PERJALANAN MENANTANG NYAWA BERTEMU SANG KHALIFAH

Hari ini bertepatan dengan 112 tahun berdirinya Khilafat Jemaah Muslim Ahmadiyah. Pencapaian satu abad lebih yang menunjukan kebesaran Allah Ta’ala akan kebenaran nubuwatan Sang Rasul Karim Muhammad Mustafa SAW.

Secara pribadi saya memiliki kenangan yang begitu mendalam. Betapa bersyukurnya saya karena diberikan karunia untuk turut menikmati keberadaan seorang Khalifah dalam kehidupan ini.

Dua puluh tahun lalu tepatnya di tahun 2000, negeri tercinta kita kedatangan seorang Tamu Agung. Beliau adalah Khalifatul Masih IV rha. Kedatangan beliau adalah hadiah terbesar untuk Ahmadi di Indonesia karena bertepatan dengan 75 tahun berdirinya Jemaah Ahmadiyah Indonesia.

Ribuan Ahmadi datang dengan penuh sukacita ingin bermulakat dengan beliau. Tak terkecuali Ahmadi dari pulau Lombok. Semua anggota keluarga saya pun ikut menghadiri jalsah nasional saat itu.

Saat itu saya sedang hamil anak pertama. Perasaan saya begitu sedih dan nestapa karena hanya seorang diri di rumah menunggu detik-detik akan melahirkan. Bidan memprediksi saya akan melahirkan pada akhir bulan Juli tahun itu.

Setiap malam mata tak mampu terpejam membayangkan orang-orang Ahmadi bertatap muka, bermulakat dengan Huzur tercinta. Dalam kesedihan yang begitu perih, saya berdoa dalam sujud memohon kepada Yang Maha Kuasa. Semoga saya diberi kesempatan, meskipun sekali dalam seumur hidup, bisa berjumpa dengan wujud suci itu.

Sampailah berita bahwa Huzur akan berkunjung ke Bali. Semua anggota Ahmadi di Lombok akan hadir bermulaqat dengan Huzur.

Bertambahlah kesedihan di hati ini. Semakin kencang pula doa saya panjatkan memohon belas kasih-Nya agar memberikanku kesempatan hadir seperti yang lainnya.

Seminggu sebelum keberangkatan rombongan anggota Lombok ke Bali, dalam tiga malam berturut-turut saya bermimpi menyelam ke dalam laut. Saya mengambil mutiara yang begitu banyak. Saya timbul dan tenggelam mengambil mutiara itu untuk dibawa ke permukaan.

Dan anehnya dalam tiga hari itu mimpinya selalu bersambung. Sampai pada malam ketiga mimpi saya rupanya masih belum tuntas. Ada sesuatu yang sangat istimewa yang harus dapat saya ambil di dasar laut itu, yaitu sebuah tiara.

Dengan bersusah payah tiara itu akhirnya dapat saya raih. Kemudian segera saya naik ke permukaan. Betapa terkejutnya saya karena ternyata di atas permukaan seseorang sudah menunggu. Beliau adalah Hazrat Khalifatul Masih IV rha.

Beliau meraih tiara yang sudah berhasil saya ambil di dasar laut. Dengan senyumnya yang begitu lembut beliau memakaikan tiara itu di kepala saya.

Kemudian saya terbangun dari mimpi. Dalam hati saya berkata, “Ya Allah, apakah Engkau menghibur hamba dengan menghadirkan Huzur yang begitu hamba rindukan?” Berderai air mata saya membayangkan wajah lembut beliau rha.

Tibalah waktu keberangkatan rombongan ke Bali. Gelisah dan sedih semakin berkecamuk di hati ini.

Ketika rombongan akan berangkat, malam harinya tiba-tiba dengan spontan saya sampaikan kepada kakak perempuan bahwa saya akan ikut saja. Beliau sangat terkejut. “Kamu kan mau lahiran. Bagaimana nanti kalau kamu melahirkan di kapal?” serunya.

Saya pun menimpali, “Bagaimana nanti saja. Yang penting saya mau ikut. Lagipula kalau saya diam di sini, siapa juga yang menemani saya melahirkan? Prediksi bidan kan akhir bulan lahirannya dan ini masih awal bulan,” saya berseloroh dengan wajah memelas.

Tak ada yang menolak keinginan saya untuk ikut. Lalu saya pun mengemasi barang-barang seperlunya, hanya satu lembar kain dan obat-obatan homeopati untuk jaga-jaga bila terjadi sesuatu di luar keinginan saya.

Berangkatlah kami menuju pelabuhan untuk menaiki kapal laut. Hampir tengah malam kami akhirnya menaiki kapal. Dalam keramaian orang-orang yang menaiki kapal, saya bertemu dengan seseorang yang tak asing. Beliau adalah bidan langganan saya, yang mana saya akan melahirkan di tempatnya. Namanya bidan Asih.

Beliau sangat terkejut melihat saya bepergian jauh, apalagi naik kapal laut. Beliau berucap, “Ya ampun, Dek! Kamu kan mau lahiran. Kenapa naik kapal? Kan harus naik tangga ke ruangan istirahatnya.”

Sembari tersenyum saya menjawab, “Hehe, kan ada bu bidan nanti yang bantu kalau ada apa-apa.”

Beliau pun hanya bisa geleng-geleng kepala dan bilang, “Nekat. Mau lahiran anak pertama berani pergi jauh-jauh.”

Saya pun kembali menaiki tangga demi tangga. Bayangkan! Dalam keadaan hamil tua, mau lahiran pula. Siapa yang tidak mengalami kontraksi. Yang melihat pun nampak ikut mengalami kontraksi. Hehe.

Dalam keadaan sudah kelelahan naik tangga, ternyata tak ada satupun tempat duduk yang saya dan kakak dapatkan. Akhirnya kami memilih istirahat di tumpukan barang dagangan penumpang yang isinya pakaian.

Saya kemudian berbaring melepas lelah, mengatur nafas yang sudah ngos-ngosan menaiki tiga tangga. Tak lama kemudian, perut saya terasa mulas. Saya pikir ini bukan pertanda akan melahirkan, ini hanya sakit perut biasa.

Sayapun bergegas ke kamar mandi, namun tak ada kamar mandi yang kosong di lantai tempat saya istirahat. Akhirnya karena perut terasa sangat sakit, saya pun ke lantai bawah.

Di kamar mandi ternyata saya bukannya mau buang air besar, ternyata saya merasakan ada tekanan dari dalam perut. Saya tak merasakan ada air ketuban yang keluar, dengan perlahan saya naik kembali ke lantai atas. Saya menemui kakak yang sedang terlelap dan berbisik padanya kalau sepertinya saya akan melahirkan.

Sontak kakak terkejut dan segera beliau mencari anggota Jemaat yang lain untuk membantu. Semua bingung mau menyiapkan apa karena tidak bawa perlengkapan apapun. Namun berkat pertolongan Allah SWT, ibu-ibu yang ikut rombongan ada yang masih punya bayi. Kami pinjamlah perlengkapan bayinya. Ada juga nenek-nenek yang merelakan bengkung/korsetnya. Bahkan ada pula seorang bule yang rela merogoh tas punggungnya yang panjang untuk memberikan madu miliknya.

Ombak di laut saat itu sangat kencang, kapal pun bergoyang dengan hebatnya. Sampai ada yang berpikir, apakah kapal akan tenggelam karena kapasitas penumpang yang begitu membludak?

Begitu susahnya mencari tempat untuk saya bisa rebahan. Semua sibuk dan juga panik. Saya pun berusaha setenang mungkin sembari menahan rasa sakit yang terus menekan. Saya minum obat homeopati yang dibawa sambil berdoa, “Ya, Allah! Kalau memang saya akan melahirkan di kapal ini, saya mohon padaMu selamatkanlah saya dan bayi saya. Kami ingin bertemu dengan Khalifah.” Air mataku menetes mengucapkan doa.

Akhirnya didapatkan tempat yang hanya satu-satunya tempat kosong, yaitu di lorong antara tempat menginap para mualim kapal. Bidan Asih pun ternyata sudah ada di depan saya. Dengan lihai si ibu bidan membantu. Beliau berucap, “Kamu harus pandai-pandai dan ikuti arahan saya. Jangan sampai jalan lahirnya terkoyak!”

Saya mengerti ucapan beliau. Bila salah sedikit saja dalam mengikuti arahan bu bidan, mungkin akan ada pendarahan. Tidak ada pertolongan apapun yang tersedia bila nanti ada pendarahan, karena kapal sedang di tengah lautan dan dua jam lagi baru akan bersandar.

Di tangan masih tergenggam homeopati. Ketika terasa tak mampu mengejan, saya berhenti sejenak dan meminum homeopati sembari mengumpulkan tenaga. Dalam hati saya kembali mengulang-ngulang doa, “Ya, Allah! Selamatkanlah saya dan bayi saya. Ijinkanlah kami bertemu dengan Huzur.”

Dan saat berucap itu tidak ada rasa sakit apapun saya rasakan. Yang ada di benak, saya dan bayi harus selamat. Di depan mata saya yang nampak wajah Huzur. Beliau seperti menyemangati saya dan mengucapkan, “Bismillaahirrahmaanirrahiim.” Saya pun mengikuti ucapan beliau.

Dan setelah berjuang dengan segenap tenaga, akhirnya bayi mungil saya keluar dengan selamat. Namun, bayiku tidak mengeluarkan tangisnya. Dia terdiam. Kepanikan sesaat nampak di wajah semua orang.

Bidan Asih dengan cekatan menepuk pundak dan tubuh bagian belakang bayi saya. Beberapa saat kemudian keluarlah suara tangisannya. Perasaan lega menyelimuti semua orang di atas kapal itu.

Dan semua pun merasa terheran-heran. Kapal yang sejak tadi bergoyang begitu kencangnya tiba-tiba berhenti setelah lahirnya bayi saya. Banyak yang menyaksikan ikan lumba-lumba berlompatan di sisi kapal. Semua orang pun berseloroh, “Rupanya ada yang ditunggu makanya ombak begitu kencang.”

“Ternyata ada si anak kapal mau lahir,” gumam mereka. Nakhoda kapal pun menemui saya dan memberikan sertifikat kelahiran bayi saya. Karena bayi saya perempuan, oleh sang Nakhoda diberi nama Citra, diambil dari nama kapalnya Citra Mandala Putra.

Nakhoda kapal pun bercerita bahwa di kapal ini sudah tiga kali ada yang melahirkan namun hanya saya yang selamat. Yang lainnya meninggal tidak bisa diselamatkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun.

Sembari meneteskan air mata, dengan lirih saya berucap, “Ya, Allah! Semua karena pertolongan-Mu. Apa yang tidak mungkin menjadi mungkin bila Engkau yang berkehendak.”

Setelah dua jam lamanya berada di tengah lautan, akhirnya menjelang subuh kapal akan bersandar di dermaga. Rupanya khabar saya melahirkan sudah terdengar sampai pelabuhan. Orang-orang pun berbondong-bondong merapat mendekati kapal yang saya naiki. Dan bak seorang yang terhormat, semua bertepuk tangan menyaksikan saya ditandu oleh petugas.

Singkat cerita setelah melalui pemeriksaan kesehatan di rumah sakit, saya pun dibawa ke hotel tempat rombongan kami menginap. Kami mendengar Huzur sudah berada di hotel tempat beliau menginap karena keesokan harinya beliau akan hadir menyapa anggota Ahmadi dari berbagai tempat di Indonesia Timur. Namun karena kondisi yang belum memungkinkan, saya pun hanya beristirahat di penginapan.

Esok harinya ada mulaqat perkeluarga dan berfoto bersama Huzur. Kabarnya Huzur akan segera kembali ke Jakarta dan akan bertolak ke London.

Satu demi satu keluarga dapat merasakan karunia berfoto bersama Huzur. Di tempat penginapan saya terus berdoa semoga saya pun bisa mendapat karunia itu. Menjelang malam selepas Isya ada kabar bahwa mulaqat disudahi karena kondisi Huzur sudah nampak lelah.

Saat itu mubaligh daerah Nusra, Alm. Mln. Attaur Razak, Shd. menyampaikan kepada Huzur tentang seorang LI dari Lombok melahirkan di atas kapal laut karena ingin bermulaqat dengan Huzur. Menurut penuturan Bp. Mln. Attaur Razak, Huzur terkejut dan membatalkan kembali ke Jakarta.

“Berkat kamu, Huzur membolehkan yang lain mulaqat,” ucap Mln. Attaur Razak saat itu. Rasa bahagia dan bersyukur pun saya ucapkan.

Esok harinya tibalah giliran kami bermulaqat. Hari itu saya merasakan tubuh saya sangat sehat dan saya bisa berjalan sendiri tanpa dipapah. Padahal malam harinya sekujur tubuh terasa sangat sakit. Semua berkat kegembiraan yang tak terkira di hati karena akan bermulaqat dengan Huzur.

Derai air mata tak henti-henti mengalir karena perasaan syukur yang tak terhingga. Orang-orang yang akan ikut mulaqat pun terus mengucapkan terima kasih pada saya. Hehe.

Mereka juga memasukkan uang ke dalam tas yang saya bawa, mungkin sebagai tanda bersyukur dan berterimakasih, karena menurut mereka, berkat saya, mereka jadi bisa mulaqat dengan Huzur.

Saya pun diberikan waktu lebih awal bermulaqat pagi itu. Tak bisa digambarkan bagaimana kebahagiaan yang meliputi hati ini berjumpa langsung dengan sang Tamu Agung Huzur tercinta. Dengan lembut Huzur membelai bayi saya dan memberi nama Shaira Begum. Serta, tak lupa beliau mendoakan kami, “Semoga berkat Allah Ta’ala selalu bersama kalian.” Beliau juga menyisipkan sebatang coklat di kain bedongan bayi saya.

Bayi mungil itu kami beri nama dengan menggabungkan nama pemberian Huzur dan nama dari kapal sebagai kenang-kenangan yang tak terlupakan. Dan sebagai hadiah dari kapal ketika kami berangkat pulang ke Lombok, puluhan yang ikut dengan rombongan saya digratiskan naik kapal dan tanpa tiket. Masya Allah!

Betapa luar biasa kenangan dan berkat yang saya dapatkan dalam perjuangan untuk bertemu wujud suci Huzur tercinta. Allah Ta’ala ridhoi perjalanan saya, memberikan saya perlindungan dan keselamatan di perjalanan dan juga dalam proses persalinan di atas kapal.

Allah Ta’ala juga seketika menghilangkan rasa sakit yang sempat saya alami setelah proses persalinan. Dia berikan saya kesehatan dan juga kebahagiaan bisa berjumpa dengan sosok Yang Mulia Hz. Khalifatul Masih IV rha. Sungguh sebuah kenangan yang begitu berharga dan takkan pernah terlupa.

Dengan berjuang untuk berjumpa dengan wujud suci Khalifah-Nya saja, sudah begitu banyak berkat dan karunia yang saya terima. Saya yakin, akan tak terkira jumlah berkat dan karunia dari-Nya apabila kita mencintai, mentaati dan mengamalkan segala anjuran dan perintah para utusan-Nya.

.

.

.

editor: Lisa Aviatun Nahar

Hits: 29

Rauhun Thayibah

3 thoughts on “PERJALANAN MENANTANG NYAWA BERTEMU SANG KHALIFAH

  1. Ya Allah…
    Pengalaman yang sangat luar biasa..
    Sy terbangun dimalam hari dan baca tulisan ini sampai Sy menangis membacanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories