Memaafkan: Pemulihan Tanpa Melupakan Pelajaran

Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt pada pidato kenegaraan tanggal 6 Januari 1941 menyampaikan tentang empat kebebasan atau yang dikenal dengan Four Freedom yang merupakan tujuan fundamental hak asasi manusia.

 

Empat kebebasan itu adalah:

  1. Kebebasan berbicara yang merupakan hak setiap individu untuk mengekspresikan diri dan ide-idenya tanpa takut akan pembalasan.
  2. Kebebasan beragama berarti bahwa setiap orang harus dapat menjalankan keyakinan agamanya sesuai dengan hati nuraninya.
  3. Kebebasan dari kemiskinan adalah gagasan bahwa semua individu memiliki hak atas makanan dan tempat tinggal.
  4. Kebebasan dari rasa takut, dimana diharapkan ketegangan akan berkurang di seluruh dunia. Tidak ada lagi peperangan ataupun penindasan.

Karena pentingnya keempat hal itu, penghargaan Four Freedoms Award diberikan secara berkala kepada tokoh dunia yang memperjuangkan nilai-nilai tersebut. (1)

 

Kita pun tentu saja dapat berkontribusi untuk memperjuangkan empat kebebasan tersebut. Kita tahu bahwa syarat mutlak dari sebuah kebebasan adalah perdamaian, saat semua orang harus saling mendukung dan bekerjasama, yang harus diterapkan dalam kehidupan pribadi hingga tingkat dunia.

 

Kebebasan tidak mungkin dapat diraih bila tidak ada kedamaian. Dimulai dari kedamaian di hati kita.

 

Sangat manusiawi bila dalam kehidupan ini kita pernah mengalami hal yang melukai hati karena perbuatan seseorang atau bahkan sekelompok orang, lalu kemudian orang-orang itu meminta maaf kepada kita. Yang harus kita lakukan adalah memaafkan.

 

Mungkin kepercayaan yang retak tidak langsung utuh. Hubungan yang renggang tidak otomatis menjadi dekat. Rasa kecewa tidak serta-merta hilang. Bahkan mungkin, orang yang meminta maaf itu tidak berubah sebagaimana yang kita harapkan. Namun, memaafkan adalah jalan untuk membuat hati kita menjadi lebih lapang dan kita bisa fokus untuk melakukan ibadah dan pekerjaan kita.

 

Memaafkan bukan berarti kita harus melupakan pelajaran dari apa yang telah terjadi. Dengan memaafkan berarti kita memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain menguasai hati kita. Hati dan pikiran yang penuh beban akan menghalangi kita mencapai tujuan dalam hidup.

 

Ibu Negara Amerika Serikat yang juga aktivis hak asasi manusia pada abad ke-20 yaitu Eleanor Roosevelt pernah berkata:

“Memaafkan belum tentu membuat kita lebih baik atau bahkan merasa lebih baik, tetapi yang jelas membuka jalan kebaikan.”

Hal ini juga dicontohkan oleh Hadhrat Rasulullah saw. Ketika putri beliau saw. yang bernama Zainab ra. diserang oleh Habar bin Al-Aswad dengan tombak saat hijrah dari Makkah ke Madinah, yang mengakibatkan kandungannya mengalami keguguran hingga akhirnya beliau wafat. Rasulullah saw. lalu memutuskan untuk membunuh Habar tetapi dia lari dan bersembunyi.

 

Ketika Rasulullah saw. kembali ke Madinah kemudian Habar muncul di hadapan beliau saw. dan sambil memohon belas kasih berkata:

“Sebelumnya saya telah lari karena takut, tetapi pikiran akan sifat pemaaf Tuanlah yang membawa saya kembali (datang) ke sini. Hai Nabi Allah, kami tadinya berada dalam kejahilan dan kemusyrikan kemudian dengan perantaraan Tuan Allah telah memberikan petunjuk kepada kami dan menghindarkan kami dari kehancuran. Saya mengakui akan pelanggaran-pelanggaran saya, maka maafkanlah kejahilan saya”. Maka dari itu Rasulullah saw. memaafkan pembunuh anak perempuan beliau itu dan beliau bersabda, “Hai Habar, pergilah, saya telah memaafkan engkau. Ini merupakan kebaikan Allah bahwa Allah telah menganugerahkan taufik [kepada engkau] untuk masuk Islam”.

 

Memaafkan akan mendatangkan ganjaran dari Allah Ta’ala.

 

Hadhrat Masih Mau’ud a.s telah menguraikan ayat 41 dari surah Asy-syura di berbagai tempat dalam berbagai buku dan sabda beliau as. Kita lihat beliau as membahas tema itu di 21 atau 22 tempat pada 13 buku beliau as atau lebih dari itu; begitu juga pada keterangan-keterangan beliau as dalam berbagai pertemuan. Beliau as bersabda di dalam buku “Filsafat Ajaran Islam”:

 

‘Dan pembalasan terhadap suatu keburukan adalah keburukan semisalnya, tetapi barang siapa memaafkan dan memperbaiki, maka ganjarannya ada pada Allah. Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang-orang aniaya.’ [Asy-Syura, 42:41].(2)

 

Referensi :

1.Wikipedia

2.https://ahmadiyah.id/khotbah/2016-01-22-hakekat-memaafkan-pengampunan?amp

 

Views: 13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *