Mendengarkan dan Menghargai Suara Perempuan

John Glenn dilanda kegamangan. Angka-angka yang dikeluarkan komputer, baginya tak meyakinkan. “If she says the numbers are good, I am ready to go” (Jika dia bilang angka-angka itu benar, aku siap berangkat).

Dan berangkatlah ia ketika Katherine Johnson memastikan bahwa angka-angka itu benar adanya. John Glenn pun tercatat dalam sejarah sebagai manusia pertama yang mengelilingi bumi pada tahun 1962. Ya, Katherine Johnson, perempuan keturunan African American inilah yang menjadi penentu keberadaan Amerika Serikat dalam sejarah pengorbitan manusia pertama kali mengelilingi bumi.

Sebagai perempuan keturunan African American yang hidup pada tahun di mana politik apartheid masih berlaku, perjuangan Katherine tidak mudah. Di dalam film Hidden Figures yang berangkat dari buku dengan judul yang sama, kita bisa menyaksikan bahwa bahkan untuk toilet saja, ada pembedaan bagi orang-orang berkulit putih dan orang-orang dengan kulit berwarna.

Pada tahun 1962 itu, menjadi African American saja sudah pasti mendapatkan perlakuan diskriminatif. Apalagi bagi Katherine Johnson, perempuan keturunan African American. Tetapi, dengan kegigihannya, hari ini sejarah mencatat, Amerika Serikat, sebuah negara yang diakui sebagai negara adidaya, baru bisa mengirim manusia mengelilingi bumi ketika mereka bersedia mendengar suara dan menghargai kemampuan perempuan.

Di dalam banyak ayat, Al-Qur’an sering mencantumkan perintah untuk laki-laki dan perempuan. Laki-laki disandingkan dengan perempuan adalah tanda bahwa keduanya sebagai dua jenis manusia yang setara dalam kewajiban dan kemampuan untuk melakukan kebaikan. Contohnya dalam ayat berikut ini:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang berserah diri, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang patuh, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang merendahkan diri, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kesuciannya, serta laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah menyediakan bagi mereka semua ampunan dan ganjaran yang besar.” [QS. Al-Ahzab 33: 36]

Islam memang membedakan laki-laki dan perempuan dari sisi anatomi tubuh dan karakter yang membersamainya. Tapi soal kemampuan untuk mencapai kemajuan, Islam menegaskan tak ada perbedaan. Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki kemampuan untuk maju, baik dalam bidang keduniawian maupun kerohanian.

Bila Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mendengar dan menghargai suara perempuan, kita tidak akan mendengar begitu banyak petuah dan makrifat dari Hadhrat Rasulullah saw. yang selama ini didengar dan disaksikan oleh Hadhrat Aisyah r.a.

Sebagai istri Hadhrat Rasulullah saw., seseorang yang paling dekat dalam keseharian Yang Mulia saw., Hadhrat Aisyah r.a. yang paling tahu bagaimana karakter dan teladan sesungguhnya beliau saw. ketika tersembunyi dari umatnya di luar rumah.

Bayangkan betapa meruginya dunia bila semua hikmah dan makrifat dari Yang Mulia saw. yang didengar dan disaksikan Hadhrat Aisyah r.a. tak bisa kita ketahui karena tak bersedia mendengar dan menghargai suara perempuan.

Bahkan, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. memuji kemampuan perempuan dengan menyatakan, “…hanya perempuan yang mampu menantang syaitan secara tetap.”

Kita bisa menyaksikan sendiri di masa kini bagaimana nasib dari bangsa-bangsa yang tak mau mendengar dan menghargai suara perempuan. Alih-alih mengakui kemampuannya dan mengajak kerjasama, perempuan justru dikekang dan dikungkung untuk diam di rumah.

Apa yang mereka lakukan justru membuat mereka semakin dan terlalu jauh dari kata ‘kemajuan’. Bukan saja jauh dari kemajuan ekonomi, bahkan tak setitik pun mereka mampu mencapai kemajuan dalam moral dan keberadaban sebagai manusia.

Melinda Gates menyatakan dalam bukunya, The Moment of Lift, “…laki-laki yang berkuasa, yang memahami bahwa berbagi wewenang dengan para perempuan menjadikan mereka mampu meraih tujuan-tujuan yang tidak bisa mereka raih bila mereka mengandalkan kekuatan mereka sendiri.”

Tidak ada kebaikan dalam sikap meremehkan dan merendahkan. Karena, Hadhrat Abu Bakar r.a. menyatakan, “Setiap segala sesuatu itu ada kelebihannya. Maka janganlah suka meremehkan dan merendahkan.”

Perempuan tidak berhak diremehkan dan direndahkan laki-laki. Manusia yang kurang dalam ekonomi tidak berhak diremehkan atau direndahkan oleh manusia yang kelebihan dalam ekonomi. Manusia yang kurang dalam pendidikan tidak berhak diremehkan atau direndahkan oleh manusia yang kelebihan dalam pendidikan. Dan begitu seterusnya.

Sebagai seorang Muslim, sudah selayaknya kita menanamkan dalam diri sendiri untuk tidak pernah meremehkan dan merendahkan siapapun. Karena siapapun dia, selalu ada kelebihan yang bisa melengkapi dan bersama-sama menciptakan kemajuan.

Visits: 59

Lisa Aviatun Nahar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *