Menjaga Titipan Terindah Allah Ta’ala dengan Takwa
Di tengah keheningan malam, seorang hamba Tuhan bersimpuh penuh keyakinan, memohon kepada Sang Maha Pencipta agar Allah perkenan melengkapi kebahagiaan rumah tangganya dengan kehadiran seorang anak. Pendamping hidup yang Allah karuniakan untuknya pun tak pernah lelah berdoa. Hari berganti, hingga ribuan malam ia terus memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Sampai pada waktu yang telah Allah tetapkan, lahirlah seorang bayi laki-laki dari rahim sang istri.
Kebahagiaan dan rasa syukur yang tak terhingga mereka curahkan pada Allah Ta’ala melalui ibadah yang tak pernah putus. Namun, Allah kembali menguji kesetiaan hamba-Nya. Sang ayah harus rela berpisah dari istri dan buah hati yang ia cintai. Bukan sebuah perpisahan biasa, ia harus meninggalkan istri dan putra kecilnya di tengah padang pasir tandus yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hanya satu alasan utama yang ia sampaikan pada istri tercinta, bahwa apa yang ia lakukan adalah perintah Allah Ta’ala.
Rasa pilu yang mendalam menggores hati keduanya, terlebih saat melihat putra kecil mereka yang baru saja menghiasi kebahagiaan mereka harus ikut merasakan beratnya medan pengorbanan di tempat yang masih asing dan jauh dari ayahnya. Saat itulah keikhlasan terhadap ujian dari satu keluarga menjadi teladan dunia hingga saat ini.
Sebuah jawaban yang begitu indah mengalir dari sang istri ketika suaminya harus meninggalkan mereka pergi, *‘Kalau begitu engkau dapat meninggalkan kami. Jika ini dilakukan karena perintah Allah Ta’ala, maka Allah tidak akan pernah meninggalkan kita.’*[*]
Keteladanan yang penuh dengan rasa cinta dan pengorbanan sejati yang Allah Ta’ala tunjukkan melalui wujud suci Hadhrat Ibrahim as., Hadhrat Hajrah dan Hadhrat Ismail as. telah membuktikan pada dunia bahwa Allah Ta’ala tidak pernah menyia-nyiakan ketulusan cinta dan pengorbanan hamba-Nya. Pintu karunia Allah Ta’ala terbuka seluas-luasnya atas ketulusan pengorbanan keluarga Hadhrat Ibrahim as. Air zam-zam yang terus mengalir tanpa henti, untuk kehidupan Hadhrat Hajrah dan Hadrat Ismail as. di tengah padang pasir tandus saat itu menjadi saksi kekuasaan Tuhan atas sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin, saat manusia menyerahkan usaha mereka sepenuhnya kepada Allah Ta’ala.
Hadhrat Ibrahim as. dan Hadhrat Hajrah adalah sosok penjaga amanah Allah Ta’ala yang harus menjadi panutan bagi semua pasangan dalam membangun sebuah rumah tangga yang Allah ridhai. Dengan karunia Allah Ta’ala, keihlasan yang telah mereka tampilkan menjadi cerminan bagi sang putra saat memenuhi permintaan Hadhrat Ibrahim as. untuk mengorbankan jiwa anaknya atas perintah Allah Ta’ala.
Peristiwa besar inilah yang menjadi dasar pengorbanan dalam Islam. Kekuatan iman dan ketaatan kedua orang tua menjadi tolok ukur terbaik bagi keturunan untuk menjaga buah hati tumbuh menjadi sosok yang dipenuhi kecintaan pada wujud Allah Ta’ala, karena sejatinya mereka adalah harta titipan terindah dari-Nya.
Keyakinan akan kekuasaan Allah Ta’ala membimbing kita menjalani kehidupan sebagai penjaga amanah dari-Nya pun telah disampaikan oleh pendiri jemaat Ahmadiyah, beliau bersabda:
Lihat, ketika seorang bayi lahir, bagaimana Allah Ta’ala menciptakan hidung, telinga dan segenap anggota tubuh lainnya bagi bayi itu. Dan Dia menetapkan dua petugas (ibu dan bapak) untuk mengkhidmati anak tersebut. Apa pun kasih sayang dan pembinaan yang dilakukan kedua orang tua, semua pembinaan itu juga merupakan
pembinaan dari Allah Ta’ala.
Semoga Allah Ta’ala memberi kekuatan pada setiap hamba-Nya agar mampu menjadi penjaga terbaik bagi anak-anak keturunannya sebagai titipan terindah dari Allah Ta’ala.
Referensi:
[*] https://ahmadiyah.id/pemimpin-ahmadiyah-menyampaikan-khutbah-idul-adha-dari-islamabad?amp
Visits: 44