentak dan kaget. Lalu saya bertanya, “Emang kenapa?”

Lalu dia menjawab, “Itukan ajaran sesat, mereka punya nabi baru.”

Intinya, saya diminta untuk menjauh dan tidak berkomunikasi lagi dengan Pak Kalim. Tapi, hati saya tetap menolak. Saya terus berfikir apa yang salah dengan Ahmadiyah? Kalau ajarannya sesat, toh selama ini saya lihat shalatnya sama. Orangnya juga baik. Kenapa harus menjauh dan memutus pertemanan?

Karena rasa penasaran yang terus menghantui akhirnya saya memberanikan diri bertanya tentang Ahmadiyah ke Pak Kalim. Kami berdiskusi banyak hal. Hingga akhirnya saya ditanya, kapan kamu mau bai’at?

Dalam hati saya jadi bertanya-tanya. Mengapa harus bai’at? Buat apa harus masuk Ahmadiyah? Yang pentingkan saya suda Islam, sudah shalat dan semua rukun Islam telah saya lakukan.

Hingga akhirnya, Pak Kalim mengutip sebuah hadits yang berbunyi, “Faidza raaitumuhu fabayyi’uhu walau habwan ilas salji.” Yang artinya, maka jika kamu melihatnya (Imam Mahdi) maka berbai’atlah kamu kepadanya, walaupun kamu harus merangkak di atas salju.

Hadits itu benar-benar membuat saya tidak bisa tidur. Dan membuat saya ingin segera bai’at. Saya pun akhirnya ke rumah Pak Kalim untuk minta bai’at. Tapi beliau tidak langsung mengizinkan. Beliau menyuruh saya untuk shalat istikharah, meminta petunjuk dari Allah Ta’ala.

Katanya, “Kami punya 10 syarat bai’at yang harus benar-benar dijalankan. Bagi sebagian orang ini akan terasa berat.”

Saya pun akhirnya mengikuti anjurannya untuk shalat istikharah. Hati saya semakin mantap untuk bai’at setelah membaca, memahami dan meresapkan 10 syarat bai’at yang benar-benar membuat saya takjub.

Setelah saya bai’at. Saya merasakan perubahan yang luar biasa dalam kerohanian saya. Yang dulunya bangun shalat tahajjud jika ada keperluan duniawi saja, sekarang saya merasa tahajjud sudah seperti shalat fardhu. Yang ketika saya tak bangun saya merasakan ada yang kurang. Tak jarang saya menyesal jika tidak mengerjakannya.

Dan saya pun baru tahu. Bahwa Pak Kalimuddin ini adalah mubaligh Ahmadiyah yang ditugaskan pertama kali di daerah FakFak, Papua Barat.

Dari sini. Seperti terjawab semua teka-teki mengapa mulut saya tiba-tiba tak pernah kering berdoa meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala. Apakah dengan ditugaskannya Mln. Kalimuddin di FakFak, dimana saya akhirnya bai’at masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah, semua itu merupakan pengabulan dari doa yang entah mengapa tak pernah lepas di setiap sujud-sujud saya?

Dan setelah saya bai’at. Doa tersebut tiba-tiba hilang. Bisa jadi, hidayah itu telah saya temukan. Dalam bentuk bergabungnya saya ke dalam bahtera Imam Mahdi.

.

.

.

editor: Muhammad Nurdin

Hits: 22

Sri Ayu La Aji

6 thoughts on “Allah Kabulkan Doa Saya dengan Ditugaskannya Mubaligh Ahmadiyah di FakFak

  1. Membaca kisah Mba Ayu, saya terharu dan teringat kembali ketika saya pertama kali mendengar nama Ahmadiyah di kala sekolah SMA N 1 Namlea, di pulau Buru
    Semoga Allah SWT memberikan pertolongan-Nya dan karunia-Nya terus menerus Kepada kita

  2. Assalamu’alaikum.
    Ayu, kemarin kuota saya lemot tak bisa baca semua tulisan Ayu. Sekarang baru bisa baca tulisan Ayu. Sungguh luar biasa hidayah itu. Masya Allah. Saya doakan semoga Ayu tetap dalam bahtera Imam Mahdi ini sampai akhir hayat ya.

    Wassalam,
    Habib

    Kenal kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories