Perempuan Pemburu Surga

Surga itu jauh, mungkin itulah anggapan banyak orang. Tak heran jika kemudian cukup banyak perempuan yang pergi jauh-jauh meninggalkan rumah. Pergi subuh pulang malam demi meraih surga lain dan merelakan rumah dan anak ditinggalkan. Tuntutan pekerjaan di luar memang harus dijalani dengan profesional dan konsekuen jika sudah memilih opsi surga yang itu. Ada juga yang memang itu bukan opsi pilihan, alias merasa keharusan di saat suami membutuhkan bantuan istri untuk ikut serta menafkahi keluarga. 

Di luar semua itu, betulkah surga itu jauh? Jawabannya, bisa ya, bisa juga tidak. Banyak jalan menuju surga karena pintu surga itu banyak. Ada surga dari pintu dhuha dan pintu lainnya. Bahkan yang lebih ekstrim, beberapa kaum adam ada yang berupaya menanamkan pengertian pada istrinya untuk menerima poligami sebagai pintu surga yang paling jitu. Reaksinya tentu sudah dapat diduga, mayoritas istri akan menjawab, “Saya pilih surga dari pintu lain saja.” 

Ketika ada yang mengatakan surga itu dekat bagi perempuan, tentu itu juga tidak aneh karena Allah Ta’ala telah menyediakan lahan jihad perempuan di rumah. Di setiap detik waktunya di rumah dapat menjadi butiran surga. Perempuan bekerja 24 jam di rumah tanpa kenal waktu istirahat dan tanpa hari libur. Memang cukup dramatis juga, profesi mulia seorang ibu rumah tangga seringkali disebut dalam pendataan sebagai “tidak bekerja”. Sungguh ironis kategori itu. Tidak sesuai dengan jumlah jam dan hari kerjanya. 

Lahan surga itu dekat, hanya selangkah saja sampai. Sangat gembur lahannya. Dalam seribu langkah perempuan ada seribu surga untuk anaknya dan warga rumah lainnya. Maka tak pelak lagi jika tulisan indah menyebutkan “Surga itu di telapak kaki ibu”. Bila seorang ibu rajin melangkahkan kakinya ke tempat dugem, sudah dapat dibayangkan bagaimana anak hasil langkah kaki ibu itu. Sebaliknya, jika seorang ibu rajin ke masjid, anak-anak merupakan peniru ulung dan akan meniru seindah aslinya. 

Apalagi bila di rumah pun ada orangtua lansia yang sedang dirawat, betul-betul surga yang sempurna menanti di rumah. Alangkah idealnya, andai perempuan yang stay di rumah bisa membuka lapangan kerja di rumah. Itu sungguh karunia. Bisa bantu suami mencari nafkah tanpa harus meninggalkan anak sehingga anaknya mendapat asuhan ibundanya. Sang ibu bisa mendidiknya menjadi generasi penerus yang secerdas dan setaqwa ibunya. Setinggi-tinggi perempuan menuntut ilmu maka ilmunya itu sebisa mungkin digunakan untuk modal mengasuh anaknya dan untuk berkhidmat pada agama. 

Surga itu begitu dekatnya. Semoga kita kaum perempuan bisa meraih surga yang dekat itu dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

 

 

Hits: 102

Iim Kamilah

1 thought on “Perempuan Pemburu Surga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories