Menjadi Bunga dalam Membalas Keburukan

Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri, selalu berinteraksi dengan sesama. Karena kita hidup di dunia ini saling membutuhkan satu sama lain.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak  lepas dari yang namanya tersakiti. Hanya kita mau menempatkan posisi di mana, apakah kita mau jadi orang yang suka menyakiti atau orang yang mencoba tetap baik meski sering disakiti atau jadi pendendam?

Allah Ta’ala berfirman, “Tolaklah keburukan itu dengan cara sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti  seorang sahabat yang setia” (QS. Fushilat : 34).

Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, “Jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang telah merusaknya.”

Begitulah seharusnya kita ketika menghadapi orang yang menyakiti kita. Tetaplah berbuat baik meski orang lain memperlakukanmu tidak baik. Balaslah prilaku buruk orang lain dengan kebaikan karena lambat laun hatinya akan luluh oleh kebaikanmu.

Hal ini senada  pula dengan yang disampaikan oleh Masih Mau’ud as., “Jika ada orang yang karena nakalnya mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh terhadapmu, maka hendaklah kamu membalas dengan sikap rukun melalui cara yang baik, maka dengan jalan demikian musuh pun akan dapat menjadi kawan.” 

Memang bukan perkara yang mudah untuk menahan marah atau emosi, sehingga banyak yang jatuh ke dalam godaan untuk membalas dengan hal yang sebaliknya. Karena itulah ketika Abdullah bin Amr menanyakan hal apakah yang bisa menjauhkannya dari murka Allah? Rasulullah menjawab: “Laa taghdhab (Janganlah kau marah)” (HR Imam Ahmad)

Terakhir, ada sebuah kisah menarik. Suatu ketika pelayan Imam Hasan Al-Bashri menyampaikan bahwa seseorang telah menjelek-jelekkan namanya. Mendengar hal tersebut, sang Imam kemudian memanggil pelayan dan memintanya untuk memberikan kurma pada orang tersebut. 

Pelayan berkata, “Wahai Imam, bukankah dia telah menjelekkanmu di hadapan orang banyak. Tapi kenapa engkau malah memberinya kurma?” Sang imam pun menjawab, “Bukankah sudah sepantasnya aku memberikan hadiah bagi orang yang telah membuat diriku diterima di sisi Allah SWT.”  

Ketika semua orang sudah bisa membalas keburukan dengan kebaikan, di situlah kedamaian dan kenyamanan akan tercipta. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang selalu berusaha menerapkan Al-Quran dalam kehidupan kita sehari-hari.

Hits: 245

Yati Nurhayati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories