Rendah Hati Mengantarkan pada Kemuliaan

Rendah hati dalam agama Islam disebut juga dengan tawadhu. Ini merupakan akhlak terpuji  karena seseorang menempatkan dirinya sedemikian jauh lebih rendah di hadapan Allah SWT. Untuk bisa bersikap tawadhu seseorang harus menanggalkan sifat sombong yang ada dalam dirinya.

Kisah kerendahan hati dari sahabat Rasulullah SAW, Hz. Abu Bakar As-Shiddiq r.a. ini bisa tergambar bagai mana kemuliaan hati beliau. Hz. Abu Bakar As-Shiddiq r.a. adalah sahabat yang paling dicintai Rasulullah SAW. Pada saat beliau diangkat menjadi khalifah, kerendahan hatinya semakin dikenal.

Sebelum manjabat sebagai khalifah, Hz. Abu Bakar As-Shiddiq r.a. biasa mengunjungi rumah para janda dan memerahkan susu domba mereka, kemudian beliau juga biasa mengunjungi rumah anak-anak yatim untuk memasak makanan bagi mereka. Ketika ia resmi dilantik sebagai khalifah, ada seorang perempuan (janda) yang berkata, “Sekarang dia (Hz. Abu Bakar As-Shiddiq r.a.) sudah tidak akan lagi memerah susu kambing untuk kita.”

Hz. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. mendengar perkataan wanita itu seraya berkata, “Sungguh, aku akan tetap memerah susu untuk kalian, dan aku berharap posisi dan statusku saat ini tidak mengubah dari kebiasaan yang sebelumnya aku lakukan.”

Padahal posisi dan status Hz. Abu Bakar r.a. saat itu bukan sesuatu yang sepele, beliau adalah seorang Khalifah, pemimpin bangsa Arab dan mengepalai pasukan militer pada masa itu. Dalam kisah tersebut, tergambar akhlak luhur Hz. Abu Bakar As-Shiddiq r.a. Sikap itu merupakan sikap tawadhu yang tinggi dari seorang yang besar kedudukannya dan kehormatannya.

Model yang seperti itulah yang akan dan sedang dihidupkan kembali oleh Sang Imam Zaman melalui para khalifahnya. Seperti  yang beliau ungkapkan bahwa “Orang besar adalah dia yang mendengarkan (memperhatikan) perkataan orang miskin dengan kerendahan hati, membahagiakan hatinya, menghormati perkataannya, tidak mengeluarkan kata-kata sinis yang dapat melukai hatinya.” (Hz. Masih Mau’ud a.s.)

Kaya dan miskin tidak pernah menjadi ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah swt. Tapi ketakwaanlah yang menjadi kriterianya. Adapun sifat orang sombong telah dikisahkan dengan jelas dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 33-43. 

Allah  memberikan perumpamaan dua orang laki-laki. Kepada salah seorang dari keduanya  Allah berikan 2 bidang kebun anggur yang dikelilingi dengan pohon-pohon kurma. Kekayaannya begitu melimpah karena kebun itu begitu indah, subur sehingga  menghasilkan banyak buah. Namun sayangnya, kekayaan itu membuatnya sombong dan menghina temannya yang miskin.

Karena dia  memiliki kekayaan besar, maka dia berkata dengan sombong kepada kawannya, ketika ia bercakap-cakap dengannya, “Lihatlah! Aku  lebih banyak dalam harta daripada kamu dan mempunyai golongan yang lebih mulia.” 

Kesombongannya telah menyakiti hati temannya yang kurang mampu ini. Kemudian kata-katanya semakin menjadi-jadi, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selamanya dan aku mengira bahwa saat yang dijanjikan itu tidak akan datang.”

Setelah terjadi dialog yang cukup panjang, kemudian temannya yang dipandang lebih rendah dalam harta benda dan anak- anak lalu menjawab, “Maka boleh jadi Tuhan-ku akan menganugerahkan kepadaku sesuatu yang lebih baik dari pada kebun engkau dan mengirimkan kepada kebun engkau petir dari langit sehingga menjadi dataran yang licin. Atau airnya akan kering sehingga engkau tidak akan mampu mencarinya.”

Si miskin telah tersakiti maka ucapannya adalah doa. Dan Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terlantar tanpa pembela. Pada akhirnya, doa seorang yang tersakiti ini dikabulkan. Maka seluruh isi kebun itu hancur dan binasa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali penyesalan dari si kaya.

Dari kisah tersebut menjelaskan akibat yang dahsyat dari menyakiti orang-orang miskin. Mereka memang dipandang remeh oleh manusia, mereka mungkin tak memiliki pembela. Tapi berhati-hatilah, pembela mereka adalah Allah SWT.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min, lelaki atau perempuan dengan tiada kesalahan yang mereka lakukan, maka sesungguhnya orang-orang itu telah memikul kebohongan serta dosa yang terang-terangan.” (QS. al-Ahzab: 58)

Allah akan menurunkan murka terhadap seseorang yang menghina atau menyakiti kaum miskin. Maka, jangan sekali-kali menghina orang miskin. Sebab, orang miskin merupakan salah satu golongan yang dicintai oleh Allah SWT. Dan dari kedua kisah di atas jelaslah bagi kita bahwa kerendahan hati mengantarkan pada kemuliaan dan kesombongan mengantarkan pada kehancuran.

Views: 1035

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *