SANG PREMAN YANG MENDAPAT HIDAYAH LALU BERTEMU SANG KHALIFAH

Aku ingin menceritakan kisah seseorang yang sangat berarti bagiku. Seorang yang benar-benar memberikan arti hidup bagiku. Ya, ia adalah ayah.

Ayahku bernama Syarifuddin Basyirun. Beliau bekerja sebagai karyawan di sebuah percetakan surat kabar di bagian keuangan. Ia juga punya pekerjaan sampingan yang sekaligus hobinya, ya tinju.

Dunia tinju mendekatkan ayah pada perjudian dan keburukan turunan darinya. Ini yang membuat ayah dan ibu sering terlibat perseturuan yang itu-itu saja.

Kehidupan masa kecil ayah sebagai seorang yatim-piatu memang sangat kompleks. Belum lulus SMA ayah memutuskan untuk hidup bebas tanpa ikatan dengan siapapun. Inilah yang membuat ayah tumbuh liar dan urakan.

Hingga di tahun 1963 sebuah teguran keras Tuhan datang. Ayah terserang baju ginjal. Itu yang membuatnya sangat menderita. Hingga akhirnya ia mulai ingat mati. Saat itu, ibu baru dikaruniai seorang putri berusia 10 bulan.

Keinginan untuk tobat mencuat dalam kalbu yang penuh lumpur dosa itu. Ayah ingin memperbaiki perilakunya. Dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan syarat Allah menganugerahkan kesembuhan untuknya.

Suatu hari. Datanglah sepupu ayah untuk menjenguknya di rumah sakit. Ayah menyampaikan hasratnya ingin bertobat jika sembuh nanti.

Sepupu ayah mengatakan, kalau mau tobat besok datang aja ke masjid Lore (sebutan ejekan untuk orang Jemaat di kota Padang saat itu), lokasinya di jalan Sawahan.

Ayah merekam dengan baik anjuran dari sepupunya. Suatu hari nanti ketika ia diberikan karunia untuk sembuh, ayah akan langsung ke lokasi.

Setelah sembuh. Ayah benar-benar mencari masjid yang dimaksud sepupunya. Alhamdulillah, ayah menemukan masjid yang dimaksud.

Sesampainya di masjid, rupanya berbarengan dengan waktu shalat Dzuhur. Ayah pun ikut bermakmum dengan yang lain untuk shalat berjamaah.

Ayah merasakan perasaan yang tidak biasa. Batinnya terasa nyaman. Ayah mulai merasakan ketenangan hidup. Itulah mengapa, setiap Dzuhur ayah menyempatkan waktu untuk shalat di masjid Jemaat.

Kehadiran ayah rupanya diperhatikan oleh Sang Imam, sampai akhirnya Sang Imam itu mengajak berkenalan dengan ayah, dari situlah diketahui bahwa nama Bapak Imam itu yakni Bapak Syaiful Anwar.

Disana ayah memperkenalkan dirinya dan mengapa bisa sampai ke mesjid itu. Bapak Imam itu mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata.

Ayah mulai tertarik pada ilmu-ilmu agama dan Jemaat. Hari demi hari ia habiskan untuk membaca. Hingga akhirnya ayah bai’at masuk ke dalam Jemaat Islam Ahmadiyah.

Perilaku keseharian ayah berubah. Ia telah menjadi pribadi yang baru. Tempat judi favoritnya juga telah ditinggalkan. Orang yang paling bahagian atas perubahan ini adalah ibu.

Suatu kali ibu mendengar ayah menangis saat sujud terakhir. Ia sujud demikian lamanya, sambil menangis tersedu-sedu. Ibu bertanya-tanya, belajar dimana suaminya hingga demikian dahsyat perubahan yang terjadi.

Belakangan hari baru diketahui mengapa sepupuh ayah mengarahkannya ke masjid Jemaat. Itu hanyalah gurauannya. Karena dia sendiri tak yakin, bagaimana mungkin seorang preman bisa insaf? Maka ditunjukkanlah ayah ke masjid Jemaat. Karena bagi masyakarat umum, masjid Ahmadiyah dianggap tempatnya orang-orang sesat.

Oiya sepupu ayahku bukanlah orang jemaat. Belakangan diketahui bahwa dia menunjuk mesjid jemaat untuk ayah hanya bergurau saja, dia tidak yakin seorang preman mau insaf maka ditunjukkanlah mesjid jemaat karena bagi orang-orang di luar jemaat, mesjid Ahmadiyah itu dianggap tempatnya orang-orang sesat.

Tapi ini cara Tuhan mendekatkan hamba-Nya kepada-Nya. Bahkan melalui sebuah gurauan, telah mengubah segalanya. Telah menciptakan sebuah revolusi rohani yang menakjudbkan.

Lambat laun akhirnya ayah mengatakan kepada ibu bahwa dirinya sudah menjadi murid Imam Mahdi, bai’at dan masuk ke dalam Jemaat Islam Ahmadiyah.

Bagaikan tersambar petir di siang bolong ibuku sangat kaget mendengar pengakuan ayah. Yang ibu tau dari imam masjid tempat ibuku shalat katanya Ahmadiyah itu aliran sesat, tapi ibuku tidak berkomentar sedikitpun, di dalam hatinya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang berusaha dia jawab sendiri.

Ibuku mencari dimana letak sesatnya Ahmadiyah ini. Karena suaminya kini berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Hari-hari terus berlalu sikap ayahku semakin lebih lembut ke ibuku dan keributanpun hampir tidak pernah terjadi lagi.

Sampai akhirnya pada tahun 1963 terjadi pergolakan, aku lupa peristiwa apa itu? Yang aku ingat dari cerita ayah, tempat kerja ayahku diobrak-abrik dan karyawannya dicari karena dianggap memberitakan sesuatu yang berbahaya.

Akhirnya untuk sementara waktu terpaksa mereka balik ke kampung ibuku di Pariaman. Tinggal di rumah mertua sangat tidak nyaman bagi ayah, apalagi nenekku tahu bahwa ayah sudah menjadi seorang Ahmadi. Sindiranpun sering ditujukan nenekku untuk ayah. Nenekku menyindir, sekalinya tobat masuk aliran sesat.

Bertahan di Pariaman tidaklah mungkin bagi ayah, sampai pada suatu hari ayah meminta izin kepada ibuku untuk merantau ke Jakarta, dengan berat hati akhirnya ibu mengizinkannya.

Tiga bulan sudah ayahku di perantauan tanpa kabar ataupun berita. Hari-hari ibu lalui begitu hampa tanpa seorang imam yang biasa ia bermakmum. Di dalam kesendirian ibuku bingung bagaimana mengungkapkan rasa rindu untuk ayah, seketika ibuku teringat akan kata-kata ayah bahwa, “Saya sudah menerima Imam Zaman sedangkan kamu belum, dan jika kamu ingin masuk kedalam pangkuan Imam Zaman harus tulus dari hati sendiri bukan karena paksaan dari siapapun.”

Waktu itu Bulan Ramadhan dan sudah mendekati lebaran. Keinginan untuk bergabung kepada Jemaat Ahmadiyah dirasakan ibu semakin kuat. Apalagi mengingat prilaku ayah yang semakin baik dan juga tekun beribadah setelah bai’at. Ibu semakin yakin akan kebenaran Ahmadiyah.

Dalam fikiran ibu jika dirinya bai’at, pastilah saat shalat, khususnya di dalam sujud dirinya dan ayah akan tersambung batinnya sehingga suaminya yang jauh di perantauan akan mendengar jeritan hatinya.

Keesokan harinya dengan niat yang bulat ibuku pergi ke Padang. Perjalanan dari Pariaman ke Padang saat itu masih sangat sulit, membutuhkan waktu setengah hari untuk sampai kesana. Terbayang bagaimana sulit dan repotnya perjalanan ibuku menuju Padang.

Dengan menggendong anak yang masih kecil usia 1tahun. Belum lagi model baju yang dikenakan ibu yaitu baju kebaya dan kain panjang ditambah lagi kendaraan yang di tumpangi. Mulai dari bendi (delman), kereta api kemudian naik bendi lagi. Tapi begitulah perjuangan ibuku yang ingin bai’at kepada Imam Zaman. Perjalanan seperti itupun tidak dihiraukannya.

Sampai di Kota Padang ibu bermalam dulu di rumah keluarga ayah, baru keesokan harinya ibu pergi ke mesjid Jemaat. Tiba di masjid Jemaat, ibu akhirnya bai’at masuk ke dalam Jemaat Islam Ahmadiyah.

Setelah 6 bulan di perantauan akhirnya ayahku kembali ke kampung. Karena kondisi di Padang sudah lumayan aman akhirnya ayah mengajak ibu kembali ke Kota Padang. Memulai dengan berwirausaha di Padang. Ayah begitu senang mendengar ibu sudah bai’at masuk ke dalam Jemaat.

Sekembalinya ayah ke Padang tawaran untuk tanding bertinju mulai banyak berdatangan. Karena ayah memang hobi olahraga tinju dan juga bisa menghasilkan uang akhirnya ayah menerima tawaran demi tawaran. Melihat hal ini ibu khawatir dan mengingatkan ayah agar tidak terjerumus lagi ke masa lalu.

Tinggal di tanah kelahiran dan dikelilingi oleh teman-temannya yang hobi berjudi dan mabuk-mabukan membuat ayah merasa tidak nyaman lagi untuk bertahan di Padang.

Akhirnya pada pertengahan tahun 1964 ayah dan ibuku memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, waktu itu ibu sudah memiliki 2 orang anak. Yang pertama usia 2 tahun lebih dan yang ke dua usia 5 bulan.

Singkat cerita, setelah lama di Jakarta, jumlah keluarga kami meningkat drastis. Dari dua anak menjadi sebelas anak.

Pertama ayah dan ibuku menginjakan kakinya di Jakarta yaitu di daerah Kalibata kemudian Pasar Minggu lalu Tanjung Priok dan balik lagi ke Pasar Minggu terakhir di Depok. Alhamdulillah ayahku juga aktif di Jemaat. Ayah pernah menjadi ketua ranting di Jemaat Tanjung Priok.

Selanjutnya ayah juga beberapa periode mendapat karunia sebagai ketua cabang Jemaat Lenteng Agung. Pernah juga sebagai ketua Ansharullah dan Da’i Illallah cabang Depok.

Banyak ilmu yang ayah berikan kepadaku. Pengalaman suka duka kehidupan yang ayah rasakan.

Kedisiplinan ayah dalam mendidik kami sangat aku rasakan dampaknya untuk kelanjutan hidupku. Termasuk bagaimana caranya bersyukur. Ayah selalu mengajarkan kami anak-anaknya agar dapat bersyukur, salah satunya bersyukur karena terlahir sebagai Ahmadi dan memiliki orangtua yang lengkap sampai bisa melepas masa lajang.

Shalat tahajud bagi ayah seperti shalat wajib. Kami anak-anaknya menyaksikan juga bagaimana ayah melakukan shalat dan kebiasaan ayah yang menangis di setiap sujud terutama pada saat shalat tahajud.

Kecintaan beliau kepada Khilafat begitu tinggi. Ayah selalu menyempatkan waktu di sela-sela rutinitasnya sebagai wirausaha untuk Jemaat.

Jika ada kegiatan Jemaat insyaAllah pasti ayah menyediakan waktunya. Keinginan ayah berjumpa dengan Khalifah juga sangat tinggi. Sampai suatu hari aku mengatakan kepada ayah agar pergi saja menghadiri Jalsah ke luar negri.

Mendengar hal ini ayahku tersenyum kecut. Masih terngiang di telingaku apa yang beliau katakan, “Kamu tahu Nuni, ayah ini pendosa dan tidak pantas berjumpa dengan Huzur,” tiba-tiba air matanya mulai menetes, “berjumpa di dalam mimpi saja bagi ayah itu sudah lebih dari cukup.”

Tapi. Alhamdulillah atas karunia Allah Ta’ala akhirnya tahun 1996 ayah mendapat karunia untuk menghadiri Jalsah di German. Bersama keluarga uniku yang pertama ayah bertemu dengan kekasih hatinya yang sangat ia rindukan.

Dalam pelukan Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh tangisannya seakan meledak.

Mantan petinju itu, penjudi sekaligus pemabuk bagaimana dengan karunia-Nya mendapat karunia berjumpa dengan kekasih hatinya. Dari siaran langsung MTA yang aku saksikan dari Gedung Lajnah tahun itu. Betapa aku juga merasakan kegembiraan ayah, tubuhku pun gemetar bibir terasa kelu dan air mataku mengalir deras melihat ayah berulang-ulang mengucapkan syukur dan kalimat, Allahu Akbar Allahu Akbar.

Begitulah cerita tentang ibu dan ayahku. Bagaimana kisah masuknya kedalam pangkuan Jemaat Ahmadiyah. Ibuku tutup usia pada tahun 2003 sedangkan ayah pada tahun 2010 pada saat hendak berwudhu untuk shalat tahajud.

Ini adalah momen saat ayah bertemu Huzur IV rh.

.

.

.

editor: Muhammad Nurdin

Hits: 106

Nurunnisa Nuni

25 thoughts on “SANG PREMAN YANG MENDAPAT HIDAYAH LALU BERTEMU SANG KHALIFAH

  1. Masya Allah Bu Nuni ga terasa air mata ini meleleh bacanya.Mubarak Semoga Ayah Ibunya ditempatkan dalam surga keridhoanNya

  2. Alhmadulillah
    Mubarak
    Luar biasa
    Terharu mambaca tulisan ini. Apalagi melihat video perjumpaan dg Huzur.
    Mubarak
    Semoga ini manjadi motivasi bagi kita semua. Terutama anak keturunan beliau.
    Aamiin

  3. Mashaalah….terharu tanpa saya sadari menetes air mata ku dengan membaca tulisan kisah orang tua dari Penulis..sampai ketemu dengan Huzur….semoga kisah nyata ini sangat bermanfaat buat untuk masyarakat Aamiin YRA

  4. Aduh berkali kali air mata deras mengucur serasa diaduk aduk batin ini saat kepedihan hampir mereda karena ada juga hal yg ku anggap lucu tp benar lanjut membaca air mata mengalir lagi…. Tapi pas melihat videonya… Rupanya puncaknya disini!
    Ya Allah, ampunilah ia, kasih sayangilah ia san maafkan segala salah dan khilafnya! sangat menginspirasi! Mubarak!

  5. Jazakumullah atas komentarnya, semoga kisah ini menginspirasi khususnya untuk kami anak2 ayah. Mohon doa agar mutiara yang hilang kembali lagi,Aamiin

  6. Subhanallah, subhanallah, subhanallah
    Allahu Akbar…..

    Tulisan yg begitu menyegarkan batin….
    Video bertemu Huzur yg menggambarkan bagaimana kecintaan seorang Ahmadi pada khalifahnya…..

    Baru saja minggu lalu Huzur aba menyampaikan kisah2 kecintaan Ahmadi kpd khalifahnya.. tulisan dan video ini menambah keyakinan kita bahwa hubungan cinta kasih antara khalifah dan jemaatnya ini benar2 anugrah Ilahi…

    Kami dari lubuk hati terdalam mendoakan semoga pak syarifuddin ditinggikan darjatnya oleh Allah Taala, dibukakan pintu surga yg seluas2nya.. aamiin

  7. MasyaAllah bu nuni..cerita ttg ayahanda begitu mengaduk2 perasaan sampai tak sadar ikut menangis😭

  8. Hal2 spt ini yg harus ditularkan ke anak2 muda jemaat bahwa keimanan harus dicari sendiri, walau ortu ahmadi tp anak turunan hrs mempelajari smp haqqulyakin bahwa kebenaran Ahmadiyah didapatkan.

  9. Tante Nuni, jadi inget Kakek nih dan jadi inget kenangan waktu itu, aku di kasih coklat banyak banget sm Huzur RH. Kenangan yang selalu ada di hati.

  10. Bu Nuni sungguh pengalaman yg luar biasa..
    Semoga Allah meninggikan derajat org tua ibu…
    Mubarak , Sy terharu membacanya…

  11. MashaAllah….peristiwa yang sangat2 mengharukan…. Semoga dapat meningkatkan kecintaan kita kepada Khilafat dan bersama membimbing anak keturunan kita untuk menjadi Ahmadi yang ITHAAT kepada Khalifah dan Nizam Jemaat. Aamin.

  12. Assalamualaikum, mashaa Allah…Allahu Akbar…tak terasa airmata ini menetes…mubarak uni Nuni…

  13. Masya Allah, kisah ini mengajarkan kita bahwa pintu taubat terbuka lebar untuk siapapun. Dan kecintaan khilafat yang menakjubkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories