Pacaran, Sudah Siap Terluka?

Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling berbagi dan saling mengisi. Di setiap nadi umat manusia telah terpatri sebuah kompas suci sebagai kemudi untuk menemukan pasangan sejati.

Kita mungkin sedang mencari, mungkin juga sudah menjalani, mungkin juga masih senang menyendiri. Tapi, apapun keadaan kita hari ini, kodrat Ilahi pasti akan tergenapi.

Pacaran. Setiap anak manusia di dunia ini tahu tentangnya. Bisa jadi, kita adalah salah seorang pelaku dari aktivitas hidup yang sangat masif ini. Bisa jadi juga, kita hanya bisa mengamati, mencermati bahkan gigit jari dengan mereka yang berpacaran. Pacaran, katanya, bisa menjadi jalan untuk menggenapkan kodrat Tuhan bahwa tiap manusia berpasangan.

Terlalu banyak manusia di dunia ini yang terobsesi untuk berpacaran. Fenomena pacaran terjadi hampir di setiap lapisan. Tua, muda, remaja bahkan anak-anak yang baru mengetahui faktor prima dari angka delapan juga turut meramaikan.

Ada apa sih dengan pacaran? Ia begitu ramai dibicarakan, dan ramai pula diamalkan. Mungkin kah sebab manusia butuh akan kasih sayang? Untuk itulah ditempuh jalan pacaran karena disana tersedia kasih sayang secara gratisan?

Cinta. Katanya menjadi asal-muasal pacaran. Setiap kita haus cinta, dan pacaran dianggap sebagai pelepas dahaganya.

Laki-laki dan perempuan saling merajut kasih, merancang mimpi dan merapihkan janji, meskipun banyak sekali yang kandas ditelan bumi. Memang begitulah yang namanya cinta, deritanya selalu di akhir cerita. Tapi anehnya, masih banyak orang yang tidak ada kapok-kapoknya.

Kita hidup berhadapan dengan sebuah kodrat Ilahi yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Setiap fenomena di dunia ini telah dikendalikan oleh sebuah kodrat Ilahi, termasuk matangnya buah-buahan.

Tahukah kalian, bahwa buah yang matang di pohon itu berbeda dengan yang matang di pasar, meskipun sama-sama matang? Yang matang di pohon itu, matang sesuai dengan kodrat Ilahi yang mengharuskan ia matang. Sedang yang matang di pasar, matang dengan cara dipaksa matang sesuai kehendak abang-abangnya.

Kodrat Ilahi itu butuh kematangannya alias butuh tempo untuk penggenapannya. Tapi manusia tetaplah manusia, sumber segala salah dan dosa. Saat muncul keinginan untuk mempercepat penggenapan kodrat Ilahi, segala upaya pun dilakukan. Mungkinkah, pacaran itu kodrat Ilahi yang dipaksakan untuk terjadi?

Kita pasti sepakat bahwa penggenapan kodrat Ilahi yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan berpasangan akan terjadi dalam bentuk rumah tangga. Pada titik inilah kodrat Ilahi mencapai kematangannya.

Pertanyaan sederhananya, sudah siapkah kita berumah tangga?

Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab bukan? Apalagi untuk mereka yang baru belajar konsep “persamaan linear dua variabel” itu seperti apa? Boro-boro mau ngurusin rumah tangga, Pekerjaan Rumah (PR) pun masih dikerjakan di sekolah.

Berpacaran, membuat kita terlibat dalam urusan orang lain yang hanya berstatus “pacar” itu. Mengetahui aktivitasnya, keadaannya, bahkan sudah makan atau belum pun menjadi pertanyaan yang nilainya setara dengan “Man Rabbuka?” di alam kubur.

Bukankah kita sudah mulai berumah tangga pada titik ini? Secara tidak sadar kita sudah mulai berumah tangga, meskipun kita tak mau disebut demikian.

Kita sepertinya kehilangan fokus dalam mengemudikan kehidupan ini. Kita terlalu terburu-buru untuk bisa menyelesaikan tahapannya. Padahal, jalan yang Tuhan berikan kepada kita masih terlalu panjang.

Tuhan sebenarnya menginginkan kita agar menikmati tiap tahapannya. Bukannya memaksakan diri untuk melompati tahapan-tahapan yang penuh arti itu. Kalau Tuhan berkehendak kita mahir memainkan logika matematika, janganlah melompatinya lalu masuk ke tahapan dimana tidak ada logika dalam cinta.

Cinta itu sesuatu yang amat suci. Sebab cinta adalah anugerah terbesar dari Sang Ilahi Rabbi. Tapi, cinta pun punya kematangannya sendiri. Kita perlu waktu hingga ia bisa kita nikmati. Kita perlu waktu hingga setiap tahapan yang penuh arti dalam hidup kita bisa dilewati bukan dilompati.

Kalau kamu memang terobsesi untuk berpacaran, berarti kamu sudah siap menyakiti atau disakiti. Sebab, pacaran adalah fatamorgana dari indahnya sebuah rumah tangga. Ia tak benar-benar nyata, karena sekalipun kamu memantapkan sebuah janji, kekuatan hukumnya hanya berlaku untuk kalian berdua.

Bukankah pacaran lebih banyak membawa luka? Anehnya, kita tak penah kenal jera. Mungkin kita kehilangan kendali untuk mengemudikan nalar kita. Kita seperti seseorang yang benar-benar berdahaga akan cinta.

Saya khawatirnya, bukan batin kita yang tengah berdahaga tapi nafsu kita. Lebih khawatirnya lagi, kalian sudah siap menjalin asmara dengan sang pujaan hati, tapi kalian tidak siap bertanggung jawab menjadi sebuah penggenapan dari kodrat Ilahi: Ya, bersatu dalam bahtera rumah tangga.

Hits: 47

Writer | Website

Sab neki ki jarh taqwa he, agar yeh jarh rahi sab kuch raha ~ Akar dari semua kebaikan adalah takwa, jika ini ada maka semua ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories