Sebelum Kain Kafan Menjadi Hijab Pertama
Ada kenyataan yang sering kita lupakan: suatu hari nanti kita semua akan meninggalkan dunia. Saat itu, kita tidak lagi memiliki kesempatan memilih pakaian, memperbaiki penampilan, atau mengatakan, “Besok aku akan berubah.”
Tubuh kita akan dimandikan, dikafani, disalatkan, lalu dikebumikan. Karena itu, nasihat agar tidak menjadikan kain kafan sebagai hijab pertama seharusnya bukan sekadar kalimat indah, melainkan bahan perenungan bagi setiap Muslimah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…”
[QS. An-Nur: 32]
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”
[QS. Al-Ahzab: 60]
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa menutup aurat merupakan bagian dari ketaatan seorang perempuan beriman. Namun, terkadang kita menundanya dengan berbagai alasan: “Nanti kalau sudah siap.” “Nanti kalau sudah lebih baik.” “Nanti kalau sudah menikah.” Padahal, tidak seorang pun mengetahui apakah ia masih memiliki kesempatan untuk bertemu hari esok.
Kisah para sahabiyah memberikan teladan yang indah. Ketika perintah menutup aurat turun, mereka berusaha segera melaksanakannya. Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa wanita-wanita Anshar segera mengambil kain mereka untuk menutup diri setelah mendengar ayat tersebut. Mereka tidak menunggu sampai merasa sempurna. Mereka taat karena menyadari bahwa perintah itu datang dari Allah Ta’ala.
Inilah yang sering terlupakan: hijab bukan tanda bahwa seorang perempuan telah menjadi manusia sempurna. Hijab adalah salah satu bentuk perjuangan untuk menaati Allah Ta’ala. Seseorang tidak harus menunggu dirinya bebas dari semua dosa untuk mulai memperbaiki diri. Justru ketaatan dapat menjadi jalan menuju perubahan.
Rasulullah Saw. juga mengingatkan manusia agar tidak terlena dengan kehidupan dunia. Beliau bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.”
[HR. Tirmidzi]
Mengingat kematian bukan berarti hidup dalam ketakutan, tetapi menyadarkan kita bahwa kesempatan untuk beramal memiliki batas. Bayangkan jika suatu hari seseorang berkata, “Aku akan berhijab setelah ini,” tetapi ternyata itulah hari terakhirnya. Tidak ada lagi kesempatan. Tidak ada lagi “besok”. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan amal yang telah dilakukan.
Allah Ta’ala berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
[QS. Az-Zumar: 53]
Maka, bagi siapa pun yang masih berjuang, jangan menunggu menjadi sempurna. Mulailah dengan satu langkah. Perbaiki sedikit demi sedikit. Tinggalkan kebiasaan yang tidak sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan berusahalah istiqamah. Sebab, kita tidak tahu kapan perjalanan di dunia ini berakhir.
Sebagaimana dikatakan Dr. Bilal Philips:
“Wahai saudari, suatu hari nanti tubuh kalian semua akan tertutup dari ujung kepala sampai kaki (terbungkus kain kafan). Maka jangan sampai hari terakhirmu di muka bumi ini menjadi hari pertamamu mengenakan hijab.”
Jangan sampai kain kafan menjadi hijab pertama kita. Biarlah ketika kematian datang, kita telah berusaha mengenakan hijab sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah Ta’ala, bukan baru mengenalnya ketika kehidupan telah berakhir.
Views: 89
