
Mengedepankan Toleransi Memupuk Perdamaian
Alkisah, ketika fajar menyingsing rumput-rumput pun masih sangat berembun, tepatnya pada tahun 2009, berjalanlah seorang ibu muda menuntun tangan mungil anaknya hendak menuju kampung sebelah tempat tinggalnya.
Setiap pagi sebelum matahari memancarkan teriknya, ia bergegas hanya untuk sekedar membeli stok makanan ringan anaknya serta membeli sembako. Dan untuk kembali ke rumahnya ia seakan-akan harus mengendap-endap melewati perkebunan supaya tidak bertemu atau diketahui orang.
Suatu ketika, karena turun hujan pada malam sebelumnya, jalanan pun licin. Namun, pagi harinya sebelum banyak orang beraktivitas, ia harus segera pergi ke warung dan segera pula kembali ke rumah. Jalan setapak yang ia lewati rupanya licin. Tanpa diduga, anaknya terpeleset dan terjatuh. Sang ibu segera memangku sang anak dalam dekapannya, “Sabar, ya, Nak! Maafkan Ibu!” lirihnya dengan matanya berkaca mengingat apa yang kini ia pertahankan.
Ya, demi sebuah keyakinan yang kini ia pertahankan. Ajaran Ahmadiyah yang telah ia yakini dipandang sesat oleh orang-orang yang serta dengan mudah mengkafirkan orang yang berbeda keyakinan dengannya. Dengan alasan demikianlah sang ibu rela menghindari pertemuan dengan orang-orang sekitar rumah, karena intimidasi yang telah ia terima. Ia menghindari setiap pertanyaan yang akan dilontarkan kepadanya. Karena suaminya bekerja di luar kota, maka tinggallah ia berdua dengan anaknya yang masih berusia 3 tahun.
Hampir setiap waktu rumahnya dipantau oleh orang berseragam loreng, ia cukup diam di rumah dengan pintu, jendela, dan gorden yang selalu tertutup. Sementara sang anak pun seolah mengerti. Ketika ada seseorang yang memantau sekitar rumah, tak sedikit pun sang anak mengeluarkan suara supaya terlihat rumahnya kosong tanpa penghuni. Sebab, apabila mereka tahu ada orang di rumah maka mereka akan menyodorkan surat pernyataan yang harus ditandatangani. Semacam pemaksaan yang akan ia alami.
Demi mempertahankan keimanannya, kesulitan pun tak ayal ia hadapi. Ia bersembunyi karena seolah tak memiliki kekuatan apapun untuk bisa menghadapi sendiri orang-orang yang tak mampu melihat kebenaran. Namun, Allah Yang Maha Pengasih tak pernah diam. Dengan tangan-Nya-lah segala bentuk perlindungan hadir, menguatkan serta memberikan jalan kebaikan.
Setelah satu minggu berlalu, akhirnya pintu rumah kembali dapat terbuka tanpa rasa takut. Namun, mesjid mereka disegel lalu kubahnya pun diturunkan. Orang-orang tersebut memenuhi kepuasan hatinya dengan berbuat zalim dan mereka mengancam membuat kerusakan apabila mesjid dipakai.
Nauzubillah! Apakah mereka tidak menyadari bahwa dengan melarang orang-orang datang ke rumah Allah sama artinya dengan melarang orang-orang beribadah? Karena sejatinya orang-orang yang datang ke mesjid merupakan orang yang hendak mensucikan diri, tidak ada hal yang laghaw (perbuatan sia-sia) ketika beraktifitas di dalam mesjid selain beribadah.
Allah SWT. berfirman, “Dan di antara mereka ada yang beriman pada-Nya itu dan di antara mereka ada pula yang tidak beriman kepada-Nya. Dan tuhan engkau lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan jika mereka mendustakan engkau, maka katakanlah, “Bagiku amalanku dan bagimu amalanmu. Kamu tidak bertanggungjawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku tidak bertanggungjawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” [*]
Dapat kita pahami bahwa menerima perbedaan merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Dan salah satu sikap yang tentunya mampu meminimalisir terjadinya konflik ialah toleransi yang tinggi. Toleransi dan kebebasan adalah dua hal yang sering berseberangan dalam kehidupan manusia, terutama dalam masyarakat. Perbedaan persoalan ini menjadi rumit dalam ranah agama.
Bahkan, tak jarang pula kebebasan beragama dipandang sebagai sesuatu yang menggangu kerukunan. Padahal kerukunan akan terwujud ketika adanya saling menghormati baik antaragama, suku, ras, dan golongan. Hakikatnya hidup berdampingan, pengertian, dan toleransi tinggi adalah akar dari kerukunan.
Semoga dengan terciptanya toleransi beragama, kita dapat saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain dan menyatukan perbedaan.
Referensi:
[*] QS. Yunus 10: 41-42
Views: 41