solusi islam perdamaian dunia

Solusi Islam Bagi Perdamaian Dunia

Islam sendiri secara etimologi saja sudah berarti Keselamatan artinya sedari awal agama ini menempatkan keselamatan & perdamaian sebagai pondasi dan tujuan utamanya.

Rangkuman seluruh ajaran Alquran jika ingin diringkas adalah menjadi HuququLLah yaitu bagaimana menjalin hubungan baik kepada Allah dan Huququl Ibad yaitu bagaimana menjalin hubungan baik kepada sesama manusia dan memenuhi hak-hak nya dan terakhir adalah memenuhi hak-hak alam semesta seperti tumbuhan, hewan, alam sekitar dll.

Alquran sebagai landasan utama bagi Umat Islam dalam 2 ayat awal dari surah pertamanya (Al Fatihah) telah menempatkan Kasih Sayang & Persatuan sebagai intisari ajarannya

ﺑِﺴﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣﻴﻢِ

Dengan Menyebut Nama Allah Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

الحَمدُ لِلَّهِ رَبِّ العالَمينَ

Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam

Ayat ini berarti Allah yaitu Tuhan yang disembah orang Islam, adalah Tuhan yang meliputi dan memelihara segala sesuatu dan semua manusia tanpa membeda-bedakan sedikitpun. Kasih sayang adalah warna utama-Nya. Dia adalah Tuhan bagi seluruh manusia, bukan hanya milik Umat Islam saja. Ini penting bagi perdamaian, karena klaim kebenaran/ketuhanan seringkali jadi awal perselisihan. Kedua ayat ini paling minimal dibaca selama 17 x dalan sehari dalam shalat-shalat seorang muslim. 17 x sehari seorang muslim diingatkan tentang kasih sayang dan persatuan.

17 x juga seorang muslim diingatkan bahwa apapun perbedaan ras, suku, bahasa dll di dunia ini kita masih mengabdi kepada satu Tuhan yang sama, kita masih sama-sama merasakan kasih sayang Tuhan yaitu tinggal di bumi yang sama dan menghirup udara yang sama. Sehingga sebarusnya kesadaran persatuan ini yang menjadi semangat dalam mengelola segala perbedaan yang memang niscaya pasti ada.

Pengelolaan Perbedaan

Lalu berikutnya dalam Alquran surah Hujurat ayat 13, “Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”

Ayat ini menjadi mind-set utama dalam mengelola perbedaan yaitu memahami bahwa perbedaan adalah takdir juga keniscayaan yang dengannya kita diciptakan untuk saling mengenal. Pengelolaan perbedaan penting agar perbedaan menjadi rahmah bukan masalah.

Rasulullah saw begitu disibukkan oleh ghairat untuk mengkhidmati kemanusiaan dan untuk memenuhi hak-hak manusia, sehingga sepanjang hidup beliau selalu siap untuk misi tersebut.

Ada cerita. Beliau membuka jubahnya untuk digelar bagi tamu Nasrani beliau. Cerita yang lain, beliau datang ke pasar menyuapi nenek Yahudi yang buta, padahal si nenek selalu menceritakan tentang seseorang yang bernama Muhammad kepada beliau.

Satu contoh agung, beliau mengampuni musuh-musuh beliau yang luar biasa kejahatannya saat terjadi penaklukkan Mekkah.

Kembali Kepada Tuhan

Apabila kita melihat keadaan dunia saat ini, secara global pengaruh agama dalam mempengaruhi moral dan akhlak penganutnya semakin surut. Nilai-nilai agama tentang pengabdian, kasih sayang, kejujuran, dll jarang diaplikasikan oleh umatnya. Malah hawa nafsu dan angkara murka yang justru menguasai mereka.

Demi tegaknya perdamaian perlu bagi para pemeluk agama untuk kembali kepada Tuhannya. Kembali kepada nilai-nilai dasar agama tentang akhlak dan moral.

Sayangnya, kita malah terjebak pada formalitas agama yang nihil spiritualitas. Kita juga suka terjebak pada klaim kebenaran yang menegasikan pandangan orang lain. Sehingga nilai utama agama tentang kasih sayang terlupakan.

Tantangan Hedonisme

Tantangan dunia modern bagi perdamaian adalah konsep hedonism atau materialisme. Saat ini manusia didorong oleh dunia modern untuk menjadikan kekayaan, jabatan dan kekuasaan sebagai tujuan utama.

Dorongan ini membuat seringkali manusia mendahulukan nafsu dibanding hati nurani. Perilaku korup, kebencian, fitnah, menghalalkan segala cara, seringkali terjadi disebabkan dorongan akan materi.

Sehingga penting untuk menyadari bahwa tujuan hidup di dunia ini bukan cuma soal mengejar materi, tetapi pengenalan akan Tuhan. Dan pengenalan ini mewajibkan kita untuk bersikap cinta kepada seluruh mahluk-Nya. Materi hanyalah sarana bagi tujuan ini.

Perdamaian dan Perlunya Contoh Dari Para Pimpinan Bangsa

Tantangan selanjutnya bagi perdamaian saat ini adalah perlombaan kekuasaan antar bangsa-bangsa. Untuk kejayaan bangsanya, banyak pemimpin dunia berupaya untuk terus memperluas pengaruhnya juga kekuasaannya.

Demi kejayaan bangsanya, mereka seolah-olah tengah melegalkan “penjajahan gaya baru” atau minimal menghancurkan suatu bangsa, untuk mengeruk kekayaan didalamnya, dengan sebuah skema yang amat licik.

Inilah pemicu terjadinya Perang Dunia I dan II. Sehingga untuk terciptanya perdamian sangat penting bagi para pemimpin bangsa agar mencontohkan kepimpinan yang cinta-kasih, penghargaan terhadap semua bangsa dan menjauhi nafsu untuk terus memperluas kekuasaan.

Jika hal ini tidak segera dirubah maka kemungkinan akan terjadinya Perang Dunia Ke III tak bisa dihindarkan lagi. Lihatlah konflik di Timur Tengah, panasnya di Semenanjung Korea harus jadi alarm untuk kita.

Hits: 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *