Hati-Hati! Jangan Tergelincir karena Jabatan

Jabatan di era abad saat ini selalu menjadi simbol kehidupan yang diburu dan dikejar siapa pun. Mereka yang memiliki jabatan tertinggi merasa akan selalu dihormati, disegani bahkan dibangga-banggakan sesamanya.

Sehingga tak heran bila cara apapun ditempuh. Menghalalkan segala cara jadi trik yang paling digemari. Tiada rasa malu terhadap sesama, dan tiada takut kepada Sang Penciptanya.

Sepantasnya bagi seseorang untuk tidak meminta jabatan apapun. Namun, apabila ia diangkat bukan karena permintaannya, maka ia boleh menerimanya. Akan tetapi, jangan meminta jabatan, karena jabatan dunia itu bukanlah apa-apa.

Dalam sebuah hadist diriwayatkan “Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.” (HR. Ath-Thabrani)

Dengan demikian, betapa berat tanggungjawab kepemimpinan dalam pandangan Islam. Karena apa yang dilakukan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya akan berimplikasi pada kehidupannya di akhirat kelak.

Sayyidina Umar bin Khaththab ra. adalah satu dari sekian banyak role model kepemimpinan Islam yang demikian menginspirasi dan layak menjadi teladan umat sepanjang zaman.

Jangankan rakyatnya dari kalangan manusia, nasib seekor keledai pun tak luput dari perhatian sang Khalifah. Pernyataan beliau begitu terkenal, “Seandainya seekor keledai terperosok karena jalanan berlubang di kota Baghdad, maka aku sangat khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban.”

Tak ada kesan jumawa, apalagi rakus terhadap kekuasaan. Yang ada adalah sikap tawadhu dan kesadaran bahwa di balik semua amanah kepemimpinanya ada keyakinan bahwa semua akan dipertanggungjawabkan di hari yang tak mengenal kesusahan.

Seorang Hz. Umar ra. yang kekuasaannya telah meliputi jazirah Arab dan ditakuti negara musuh diketahui tak memiliki pakaian selain apa yang dikenakan plus yang dicuci sebagai penggantinya. Keluarganya pun tak punya privilege khusus sebagai bagian dari trah penguasa. Mereka diperlakukan sama sebagai rakyat biasa.

Hasilnya, rakyat yang ada di bawah kepemimpinan mereka bisa merasakan hidup sejahtera dan mulia. Bahkan selama belasan abad, umat ini tampil sebagai umat terbaik, menjadi pionir peradaban cemerlang di tengah-tengah entitas lainnya.

Semoga kita dapat meneladani dari Hz. Umar Bin Khatab ra., sekecil apa pun tanggung jawab kepemimpinan yang dipercayakan di pundak kita. Aamiin.

Hits: 209

Endah Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories