Harga dari Sebuah Kerja Keras dan Perjuangan

Perbincangan panjang seputar kasus di institusi berseragam coklat masih terus bergulir, entah di mana akan berakhir. Alur ceritanya semakin membuat publik tak henti berpikir. Tak sedikit yang akhirnya berkomentar nyinyir.

Tanpa bermaksud membenarkan tindakan para pelaku, kasus yang menurut beberapa tokoh sebenarnya sederhana dan bisa dengan mudah diproses ini nyatanya sukses menyedot perhatian seluruh elemen bangsa dari beragam lapisan. Dan kemudian banyak yang terjebak memberikan label negatif dan ketidakpercayaan kepada institusi tersebut secara keseluruhan.

Benar kata pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Padahal, jika mau melihat dengan kaca mata yang bersih, di institusi ini masih banyak orang yang bekerja dengan penuh integritas. 

Sebut saja satu kabar viral yang menjadi trending topic di media sosial dan perbincangan hangat di berbagai channel muncul dari kalangan aparat penegak hukum. Kali ini bukan tentang tembak menembak, bukan pula rumor harga diri, melainkan sikap penuh empati dari seorang perwira polisi. 

Postur gagah, langkah tegap, suara tegas lantang, pada pakaiannya tersemat beragam tanda pangkat dan kehormatan yang menambah wibawanya terpancar jelas. Namun siapa sangka, di hadapan gadis kecil, air mata sang perwira luruh.

Tak ragu tangannya merengkuh tubuh mungil yang mematung menatapnya, yang juga tak kuasa menahan tangis. Layaknya seorang anak perempuan memeluk erat ayah tercinta, dan ayah dengan penuh kasih memeluk anak tersayangnya.

Menarik untuk mengulik kisah di balik pemandangan mengharu biru itu. Dan rupanya, perwira gagah itu adalah seorang Kapolres yang begitu dicintai oleh gadis kecil tadi. Entah apa sebutan untuk ikatan diantara mereka. 

Yang pasti, sang Kapolres jatuh hati pada tindak laku anak perempuan berjilbab yang kesehariannya berjualan makanan kecil di sekitar lapang tempat Pak Polisi ini bermain bulutangkis.

Trenyuh dengan kerja keras dan ketegaran gadis kecil itu, Pak Polisi selalu memborong habis dagangan gadis kecil tersebut. Saat ditanya apa alasannya, jawabnya sederhana. 

“Saya selalu merasa terharu jika menyaksikan seseorang yang mau berjuang untuk hidupnya, karena inilah yang nanti akan menjadi pembeda antara seseorang yang mau berusaha dengan yang tidak.” Luar biasa, jawaban sederhana itu sesungguhnya cerminan dari apa yang disabdakan oleh Hazrat Rasulullah SAW. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Hz. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang pergi mencari kayu, lalu mengangkat kayu itu di atas punggungnya, lebih baik baginya daripada minta kepada seseorang, diberi atau ditolak.”

Pada kisah lain diceritakan, suatu hari Sayyidah Fatimah, puteri kesayangan Baginda Nabi SAW datang menemui ayahanda tercinta, dan mengutarakan keluh kesahnya seraya memperlihatkan telapak tangannya yang melepuh akibat menggiling gandum dengan tangannya sendiri. Hz. Fatimah r.a. berharap, ada seseorang yang dikirim ke rumahnya untuk membantu beliau.

Mendengar hal tersebut. Baginda Nabi SAW memberi nasihat kepada puterinya, “Wahai Fatimah, barangsiapa seorang perempuan yang menumbukkan (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskannya untuknya setiap satu biji satu kebaikan serta menghapuskan darinya setiap satu biji satu keburukan.”

“Dan bahkan Allah akan mengangkat derajatnya. Wahai Fatimah, barangsiapa seorang perempuan berkeringat manakala menumbuk (gandum) untuk suaminya, tentu Allah akan menjadikan antara dia dan neraka tujuh khonadiq (lubang yang panjang).”

Sungguh Islam memberikan penghargaan dan kedudukan yang tinggi bagi siapa saja yang dalam hidupnya mau berjuang untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri. Dan tidak membiarkan hidupnya ada dalam bayang-bayang dan kendali orang lain hingga kehilangan jati dirinya, atau bahkan menjadi nyaman berada di zona aman dengan meminta kesana kemari.

Tentu, pada zaman ini sudah jarang kita temui seseorang yang pergi ke hutan mencari dan memikul kayu untuk kemudian dijual dan hasilnya dipakai memenuhi kebutuhan mereka. Atau hampir tidak akan kita temukan perempuan yang menumbuk padi atau gandum hingga tangannya melepuh. 

Namun, nilai pembelajaran dari kisah tadi tidak akan lekang dimakan zaman. Kita pasti dapat dengan mudah menemukan sosok-sosok pekerja keras yang di kemudian hari sukses menyertai hidupnya. Sukses dalam arti sesungguhnya dan konotasi yang positif. Karena banyak juga yang sukses dengan jalan-jalan yang tidak sewajarnya.

Maka menjadi penting dan sudah seharusnya bagi kita semua, mengoptimalkan segala anugerah Tuhan untuk kemudian meraih harga yang sepadan dari upaya tersebut. 

Hits: 209

Ai Yuliansah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories