Menampilkan Akhlak yang Mulia dalam Setiap Keadaan

Hadhrat Rasulullah saw. adalah utusan Allah yang akhlaknya telah mencapai segala kesempurnaan yang bisa dicapai oleh seorang manusia. Sebagai nabi dan manusia sempurna, yang dijuluki sebagai kekasih Allah Ta’ala, Hadhrat Rasulullah saw. toh tetap mengalami penderitaan yang luar biasa hebatnya, sekaligus kekuasaan yang gemilang dalam masa-masa kehidupannya.

Di awal perjuangan dakwahnya, beliau mengalami berbagai macam penghinaan dan penganiayaan. Mulai dari diludahi, dilempari sampah, bahkan hendak dibunuh kaum Quraisy. Dalam banyak kisah seringkali digambarkan bagaimana beliau sering menahan lapar, hingga mengikat perutnya dengan bebatuan untuk menahan perihnya perut karenanya.

Dalam menjalani segala ujian itu, tawaran menggiurkan tak berhasil menggoyahkan rasa cintanya kepada Allah Ta’ala. Beliau sendiri menyatakan, “Andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti menyebarkan kebenaran Tauhid Ilahi. Aku harus berjuang sampai mati.” [Hisyam & Zurqani]

Hadhrat Rasulullah saw. juga harus menjalani perang demi perang untuk mempertahankan tegaknya Islam di muka bumi. Dan setelah bertahun-tahun menjalani peperangan yang melelahkan serta kehilangan banyak sosok sahabat yang syahid, datanglah momen itu. Peristiwa yang dikenal dengan nama Fatah Mekkah adalah pembuktian bahwa pertolongan Allah Ta’ala selalu mengiringi para nabi utusan-Nya, tak terkecuali Hadhrat Rasulullah saw.

Dalam peristiwa Fatah Mekkah, kepada penentang yang selalu ingin membunuhnya tersebut, Hadhrat Rasulullah saw. memberikan pengampunan bagi sebagian besar dari mereka, termasuk orang-orang yang telah melawannya dalam pertempuran.

Dengan hukum kesukuan yang berlaku, seharusnya kaum Quraish menjadi budaknya, tetapi Hadhrat Rasulullah saw. malah menyatakan bahwa semua penduduk Mekkah (termasuk semua budak) dibebaskan. Hanya sebelas pria dan empat perempuan yang dihukum karena bermacam kejahatan yang pernah mereka lakukan, dan tak seorang pun dipaksa masuk agama Islam.

Semua orang Mekkah hanya harus mengambil sumpah setia tidak akan berperang lagi melawan beliau saw. Kepada para sahabat dan pasukannya, Hadhrat Rasulullah saw. melarang menyakiti siapapun, apalagi kaum perempuan dan anak-anak. Beliau saw. bahkan melarang menebang pepohonan dan merusak segala fasilitas yang ada di kota itu. Beliau saw. tak membiarkan pengikutnya untuk melampiaskan dendam atas kekejaman kaum Quraisy kepada mereka selama ini.

Dalam buku Filsafat Ajaran Islam, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyatakan:
Allah Ta’ala membagi kehidupan Nabi kita saw. dalam dua bagian. Bagian pertama adalah periode penderitaan, kesulitan, dan kesusahan. Sedangkan bagian kedua merupakan periode kemenangan, supaya pada masa-masa sulit dapat tampil akhlak-akhlak yang memang biasa tampil pada saat-saat kesulitan, dan supaya pada masa-masa kemenangan serta kekuasaan dapat terbukti akhlak-akhlak yang memang tidak dapat dibuktikan tanpa adanya kekuasaan. [Hlm. 213]

Lebih lanjut beliau a.s. menjelaskan:
Rasulullah saw. telah memperlihatkan akhlak-akhlak yang memang seharusnya diperlihatkan oleh seorang shalih sempurna pada saat-saat sulit—yaitu tetap tawakkal kepada Allah, tidak berkeluh-kesah, tidak memperlihatkan kemalasan dalam tugas, dan tidak takut terhadap sosok seseorang—sedemikian rupa sehingga orang-orang kafir menjadi beriman karena menyaksikan istiqamah (keteguhan) yang demikian itu dan memberi kesaksian bahwa istiqamah (keteguhan) dan ketabahan dalam penderitaaan seperti itu tidak dapat dilakukan oleh seseorang sebelum dia bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Dan kemudian tatkala periode kedua datang, yaitu zaman kemenangan, kekuasaan dan kemakmuran, pada zaman itu pun akhlak-akhlak luhur Rasulullah saw.—sifat pemaaf, kedermawanan, dan keberanian—tampil sedemikian rupa sempurnanya sehingga segolongan besar orang kafir menjadi beriman setelah menyaksikan akhlak-akhlak tersebut.

Beliau memaafkan orang-orang yang menyakiti beliau dan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang mengusir beliau dari Mekkah. Beliau melimpahkan harta kepada orang-orang yang memerlukan dari kalangan mereka. Dan setelah memperoleh kekuasaan beliau mengampuni musuh-musuh besar beliau. [Hlm. 213-214]

Dua periode dalam hidup Hadhrat Rasulullah saw. adalah perwujudan dari apa yang dikatakan Hadhrat Abu Bakar r.a., “Tanpa tindakan, pengetahuan tidak ada gunanya dan pengetahuan tanpa tindakan itu sia-sia.”

Manusia telah diajarkan melalui Al-Qur’an tentang memegang keteguhan ketauhidan dan kekuasaan Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Dalam keadaan sulit dan menderita, memegang teguh keimanan bisa menjadi sangat berat. Karena itulah Allah Ta’ala menurunkan ujian agar manusia tidak hanya sekadar memahami, tetapi juga mampu mengamalkan apa yang diajarkan Al-Qur’an.

Begitupula, ketika manusia diberikan kekuasaan, ia pun sesungguhnya sedang diuji. Apakah kekuasaan itu akan mengubahnya menjadi seorang pemimpin yang zalim, atau ia tetap teguh menjadi seseorang yang adil, lembut hati, dan pemaaf?

Karena itu pulalah Hadhrat Rasulullah saw. harus melewati dua periode—penderitaan dan kemenangan—agar beliau saw. menjadi contoh bahwa seorang manusia selalu bisa menampilkan akhlak yang mulia dalam setiap keadaan. Manusia tetap mampu menjadi cerminan sifat-sifat Allah Ta’ala, sekalipun penderitaan dan kekuasaan ada di tangannya.

Visits: 43

Lisa Aviatun Nahar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *