KEBAIKAN TANPA PAMRIH DAN TAK PILIH-PILIH

Dikisahkan ada seorang musafir yang sedang dalam perjalanan menuju pulang dan ternyata waktu sudah larut tak mungkin melanjutkan perjalanan. Ia pun singgah di suatu kota yang sangat asing, baru pertama kalinya dan tak pernah dikunjungi sebelumnya. Konon katanya kota itu terkenal dengan kriminalitasnya di malam hari.

Malam pun semakin larut, suasana semakin mencekam dengan cuaca yang sangat dingin, sunyi dan sepi. Kebingungan menghampiri dan kekhawatiran pun muncul, bila tak menemukan tempat singgah ia merasa tidak aman dari kabar kejahatan yang terus menyelimutinya.

Ia teringat pesan sahabatnya bila singgah di kota ini, ia harus menghubungi teman sahabatnya untuk singgah. Hingga akhirnya ia menghubungi dan menemukan alamat rumah teman sahabatnya itu.

Walaupun tak pernah kenal dan berjumpa sebelumnya. Namun sang pemilik rumah menyambut dengan ramah dan penuh kasih sayang layaknya kepada saudara sendiri dengan memberikan bantuan berupa tumpangan, tempat untuk melepas lelah dan beristirahat setelah menjalani perjalanan jauh.

Tak hanya itu, tuan rumah tersebut menyiapkan hidangan makanan dan minuman. Sungguh diluar dugaan, dapat menemukan tempat singgah dan jamuan yang luar biasa yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Alhamdulillah, berkat kebaikan sang pemilik rumah ia pun dapat beristirahat dan memberikan rasa aman hingga ia dapat melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Dari kisah tersebut kita dapat memetik hikmah bahwa yang harus kita ingat berkaitan dengan perilaku sehari-hari sebagai muslim adalah selalu memberikan manfaat untuk orang lain.

Dengan menyebarluaskan hal-hal baik, menyampaikan keindahan ajaran Islam dengan berbuat kebaikan terhadap siapapun dan berlaku ramah dan santun.

Selain itu demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Kebaikan yang diberikan tanpa pamrih dan tak pilih-pilih serta memberikan rasa aman kepada yang menerima kebaikan tersebut.

Sebagaimana tertera dalam hadits, “Sebaik-baik kamu ialah yang diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya, dan seburuk-buruk kamu ialah yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya.” HR. At-Tirmidzi

Hits: 156

Liana S. Syam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *