KARENA AKU SEORANG AHMADI

Sebagai Ahmadi, orang tuaku selalu menekankan untuk menikah dengan sesama Ahmadi. Aku kira, hal ini bisa dinegosiasi. Suatu hari aku memperkenalkan seorang lelaki, calon dokter, ke ayahku yang kuyakin akan disetujui. Ternyata prinsipnya tidak berubah barang sedikit. Ayahku bilang, mau dokter, mau insyinyur, yang penting dia Ahmadi. Aku pun langsung mundur teratur.

Kemudian, suatu hari saat sedang siap siap pulang bekerja, ada laki-laki yang mencariku. Katanya klienku. Tapi ketika bertemu, aku sama sekali tak kenal. Diapun menjadi lebih sering ke kantor untuk urusan lain namun selalu meminta aku yang mengurusnya.

Ternyata dia suka padaku. Aku katakan padanya dan selalu aku lakukan ke laki-laki lain yang terlihat mendekatiku, “Aku seorang Ahmadi. Dan aku mau menikah dengan sesama Ahmadiy juga.”

Tapi, laki-laki ini berbeda. Dia maju terus, tidak bergeming. Dia malah langsung bertemu dengan orangtuaku. Tapi orangtuaku memiliki prinsip yang sama denganku.

Orangtuaku kemudian memintanya mempelajari Ahmadiyah dan diberikanlah dua buah buku literatur Jemaat untuk dipelajari. Tiga bulan kemudian dia bilang tidak ada bedanya Ahmadiyah dengan aliran Islam yang lain. Hanya saja Ahmadiyah sudah mengakui Imam Mahdi sudah turun.

“Aku mau baiat,” katanya dengan suara tenang dan yakin. Betapa kagetnya aku. Jujur saja aku berharap dia akan mundur teratur, tapi ternyata dia orang yang nekat.

Lalu orang tuaku memintanya untuk menghadirkan orang tuanya ke rumah. Dan diapun melakukannya. Orangtuanya datang ke rumah untuk berjumpa dengan orangtuaku.

Akhirnya dengan diantar orangtuaku, dia menyatakan baiat. Tiga bulan setelah baiat, dia melamarku dan kami menikah,

Alhamdulillah dia selalu dawam membayar candah dan rajin mengikuti kegiatan Jemaat. Sampai suatu hari di tahun 2005, terjadilah kejadian penyerangan Parung.

Dia sangat khawatir karena kami sekeluarga sedang ikut Jalsah saat itu. Dan kasus itu pun terdengar oleh keluarga suamiku. Ibunya dan saudara-saudaranya sangat khawatir. Dari yang tadinya sikap dan penerimaannya biasa-biasa saja, suatu hari ibunya bilang, “Kamu mau ikut istrimu atau Mak?”

Aku terdiam. Dan tanpa diduga suamiku bilang, “Kamu ikut aku. Aku akan jamin kehidupanmu.”

Dan Allah Ta’ala memberikan aku kekuatan untuk menjawab, “Aku tetap dalam Jemaat. Dan Allah Ta’ala yang akan menjamin kehidupanku.”

Suamiku terdiam. Tiga kali dia melontarkan kalimat yang sama dan tiga kali pula jawabanku tetap sama. Tak puas hati, dia pun menekan aku agar aku keluar seperti keinginan ibu mertua. Dia bilang, “Aku akan menikah lagi.”

Aku pun menjawab, “Silakan! Asal jangan memaksa aku keluar dari keyakinanku.” Dan ternyata benar. Suamiku diam-diam menikah lagi.

Lalu aku meminta cerai, tapi suamiku tidak mau. Dengan kekuatan yang ada, aku akhirnya minta suamiku untuk mengantarkanku ke rumah orangtuaku. Dia antarkan aku dan 2 anak kami yang masih duduk di bangku SMP kelas 1 dan SD kelas 3, juga dengan hanya berbekal tabungan sebanyak 175 juta.

Namun ada yang aneh darinya. Dia tidak mau mengambil hak asuh anak-anak, walaupun keluarga dan teman temannya mengatakan, “Istrimu Ahmadi. Dia kan sesat dan kafir. Kenapa membiarkan anak-anak dibawa olehnya?” Dia menjawab dengan mengatakan pada keluarga dan kawan kawannya, bahwa dia percaya ibu anak-anaknya akan mendidik mereka dengan baik.

Tidak ada rasa takut sedikitpun dalam hatiku. Jemaat ini adalah yang utama bagiku, walaupun ketika bercerai aku belum punya pekerjaan dan harus menghidupi 2 anak.

Satu bulan aku tinggal dengan orang tuaku. Kemudian aku memisahkan diri dengan membeli rumah mungil. Anak-anakku yang terbiasa punya kamar sendiri dengan fasilitas lengkap, sekarang harus berbagi satu kamar bertiga.

Anakku yang sulung tiap malam menangis. Ketika kutanya kenapa, dia bilang dia takut hari kiamat. Selama 3 bulan dia terus menangis jika masuk waktu malam hari. Sampai suatu hari aku tanya lagi sambil aku peluk. Dia bilang, “Abang takut enggak bisa sekolah. Abang takut kita enggak ada uang.”

Lalu saya katakan pada anak-anak, “Abang dan Adek, tahu kan cerita di salah satu TV? Tukar Nasib? Nah, anggaplah kita sedang bertukar-nasib. Jadi, tak perlu sedih! Insyaallah suatu hari kita akan kembali pada kehidupan kita yang dulu lagi. Dan ingat, yang utama kita tak kehilangan iman kita.”

Setiap hari Jumat aku paksakan untuk pergi shalat Jumat bersama anak-anakku. Ketika ada kegiatan KPA pun aku libatkan mereka. Dalam setiap kegiatan, aku berusaha untuk terus mendampingi mereka. Hingga satu hari si Abang yang sudah duduk di bangku kelas 3 SMP, baiat tanpa aku suruh. Betapa terkejutnya aku ketika mendengar pengumuman di masjid, bahwa akan ada yang baiat. Dan ketika disebutkan namanya, aku langsung menangis bahagia.

Suamiku yang juga ayahnya anak-anak alhamdulillah tetap rutin membiayai kami. Aku rutin menulis surat permohonan doa kepada Huzur. Aku juga meminta saran dan doa dari Pak Mubaligh. Beliau hanya memintaku untuk berdoa dan berdoa. “Senjata orang muslim adalah do’a,” kata beliau. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Al-Mu’min 40: 61: “Berdoalah kepada-Ku; Aku akan mengabulkan doamu.”

Alhamdulillah! Aku diterima bekerja di salah satu Lembaga Negara. Ini semua tak lain adalah berkat aku seorang Ahmadi. Aku bisa berkeliling Indonesia, membantu memantau dan melaporkan setiap kekerasan yang menimpa anggota Jemaat. Di kantorku pun aku khusus bekerja di bagian Kebebasan beragama, khususnya Kekerasan terhadap anggota Jemaat. Aku selalu bilang ke anak-anakku, “Berkat Jemaat lah Ibu bisa bekerja. Ibu tidak tahu jika Ibu bukan Jemaat, apa yang akan terjadi. Jangan jauh dari Jemaat apapun yang terjadi!”

Suatu hari suamiku mengajak aku untuk hidup bersama-sama lagi. Aku katakan padanya, “Kamu tahu aku mau kita satu visi dan misi. Jika tidak ada kesamaan sebaiknya diurus saja semua.”

Suamiku kemudian cerita bahwa setiap Jumat jika sedang ada kegiatan di luar kantor, dia selalu menyempatkan diri shalat Jumat di masjid Jemaat. Dia bingung, apakah dia masih dikatakan sebagai anggota Ahmadi atau bukan? Dia juga pernah konsultasi dengan Pak Mubaligh. Pak Mubaligh berkata bahwa dia tidak perlu melakukan baiat ulang karena dia sudah baiat.

Suamiku masih bersikukuh dengan keinginannya untuk kembali hidup bersama denganku. Aku kemudian berkata, “Tanya pada Ibumu, apakah setuju kita kembali lagi dan saya tetap menjadi seorang Ahmadi?”

Suamiku menjawab bahwa ibu dan saudara-saudaranya sudah mengetahui keinginannya itu. “Sekarang Mak tidak mempermasalahkan,” katanya. Akhirnya yang tadinya hanya keluarga inti saja yang tahu bahwa saya Ahmadi, sekarang keluarga besar dari pihak ibu dan ayah mertua pun tahu. Aku justru merasa senang dan bangga. Tak ada rasa takut atau khawatir lagi.

Karena masih dilanda bimbang, aku ajak suamiku berkonsultasi dengan Pak Mubaligh. Aku mau semua berjalan dengan baik, tidak ada ganjalan apapun lagi. Pak Mubaligh pun berkata, “Rujuk lagi saja, tapi harus satu bahtera. Itu akan lebih baik.”

Aku pun bertanya pada orangtuku dan mereka menyerahkan segala keputusan kepadaku. Tapi mereka mengajukan syarat untuk tetap berada dalam satu bahtera.

Setahun setelah kami kembali rujuk, suamiku diam-diam melakukan baiat ulang dengan alasan supaya lebih khusyuk di hatinya. Dia punya keinginan untuk mewakafkan diri ke Jemaat. Dia juga sengaja membeli tanah di depan Masjid dengan tujuan agar bisa shalat berjamaah dari lima waktu di sana. Juga supaya memudahkan kami semua jika ada kegiatan Jemaat.

Aku merasakan betul berkat-berkat yang aku terima sebagi seorang Ahmadi. Tantangan dan ujian berat pasti akan selalu ada. Tapi ketika kita ikhlas dan tawakal menjalani, serta tetap kuat pada keimanan dalam Jemaat ini, insya Allah akan selalu ada pertolongan Allah Ta’ala. Karena aku Ahmadi, berkat-berkat itu selalu hadir tanpa diduga-duga.

.

.

.

editor: Lisa Aviatun Nahar

Hits: 21

Rita Fortuna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories