Ketika Harapan Terasa Jauh, Teruslah Mengetuk Pintu Langit

­Pernahkah kita merasa sudah berdoa begitu lama, tetapi keadaan seolah tidak juga berubah? Kita telah berusaha, menunggu, bahkan menangis dalam doa yang sama. Namun, jawaban yang dinanti belum kunjung tiba. Di sinilah iman diuji. Bukan ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, melainkan ketika kenyataan belum sejalan dengan harapan.

 

Ada kalanya seseorang merasa doanya tidak didengar karena apa yang dimintanya belum terwujud. Padahal, tidak terkabulnya sesuatu sesuai waktu dan bentuk yang kita harapkan bukan berarti Allah Ta’ala mengabaikan doa kita. Manusia melihat apa yang ada di hadapan mata. Allah Ta’ala mengetahui apa yang tersembunyi di baliknya.

 

Kita mungkin menginginkan semua pintu terbuka, sementara Allah Ta’ala mengetahui bahwa di balik pintu itu ada sesuatu yang belum baik bagi kita. Kita mungkin memohon agar sebuah masalah segera selesai, sementara Allah Ta’ala sedang membentuk kesabaran, keteguhan, dan kedekatan kita kepada-Nya melalui masalah tersebut.

 

Karena itu, terkadang jawaban doa bukanlah ‘ya’ dalam bentuk yang kita bayangkan. Bisa jadi Allah Ta’ala memberikan jalan yang berbeda. Bisa jadi waktunya belum tiba. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap sebagai keterlambatan justru merupakan bagian dari pertolongan-Nya.

 

“…dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” [*]

 

Mari kita renungkan bersama bagaimana Al-Qur’an mengajarkan kita untuk tetap memiliki harapan bahkan ketika keadaan secara lahiriah tampak begitu berat.

 

Sering kali kita lupa bahwa yang berubah bukanlah kasih sayang Allah Ta’ala, melainkan cara kita memandang keadaan. Ketika hidup terasa sempit, kita mudah mengira bahwa Allah Ta’ala sedang menjauh. Ketika rezeki terasa sulit, kita merasa doa tidak didengar. Ketika sebuah harapan belum terwujud, kita menganggap Allah Ta’ala belum memberikan perhatian.

 

Padahal, boleh jadi justru pada masa-masa itulah Allah Ta’ala sedang mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada-Nya. Kesulitan dapat menjadi jalan menuju doa yang lebih tulus. Keterbatasan dapat membuat hati lebih banyak bersyukur. Kegagalan dapat mengajarkan kita untuk bersandar kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan diri sendiri.

 

Terkadang rahmat Allah Ta’ala hadir dalam bentuk sesuatu yang kita sukai. Namun, terkadang rahmat itu lahir dalam bentuk ujian yang membuat kita belajar. Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah Ta’ala tidak mengabulkan doa hanya karena kita belum melihat jawabannya.

 

Justru orang yang berharap kepada Allah Ta’ala akan terus berusaha karena ia yakin bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang baik tidak sia-sia di hadapan-Nya. Oleh karena itu, mari tetap yakin pada setiap untaian doa dan harapan bahwa Allah Ta’ala akan senantiasa bersama kita.

 

 

Referensi:

 

[*] QS. Yusuf 12: 87

 

Views: 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *