Petaka Akibat Dahaga Dunia yang Tiada Habisnya

Sayur dan masakan apapun tanpa garam pasti hambar rasanya, meski sebanyak apapun bumbu lain yang digunakan pada masakan tersebut.  Hampir bisa dipastikan tidak akan ada orang yang berselera menyantapnya, kecuali mungkin dalam keterpaksaan lapar yang mendera. Namun, garam yang selalu berjasa menjadi penentu hadirnya cita rasa pada masakan, juga mampu bertindak sebaliknya saat diperlakukan dengan tak sewajarnya dan berlebihan.

Berbagai riset dan kajian ilmiah menyimpulkan, bahwa jika seseorang mengonsumsi terlalu banyak garam ternyata dapat menimbulkan rasa haus yang terus menerus. Semakin banyak dan semakin sering konsumsi garam berlebihan, semakin kuat dahaga yang dirasa. 

Hal ini dikarenakan garam tersusun dari beberapa senyawa kimia dan lebih dari 80% nya merupakan senyawa yang bernama Natrium Klorida. Sifat dari Natrium Klorida itu sendiri adalah kemampuannya membuat kacau keseimbangan cairan di dalam tubuh.

Kandungan Natrium Klorida yang tinggi dalam tubuh dari asupan makanan yang dikonsumsi akan memaksa tubuh terus memberi sinyal bahwa tubuh sedang membutuhkan lebih banyak air untuk mengembalikan keseimbangan cairan. Walhasil timbullah rasa haus yang membuat seseorang minum dalam jumlah banyak. Hal ini kemudian menjadikan kantung kemih menjadi terlalu aktif sehingga sering buang air kecil. 

Apakah siklusnya berhenti sampai di sana? Ternyata tidak. Ada efek domino yang selanjutnya akan terjadi jika pemicu utamanya yaitu kebiasaan mengkonsumsi garam dalam jumlah tinggi tidak dihentikan. Efek domino itu adalah serentetan penyakit yang mengancam jiwa. Sebutlah tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung koroner, demensia, dan penyakit-penyakit lainnya. Berita baiknya, ada senyawa lain yang dapat menyeimbang natrium yaitu kalium.

Penjelasan di atas, pada dasarnya berkisar pada lingkup jasmani manusia. Tetapi hakikatnya gambaran di atas juga menjadi cerminan keadaan rohani manusia. Garam adalah pemisalan untuk kebendaan duniawi, yang mampu menjadikan kehidupan seseorang bahagia, penuh suka cita, jauh dari segala kesulitan dan beban hidup. Dan seperti halnya garam pada masakan, segala kebendaan duniawi juga akan memberikan manfaat yang baik bagi kehidupan ketika diperlakukan dan digunakan sewajarnya.

Dan sebaliknya, akan timbul berbagai macam kerusakan dalam kehidupan baik sebagai individu maupun dalam lingkup lebih luas lagi tatkala seseorang mabuk dan larut dalam mengejar dan menikmati kemewahan duniawi. Tidak akan pernah ada rasa puas dalam dirinya. Apalagi ketika diiringi dengan sifat iri. 

Ketika ada orang lain yang keadaannya lebih baik, lebih sempurna, lebih kaya, lebih ternama dari dirinya, maka jiwanya akan semakin meronta, untuk kemudian sibuk tenggelam mencari pemuas hawa nafsunya dengan segala cara. Tak peduli benar salah, halal haram, legal illegal. Semua diterabas demi memperoleh sejumput kekayaan.

Cermatilah apa yang disabdakan oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba, “Bahwa pengejaran pada kemewahan yang dangkal, mirip seperti air laut yang asin, bukannya memuaskan dahaganya, malah semakin menambahkannya. Air asin tidak pernah dapat memuaskan dahaga seseorang, sebaliknya akan perlahan-lahan meracuninya dan menyebabkan kematian.”

Harta benda dan segala yang dicarinya mungkin akan dia peroleh. Namun, jiwanya semakin kering, semakin haus dan haus. Sementara dirinya sebagai manusia berada pada takaran kemampuan yang serba terbatas, usia terbatas, waktu terbatas. 

Belumlah usai pengejaran-pengejaran pada urusan dunia dan segala gemerlapnya, tak disadari usia  sudah menua, jatah hidup hanya dalam hitungan beberapa angka dan tenaga yang tak lagi bersisa. Sedangkan dahaganya belum hilang sirna. 

Yang kemudian didapati  adalah jiwa yang hampa, ruh tak bernyawa dan tubuh yang merana. Masih beruntung jika harta benda dan kemewahan yang dimiliki dapat menolong. Tapi, apa jadinya jika akhir pencarian justru berada dalam kemiskinan dan sakit yang menggerogoti raga. Tidak ada  yang bisa diharapkan dan diandalkan. 

Maka, jalan terbaiknya adalah memperlakukan dunia dengan sewajarnya, menempatkannya pada proporsi yang benar dan tidak berlebihan. Dengan kata lain, mencari penyeimbang seperti halnya kalium menjadi penyeimbang bagi natrium. Keseimbangan yang dimaksud adalah jasmani dan rohani. Tidak ada larangan bagi manusia untuk berikhtiar mencari kebahagiaan dunia. Namun tentu dengan jalan yang dapat menyelamatkan rohaninya juga.

Hits: 267

Ai Yuliansah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories