Mencari Hidayah dari Masjid ke Masjid

Letak kemenangan Islam ada di tanganmu Nak,” ucap seorang kakek tua lusuh dan kucel, sambil menyelipkan uang lima ribuan saat kami bersalaman.

Beberapa hari setelahnya, saya mencarinya lagi di masjid yang sama saat pertemuan itu. Anehnya, tidak ada seorang pun dari jamaah masjid tersebut yang mengenalnya. Akankah ia malaikat? Entahlah.

——

Tahun 1999 saya terpaksa meninggalkan Makassar. Sebuah kasus besar bakal menyeret saya ke jeruji besi. Maklum, saat itu saya masih menikmati hidup di jalanan sebagai preman.

Semua jenis pekerjaan dan perkelahian sudah kenyang saya geluti. Beruntung sebagai anak seorang tentara, saya selalu berhasil lolos dari jeratan hukum.

Tapi kali itu, saya bisa saja lolos tapi dengan syarat saya harus hijrah. Ayah mengatakan, “Kamu ke Jakarta saja, biar saya hadapi dan selesaikan masalah disini.”

Tiba di Jakarta. Saya langsung ke rumah kakak di Tanjung Priok. Tak lama. Hanya seminggu. Saya menyadari kehadiran saya kurang diterima disana, sehingga saya memutuskn untuk ikut sepupu.

Jakarta dan Makassar tak jauh beda. Panasnya pun sama. Panas udaranya juga panas emosi orang-orangnya.

Ikut sepupu, saya numpang hidup dari satu pintu kos ke pintu kos lain. Bahkan tak jarang, di gang-gang sempit kos-kosan masih terasa nikmat untuk sekedar merebahkan kepala.

Pekerjaan-pekerjaan kasar pun dilakoni. Mulai dari kernet mikrolet yang lagi “ngetem”, tukang bersih got, tukang pikul beras. Semua dilakoni hanya untuk sekedar menyambung hidup di tengah ganasnya kehidupan di Ibukota.

Hidup di jalan tak pernah bisa tidak bersitegang dengan orang jalanan lainnya. Berkelahi sudah menjadi dinamika kelamnya hidupnya saya. Hingga sebuah prestasi baru saya dapat. Ya, akhirnya saya masuk juga ke kantor polisi. Padahal dulu selalu bisa lolos.

Hingga akhirnya saya merasa jenuh. Mengapa hidup harus sekompleks ini? Penuh dengan emosi dan persinggungan dengan banyak orang.

Saya putuskan untuk hijrah ke Bekasi. Ada kakak disana.

Karena kakak tengah berlayar, saya lebih banyak tinggal di masjid dekat rumah kakak. Hati saya mulai mendapat ketenangan. Hingga sebuah pikiran tiba-tiba merasuk. Saya ingin mengadakan “safar dari masjid ke masjid” seperti yang dilakukan oleh Jamaah Tabligh.

Saya ingat betul. Saat saya mengadakan perjalanan dari masjid ke masjid itu terjadi pada bulan Ramadhan. Dengan berjalan kaki dan modal uang ala kadarnya saya memulai perjalanan.

Beragam reaksi dari para jamaah di berbagai masjid. Ada yang acuh tak acuh. Ada juga yang welcome dengan kehadiran saya. Sampai-sampai ada yang mengajak saya menginap di rumahnya.

Setidaknya, ada sekitar sepuluh masjid yang sempat saya datangi. Di sebuah masjid saya mengalami sebuah kejadian yang saya baru memahami apa maksudnya beberapa hari setelahnya.

Setelah selesai shalat berjamaah. Ada seorang kakek tua mendekati saya. Pakaiannya lusuh. Ia terlihat sangat kucel. Ia mengajak saya ngobrol tentang agama.

Hingga akhirnya, si kakek itu mengeluarkan uang lima ribuan dan dikepalkan untuk saya. Mungkin melihat keadaan saya yang terus keliling dari masjid ke masjid. Dan memang saat itu, uang yang tersisa tinggal 15 ribu perak.

Yang membuat saya heran. Sambil menggenggam erat tangan saya, ia berucap, “Letak kemenangan Islam di tangan kamu nak.”

Saat itu saya benar-benar tak mengerti perkataan si kakek. Saya hanya menganggapnya angin lalu saja.

Saya pun melanjutkan perjalanan menuju masjid lainnya. Hingga tibalah saya di sebuah masjid di daerah Tambun.

Saya singgah disitu. Langsung duduk bersandar di sebelah utara masjid karena cukup lelahnya. Tiba-tiba saya melihat sebuah kalender yang terpampang di dinding masjid.

Di kalender tersebut tertulis jelas “JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA”. Saya pernah dengar nama ini. Tapi tak cukup tahu apa itu Ahmadiyah sebenarnya.

Tak lama berselang datanglah seorang bapak yang usianya kira-kira 40-50 tahun. Ia langsung menyalami saya dengan senyum yang amat bersahabat lagi sopan. Lalu ia sampaikan, tunggu sebentar ya saya shalat Asar dulu.

Setelah ia shalat, ia langsung mendekati saya. Terjadi obrolan santai diantara kami. Singkat cerita saya bertanya kepada beliau, “Jemaat Ahmadiyah itu apa?”

Dijawabnya singkat, “Jemaah Ahmadiyah adalah Jemaat yang mempercayai kedatangan Imam Akhir Zaman.”

Kok sekarang bapak katakan akhir zaman?”

De, apakah akhir zaman yang ade maksud itu, ketika gedung-gedung yang tinggi roboh rata dengan tanah? Atau gunung-gunung beterbangan bagai kapas? Apakah itu maksud ade tentang akhir zaman? Kalau semua sudah hancur, apalagi yang perlu diperbaiki?”

Iya juga yah!” saya pun membenarkan argumen bapak tersebut dalam hati.

Terjadilah dialog panjang yang membuka rasa penasaran saya. Seputar Imam Mahdi, kewafatan Nabi Isa juga ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad saw.

Bapak tersebut akhirnya menawakan kepada saya, jika ingin tahu lebih dalam silahkan tinggal di masjid.

Tema-tema di atas benar-benar membuat saya penasaran. Sebab, ini benar-benar bersebrangan dengan konsep yang saya pahami sejak kecil. Akhirnya saya putuskan menginap beberapa hari sambil mempelajari Ahmadiyah lebih dalam.

Yang membuat saya terkesan ketika tinggal di masjid Ahmadiyah cabang Tambun ini adalah tradisi penerimaan tamunya yang bagi saya sangat spesial.

Saya diberi tempat khusus untuk tamu. Makan tiga kali sehari dalam waktu tiga hari berturut-turut yang memang ini merupakan sunnah Nabi Saw. Dan saya bisa lihat dari bahasa tubuhnya, mereka yang melayani saya memang benar-benar ikhlas. Seperti ini sudah “mentradisi” dan “mendarah daging”.

Saya berdiskusi dengan banyak orang. Mulai dari bapak tadi, yang belakangan saya tahu namanya Bapak Inang. Saya pun berdiskusi dengan para pemudanya.

Tiga hari tiga malam rangkaian diskusi berbagai masalah-masalah agama, akhirnya saya memutuskan untuk bai’at bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Saya ingat betul, hari yang penuh berkat itu jatuh pada hari Kamis, malam Jumat di bulan suci Ramadhan pada tahun 1999.

Usai ikrar bai’at. Entah mengapa, seumur hidup saya baru merasakan pelukan hangat dari saudara-saudara muslim Ahmadi sebagai ungkapan syukur dan berbahagia.

Malam itu saya diperlihatkan gambaran persaudaraan di antara sesama umat Islam. Saya demikian terharu hingga air mata ini tak bisa terbendung lagi.

Tak lama setelah bai’at saya teringat dengan kakek tua yang lusuh dan kucel itu. Saya tiba-tiba teringat dengan kata-katanya, “Letak kemenangan Islam ada di tanganmu nak.”

Akhirnya, saya putuskan untuk mencari ke masjid yang sama ketika kami bertemu. Saya tunggu dia. Saya tak melihatnya. Akhirnya saya tanya kepada beberapa jamaah disana. Tak ada satupun dari mereka yang kenal.

Aneh sekali. Sampai saya berpikir, jangan-jangan kakek tua itu adalah malaikat.

Setelah masuk Ahmadiyah kehidupan saya jadi benar-benar berubah. Hati saya makin lekat dengan masjid. Mubaligh yang bertugas di Tambun kala itu, Mln. Mudatsir membawa saya untuk tinggal di masjid Jemaat di Lemah Abang.

Waktu saya sampaikan bahwa apa yang bisa saya lakukan untuk Jemaat, saya hanya punya sedikit keahlian beladiri.

Akhirnya, beliau menugaskan saya untuk melatih bela diri di Jemaat Bojong. Disana saya cukup lama tinggal. Mengasuh para Ahmadi yang tidak aktif ikut dalam kegiatan beladiri. Tercatat ada 50 orang yang ikut serta. Hingga akhirnya masjid pun jadi ramai lagi.

Tahun 2000 Khalifah datang ke Indonesia. Saya dapat informasi telah dibuka pendaftaran menjadi “Bodyguard Huzur”. Saya daftar dan dengan karunia Allah lolos.

Saya ditunjuk jadi koordinator lapangan keamanan ring 4 yang diketuai oleh Almarhum Drs. H. Wiwil Sukamto, beliau adalah Letkol Polisi, Ketua Dislitbang Mabes Polri kala itu.

Saya sangat terharu, meski saya seorang mubayyin baru, tapi diberi kesempatan untuk menjadi koordinator lapangan. Tapi ini juga yang membuat saya sedih. Karena saya tidak bisa mulaqat dengan Huzur karena waktu mulaqat telah habis sementara tugas di lapangan harus dikerjakan.

Tapi, Allah Ta’ala Maha Adil. Setelah kegiatan Jalsah selesai. Saya ditawarkan menginap di rumah salah seorang anggota dari Bogor. Disinilah Allah Ta’ala mengobati kesedihan saya karena tidak bisa salaman dengan Huzur tercinta.

Saya duduk di sebuah kursi. Mungkin karena lelah setelah menjadi panitia. Saya tertidur. Dalam tidur tersebut saya bermimpi.

Saya bermimpi tengah mengantar Huzur kembali pulang sampai ke tangga pesawat. Saya juga melihat dalam rombongan yang mengantar ada Bapak Amir dan Bapak Raisut Tabligh.

Setelah sampai di tangga pesawat, Bapak Amir dan Bapak Raisut Tabligh berbelok. Tinggal saya dan Huzur. Saya ucapakan salam kepada beliau. Lalu Huzur memberikan tangannya. Saya langsung cium tangan beberkat beliau. Bahkan hingga saya terbangun tidak juga saya lepaskan.

Mimpi itu seperti nyata. Saya merasakan perasaan yang bercampur aduk. Saya demikian puas bermulaqat dengan Huzur meski dalam mimpi.

Tak berselang lama. Rupanya kakak saya tahu bahwa saya telah masuk Jemaat Ahmadiyah. Ia mengatakan kepada saya untuk tinggalkan Jemaat.

Namun saya jawab, “Saya tidak mungkin tinggalkan Jemaat. Karena Jemaat telah masuk ke dalam hati saya. Walau kakak letakkan pedang di leher saya, saya tidak akan pernah meninggalkan Jemaat ini.”

.

.

.

editor: Muhammad Nurdin

Hits: 40

Muhammad Muhtiar

2 thoughts on “Mencari Hidayah dari Masjid ke Masjid

  1. Kisah yg sangat menggugah keimanan.

    Kalo ga salah sekitar tahun 2000an pak Tiar juga sempat melancong ke Balikpapan Kaltim..saya dan Beliau jalan2 ke Kampung Baru Bpn. Makan coto makasar dll.

    Kalo ga salah..wk.wk.wk.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories