Tidak Berahmat Jika Melaknat

Sering kali kita merasa kesal dan tidak terima atas sikap seseorang yang kurang baik terhadap kita. Lalu dengan penuh emosi kita meluapkan ucapan atau sumpah serapah yang ditujukan sebagai sebuah balasan, ucapannya kurang lebih seperti berikut, “Semoga kena balasan,  atau hukuman dari Allah SWT.”

Gambaran tadi adalah suatu bentuk luapan emosi yang memuncak karena motif tertentu. Kadang dilontarkan secara terang-terangan ataupun dalam hati dan baik disadari ataupun tidak disadari. 

Contoh lain misalnya, “mudah-mudahan dia jatuh miskin, semoga dia cepat mati, semoga jatuh sakit, kena azab, dan sebagainya.” Semuanya tidak lain adalah perkataan tercela yang dilarang dalam agama. Ucapan seperti ini dikenal dengan perkataan melaknat atau mengutuk.

Terkadang manusia memang tidak dapat mengontrol ucapan dari mulut sehingga doa buruklah yang terlontar tanpa sengaja. Padahal bisa saja sumpah serapah hanyalah luapan emosi sesaat. Allah SWT lebih mengetahui apa yang ada di dalam hati hamba-Nya karena bagaimanapun secara naluri, manusia mempunyai perasaan ingin melawan saat dalam situasi terzalimi, saat mendapat sikap dan perlakuan kurang baik dari seseorang.

Namun, meskipun begitu kita sebagai manusia jangan terlalu mudah dalam mengucapkan doa yang buruk kepada orang lain. Apalagi doa orang yang terzalimi sangat mudah termustajab, maka berhati-hatilah dalam berkata ketika dalam keadaan marah dan jangan sampai mendoakan keburukan kepada orang yang kurang baik sikapnya kepada kita. 

Mengutuk atau melaknat itu menunjukkan kebencian dan menyingkirkan seseorang dari rahmat Allah SWT atas dirinya. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud)

Otoritas melaknat itu hanya milik Allah SWT. Hanya Dialah yang berhak melaknat dan menyiksa hamba-Nya yang berbuat dzalim atau dosa. Kezaliman itu beragam seperti kekufuran, kerusakan, membunuh, kedustaan, murtad, dan sebagainya. 

Laknat Allah yang pertama kali misalnya, berlaku kepada iblis yang berlangsung hingga hari pembalasan. Dalam QS. Shad 3: 79, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya laknat-Ku menimpa atasmu sampai Hari Pembalasan..”  

Kemudian, Allah melaknat orang-orang kafir. Dalam QS Al-Baqarah 2: 89, Dia berfirman, “bahkan Allah telah melaknat mereka karena kekafiran mereka maka sedikit sekali apa yang mereka imani.”

Namun, dalam kaitannya manusia yang melaknat manusia lainnya, Allah Ta’ala mengingatkan dalam QS. Ali Imran 3: 128, “Engkau tidak mempunyai urusan sedikit pun, baik Dia akan menerima tobat mereka atau pun menyiksa mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang aniaya.”

Sabda dari Imam Mahdi a.s. sebagai pendiri Jemaat Ahmadiyah, “Janganlah cemas akan kutukan dunia, sebab kutukan itu lama-kelamaan akan hilang dengan sendirinya laksana asap yang menipis.”

Akibat bagi orang yang mudah melaknat sungguh sangat berat, tidak boleh dianggap remeh. Apalagi, hanya karena urusan-urusan kecil dan sederhana. Sebab, bagi orang yang suka melaknat, tidak akan diberi syafaat dan persaksiannya pada hari kiamat tidak akan diterima. (HR Muslim). Di samping itu, orang yang suka melaknat orang mukmin maka ia seperti membunuhnya. (HR Bukhari). 

Oleh sebab itu, menjadi keniscayaan bagi kita supaya cerdas dan berhati-hati dalam berucap, berkomentar, dan mengupdate status di media sosial. Lebih-lebih ucapan atau tulisan yang mengandung laknat, kutukan, dan sumpah serapah dan ungkapan yang kurang sopan. 

Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang beruntung, kelak mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW atas Rahmat-Nya, Amin Yra.

Hits: 206

Euis Mujiarsih

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories