Bahaya Mencampuradukkan Kebenaran dan Kebatilan di Era Modern
Dunia ini diciptakan begitu indah dalam pandangan manusia, sehingga diperebutkan siang dan malam. Kekuasaan diperebutkan dengan cara yang begitu dahsyat, karena dengannya bisa menguasai banyak hal. Termasuk menguasai harta dunia.
Karena ingin menguasai harta dunia, kadangkala sebahagian orang yang berkuasa memang bukan merubah isi kitab, tetapi mempermainkan hukum. Kalau untuk rakyat kecil, misalnya, hanya diberikan sedikit walaupun semua program diatasnamakan untuk kepentingan rakyat. Sedangkan untuk orang-orang yang dititipkan kekuasaan sendiri tergantung hasratnya. Katanya, itu sudah sesuai hukum yang berlaku. Padahal yang membuat dan mengesahkan hukum juga mereka sendiri.
Di zaman sekarang, informasi datang sangat cepat. Di satu sisi ini nikmat. Di sisi lain ini ujian. Karena bersamaan dengan banjirnya ilmu, banjir juga fitnah.
Fitnah yang paling berbahaya bukan fitnah yang terang-terangan menolak kebenaran, melainkan fitnah yang membungkus kebatilan dengan baju kebenaran. Allah Ta’ala telah mengingatkan kita dalam firmannya,
“Jangan kamu campur adukkan kebenaran dan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedang kamu mengetahuinya.” [1]
Apa maksud mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan?
Para ulama tafsir seperti Imam Ibnu Katsir menjelaskan 2 makna:
๐ญ. ๐ ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ฎ๐บ๐ฝ๐๐ฟ: Menyampaikan 80% kebenaran, lalu menyelipkan 20% kebatilan
๐ฎ. ๐ ๐ฒ๐ป๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ป๐๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป: Mengetahui kebenaran tapi diam. Mengetahui kebatilan tapi membenarkannya.
Contoh klasiknya adalah ucapan kaum Khawarij kepada Hadhrat Ali bin Abi Thalib ra.,
“๐๐ข ๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ข ๐ช๐ญ๐ญ๐ข ๐ญ๐ช๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ – ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ถ๐ข๐ญ๐ช ๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ”
Kalimatnya benar, tapi Hadhrat Ali bin Abi Thalib ra., menjawab:
“๐๐ข๐ญ๐ช๐ฎ๐ข๐ต๐ถ๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ฒ ๐บ๐ถ๐ณ๐ข๐ฅ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ฉ๐ข ๐ฃ๐ข๐ต๐ฉ๐ช๐ญ – ๐๐ฏ๐ช ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฎ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ต๐ช๐ญ๐ข๐ฏ” [2]
Tujuan mereka bukan menegakkan hukum Allah. Tujuan mereka adalah memberontak dan menumpahkan darah. Pola ini persis terulang di zaman kita, hanya beda kemasan. Kita bisa melihat dan membuktikan hal tersebut dalam beberapa bentuk nyata di era sekarang.
๐ญ. ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ด๐ฎ๐บ๐ฎ: ๐ ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ ๐๐ฎ๐น๐ถ๐น ๐๐ป๐๐๐ธ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ก๐ฎ๐ณ๐๐
Contoh: Mengutip “๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ข๐ฉ๐ข ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ” untuk terus bermaksiat. Mengutip “๐๐จ๐ข๐ฎ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ” untuk meninggalkan salat. Dalilnya benar, namun pemahamannya dipelintir dengan tujuan membuat agama mengikuti nafsu.
๐ฎ. ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฆ๐ผ๐๐ถ๐ฎ๐น: ๐ ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ ๐๐ฎ๐ฟ๐ด๐ผ๐ป ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ ๐ฒ๐บ๐ฒ๐ฐ๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ต
Contoh: Akun yang bicara tentang keadilan dan HAM isinya fitnah dan hoax. Keadilan hanya untuk kelompoknya. Di luar kelompoknya boleh dizalimi. Ini bukan keadilan. Ini fanatisme. Allah Ta’ala berfirman,
“Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah.” [3]
๐ฏ. ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ธ๐ผ๐ป๐ผ๐บ๐ถ: ๐ ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ ๐๐ฎ๐ฏ๐ฒ๐น ๐๐๐น๐ฎ๐บ๐ถ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ถ๐ฝ๐
Contoh: Bisnis ‘berkah, ‘ tanpa riba’ tapi sistemnya ponzi. Produk ‘herbal sunnah’ tapi klaimnya berlebihan. Ini penipuan paling berbahaya karena mengatasnamakan Allah. Hadhrat Rasulullah saw. bersabda,
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” [4]
๐ฐ. ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ: ๐ ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ ๐ฆ๐น๐ผ๐ด๐ฎ๐ป “๐๐ฒ๐บ๐ถ ๐ฅ๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐” ๐๐ป๐๐๐ธ ๐๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฟ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ถ
Contoh: Bagi-bagi bantuan saat pemilu. Proyek mewah ‘demi kebanggaan bangsa’. Aturan yang menyusahkan rakyat ‘demi investasi’. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia mengagumkanmu…padahal ia adalah penentang yang paling keras.” [5]
๐ฑ. ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐ฒ๐ฑ๐ถ๐ฎ: ๐ ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ ๐๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ ๐ฒ๐บ๐ฒ๐น๐ถ๐ป๐๐ถ๐ฟ ๐๐ฎ๐ธ๐๐ฎ
Judul berita dibikin provokator. Isinya dipotong dengan tujuan menimbulkan kebencian, bukan tabayyun.
๐ฒ. ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป: ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐๐ป๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฑ๐๐ธ๐ฎ๐๐ถ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ฎ๐บ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ด๐๐ฎ๐ป
Contoh: Konten ‘membongkar sejarah Islam’ atau ‘meluruskan hadits’. Namun tujuannya bukan mencerahkan melainkan membuat umat ragu pada aqidah dan para ulama.
๐ณ. ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ธ๐๐ถ๐๐ถ๐๐บ๐ฒ: ๐ ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ ‘๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป’ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต
Contoh: Aksi atas nama Islam tapi di dalamnya ada ghibah, caci maki, dan kerusakan. Alasannya adalah amar ma’ruf padahal cara yang salah tidak akan mengantarkan pada tujuan yang benar.
Hal di atas jika dibiarkan maka sangat berbahaya. Mengapa berbahaya?
๐ญ. ๐ฆ๐๐น๐ถ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ฒ๐๐ฒ๐ธ๐๐ถ,
karena 90 % isinya benar dan akal kita jadi lengah
๐ฎ. ๐ ๐ฒ๐ฟ๐๐๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ.
Musuh dari luar mudah dikenali, tetapi kalau yang merusak memakai bahasa dan simbol ‘kita’, maka umat akan pecah dari dalam.
๐ฏ. ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ฎ๐ ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ถ๐ป๐ถ๐ ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป.
Karena terlalu sering melihat agama dipakai untuk menipu, akhirnya orang jadi antipati pada dakwah yang benar.
Lantas Bagaimana agar kita tidak tertipu?
Para ulama mengajarkan kita untuk menimbang setiap ajakan:
๐ญ. ๐ง๐ถ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐น๐ถ๐น
Apakah dalilnya shahih? Apakah pemahamannya sesuai Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat?
๐ฎ. ๐ง๐ถ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ท๐๐ฎ๐ป
Kita harus tahu, untuk apa ini dilakukan? Apakah untuk Allah atau untuk popularitas dan harta? Untuk mengetahui tujuannya, apakah dia tetap melakukannya jika tidak ada kamera?
๐ฏ. ๐ง๐ถ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ถ๐น
Hadhrat Rasulullah saw. bersabda,
“Dari buahnyalah kamu mengenal pohon itu” [6]
Maka kita harus melihat hasilnya. Apakah membuat orang makin taat dan bersatu? Atau justru membuat orang makin jauh dan pecah?
Satu hal yang perlu diingat bahwa tugas kita bukan menghakimi semua orang. Tugas kita adalah jelas dalam prinsip, jelas dalam berkata, dan jelas dalam bersikap. Jangan karena takut dibilang tidak toleran lalu kita membenarkan yang salah. Jangan karena takut dibilang kaku lalu kita menyembunyikan yang benar.
Ada satu do’a yang diajarkan oleh Hadhrat Rasulullah saw. untuk bisa diamalkan. Do’anya adalah,
“Ya Allah, tampakkan kepada kami yang haq itu haq dan beri kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkan kepada kami yang batil itu batil dan beri kami kekuatan untuk menjauhinya.” [7]
Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan, hati, dan jari-jari kita dari menjadi bagian yang tanpa sadar menyebabkan kebatilan.
Referensi :
[1] QS. Al-Baqarah, 2: 42
[2] HR. Muslim no.1066
[3] QS. An-Nisa, 4: 135
[4] HR. Tirmidzi no. 1209
[5] QS. Al-Baqarah, 2: 204
[6] HR. Bukhari no. 3606 dan HR. Muslim no. 1847
[7] HR. Bukhari no. 5059 dan HR. Muslim no. 2379
Views: 251
