Menghadapi Masalah dan Meyakini Pertolongan-Nya

Sehari sebelum tulisan ini dibuat, penulis melihat sebuah video di salah satu media sosial. Dalam video itu ada seorang ibu yang menceritakan kisah hidupnya. Ibu itu mengatakan bahwa ia terlilit utang sebesar 20 juta rupiah, jumlah yang sangat besar untuknya. Lalu sang penagih kembali datang, hanya memberikan waktu satu hari saja untuk melunasi utangnya atau rumahnya akan disita.

Saat itu sang ibu sudah sangat putus asa, ia lalu berniat menghilangkan nyawanya sendiri. Tangannya kemudian dengan cepat memasang tali di plafon rumahnya untuk menggantung tubuhnya. Saat ia memasangkan tali di leher, ia lalu teringat bahwa ia belum shalat, ibu itu lalu memutuskan untuk menunaikan shalat dahulu.

Selesai shalat, kedua matanya melihat al-Qur’an, lalu ia pun berniat mengaji dulu. “Biar Allah mengampuni perbuatanku dan memasukkan aku ke surga,” ucapnya dalam hati.

Ibu yang tengah gelisah itu mengaji terus menerus hingga akhirnya ia tertidur. Saat ia bangun, ia langsung tersadar bahwa pikirannya telah dipengaruhi setan sehingga ia terpikir untuk melakukan bunuh diri.

Akhirnya ibu itu membatalkan niat buruknya dan pasrah bila memang harus terusir dari rumahnya. Ia terus berdoa memohon pertolongan Allah Ta’ala. Kemudian ia mengambil ponsel dan berniat menghubungi saudaranya untuk mencari tumpangan tempat tinggal.

Saat meraih ponsel, jarinya tidak sengaja menyentuh salah satu logo aplikasi berjualan online di layar, di mana ia mengikuti program ‘affiliate’ pada aplikasi itu. Ia pun membuka aplikasinya dan alangkah terkejutnya saat ia membuka bagian pendapatan komisi, ada angka senilai 24 juta rupiah di sana. Padahal selama ini ia yakin tidak pernah ada komisi yang masuk ke rekeningnya karena usahanya sepi.

Sang ibu langsung menangis dan terus beristighfar. Merasa sangat malu pada Allah Ta’ala karena saat dirinya memiliki niat buruk pun bahkan Allah masih menurunkan pertolongan-Nya. Segera ia memohon ampun pada Allah dan terus bersyukur.

Di hari yang sama pada sore hari, penulis berjalan kaki melewati satu lapangan sepak bola. Ada beberapa anak perempuan balita yang tengah berkumpul di salah satu sudut lapangan. Wajah-wajah lucu mereka tampak serius, dahi mereka mengerut. Tangan di dagu dan juga ada yang meletakkan jari di kening. Salah satu dari anak perempuan itu berkata, “Kita mau ngapain hari ini, ya?”

Betapa mencari permainan yang akan dimainkan merupakan masalah berat untuk mereka. Orang dewasa mungkin akan dengan mudah menyarankan berbagai macam permainan, akan tetapi hal itu merupakan hal yang cukup sulit untuk anak-anak itu. Setelah beberapa langkah penulis meninggalkan mereka, tidak lama kemudian terdengar suara para balita itu tertawa dan mereka sudah bermain bersama.

Dari dua kejadian di atas kita semakin paham bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Semua manusia diberikan ujian sesuai keadaan dan kemampuannya masing-masing, dan Allah akan menurunkan pertolongan-Nya.

Hidup adalah tentang bagaimana kita menyikapi suatu masalah yang datang. Masalah yang dibiarkan berlarut-larut dapat berujung pada stres yang berpotensi mengganggu kesehatan dan ketenteraman hidup.

Sedangkan bila kita bisa menghadapi semua masalah dengan tenang, kita bisa berpikir dengan jernih untuk mencari penyelesaian dari masalah yang sedang menimpa. Tentu saja dengan disertai shalat dan doa memohon petunjuk dari Allah Ta’ala.

Saat kita mampu menghadapi masalah dengan tenang dan pikiran kita selalu positif, maka kebahagiaan akan menyertai kita. Hati akan terasa lapang.

Seorang penulis dan motivator yang berasal dari New York mengatakan bahwa, “Kebahagiaan bukanlah tidak adanya masalah, melainkan kemampuan untuk menghadapinya.” (Steve Maraboli)

Ibarat merangkai sebuah puzzle. Setiap orang menghadapi tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Anak-anak mungkin menyusun puzzle yang hanya terdiri dari enam keping, sedangkan orang dewasa menyusun puzzle yang terdiri dari ratusan keping.

Cara mengerjakan puzzle itu akan menentukan hasil akhirnya. Orang yang tenang dan mengerjakan dengan teliti perlahan akan mampu menyelesaikan puzzle miliknya. Sedangkan orang yang ceroboh akan sulit menyelesaikan puzzle dan malah akan menghilangkan beberapa keping puzzle.

Kita harus menghadapi semua masalah dengan lapang dada disertai keyakinan bahwa Allah selalu bersama kita. Berpikir dengan tenang untuk mencari jalan keluar dan terus meningkatkan ibadah dan sedekah.

Orang-orang beriman akan selalu menjalani hidupnya dengan penuh kebahagiaan dalam situasi apapun, karena ia yakin bahwa Allah selalu bersamanya. Dan semua rencana Allah pastilah yang terbaik.

Seorang penulis buku spiritual yang terkenal di Amerika Serikat bernama Eckhart Tolle menyatakan, “Penyebab utama ketidakbahagiaan bukanlah sebuah situasi, melainkan pikiran kita mengenai situasi tersebut”.

Tidak peduli seberapa buruk situasinya di mata kita, Sang Maha Pengasih dan Penyayang senantiasa mengawasi hamba-Nya serta akan selalu menurunkan pertolongannya. Sebagaimana tertuang dalam al-Qur’an: “Allah tidak membebani suatu jiwa melainkan apa yang telah Dia berikan kepadanya. Allah akan segera menjadikan kemudahan sesudah kesulitan.” (QS. Al-Talaq: 8)

Visits: 83

Maya Savira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *