SALAT DAN BERKORBAN SENJATA PENOLONG DALAM SEGALA KEADAAN

Setiap manusia pasti pernah mengalami kesedihan dalam perjalanan hidupnya, tak terkecuali Hadhrat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Sepanjang hidupnya telah mengalami banyak ujian dan cobaan yang membuatnya bersedih. Beliau telah menyaksikan meninggalnya beberapa anak dan juga istri yang sangat dicintai.

 

Salah satu ujian terberat semasa hidupnya adalah saat kehilangan hampir semua anak beliau, kecuali Fatimah yang wafat beberapa bulan setelah kewafatan beliau. Anak laki laki yang beliau miliki meninggal dalam usia yang relatif masih muda.

 

Hadhrat Rasulullah saw. dicemooh oleh para pemuka kafir Quraisy di Mekah. Julukan “Abtar”: Orang-orang Quraisy, khususnya Ash bin Wa’il, menjuluki Nabi dengan sebutan Abtar, berarti orang yang terputus keturunannya atau orang yang tidak akan diingat lagi setelah wafat. Pada budaya Arab jahiliyah, memiliki anak laki-laki dianggap sebagai penerus nasab dan kebanggaan, sedangkan tidak memilikinya dianggap sebagai kelemahan.

 

Hadrat Rasulullah saw. tentu merasakan kesedihan sebagaimana manusia, namun beliau tidak membalas cemoohan tersebut dengan kemarahan atau tindakan balasan yang keji. Beliau menunjukkan kesabaran yang luar biasa dan menunjukkan keluhuran budi.

 

Allah SWT. menurunkan Surat Al-Kautsar sebagai penghibur hati Hadhrat Muhammad saw. atas hinaan tersebut. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahih-nya dari hadis Anas bin Malik:

 

_“Ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sedang berada di tengah kami, tiba-tiba beliau terlelap beberapa saat lalu mengangkat kepala dan tersenyum. Kami lantas bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau tertawa?’ Beliau menjawab, ‘Baru saja turun kepadaku satu surat,’ lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam membaca surat Alkautsar dan artinya. Alkautsar berarti orang yang berlimpah kebaikan dan banyak memberi.”_

 

Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam diberi kabar gembira dengan kemuliaan dan kemenangan, orang yang menentangnya akan mengalami kejatuhan juga kehancuran. Mereka yang mencemooh Nabi dengan sebutan _abtar_, sesungguhnya merekalah yang tidak memiliki keturunan penerus secara rohani, karena keturunan jasmani mereka berbondong-bondong masuk Islam.

 

Sedangkan Hadhrat Rasulullah saw. walau tidak meninggalkan seorang anak laki-laki pun akan tetapi ditakdirkan menjadi ayah rohani berjuta-juta putra rohani sapanjang masa sampai akhir zaman. Putra-putra yang jauh lebih setia, patuh, taat daripada putra-putra jasmani ayah manapun. Penghinaan tersebut justru mempertegas kemuliaan Hadhrat Nabi Muhammad saw., ketika nama beliau terus disebut dan dihormati oleh miliaran umat manusia hingga akhir zaman, justru para penghinanya dilupakan atau kalaupun dikenang hanya dengan keburukannya saja. Sebagai wujud rasa syukur atas semua kebaikan dan nikmat yang Allah SWT. berikan dalam surat Al-Kautsar ayat 2 diperintahkan:

 

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.”

 

Dua hal ini adalah dua ibadah agung yang menjadi poros semua ibadah. Salat adalah ibadah badan sedangkan kurban adalah ibadah harta. Salat merupakan pilar ibadah-ibadah yang bersifat jasmani, sementara kurban adalah puncak ibadah-ibadah yang bersifat finansial.

 

Allah Yang Maha Kaya menganugerahkan harta benda begitu banyaknya kepada Yang Mulia Rasulullah saw. dan beliau membelanjakan semuanya di jalan Allah SWT., tidak ada sekeping mata uang pun yang digunakan untuk kepuasan diri sendiri. Beliau tidak ada mendirikan bangunan megah atau istana untuk diri sendiri tetapi tetap hidup di sebuah gubuk tanah liat yang tidak berbeda dengan rumah kediaman umat yang paling miskin sekalipun. Semua beliau korbankan dalam jalan agama untuk senantiasa memajukan Islam

 

Maka dari itu, barang siapa menghendaki kebaikan yang banyak untuk dirinya di dunia dan akhirat serta bisa singgah di telaga Nabi shallallāhu ʿalaihi wa sallam, hendaknya dia menjalankan ibadah-ibadah yang dianjurkan dan diperintahkan oleh beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.

 

Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku dan pengorbananku dan kehidupanku serta kematianku adalah semata-mata untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [*]

 

Berarti seluruh hidup beliau telah diikrarkan bagi manifestasi keagungan Tuhan serta memberikan kenyamanan kepada para makhluk-Nya. Semoga kita senantiasa bisa meneladani apa yang diajarkan Hadhrat Rasulullah saw. ketika dunia serasa tidak berpihak, kesempitan dan cobaan datang melanda begitu pula sebaliknya ketika kondisi lapang dan bahagia itu datang tetap berdiri teguh mendirikan salat dan mengorbankan segala sesuatu untuk kebaikan agama. Semoga kita menjadi umat Hadhrat Nabi Muhammad saw. yang senantiasa mendapatkan berkah dan syafaat beliau.

 

Referensi:

[*] QS. Al-An’am 6: 163

 

Views: 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *