PELAJARILAH ILMU NYA, MAKA ENGKAU AKAN MENCIUM BAUNYA SURGA
Sejak jaman dahulu kala kehidupan di dunia ini tak bisa lepas dari agama. Peradaban demi peradaban hadir silih berganti menghiasi kehidupan manusia. Agama menjadi pedoman untuk kelangsungan hidup manusia.
Agama yang hadir untuk mengatur keseimbangan kehidupan manusia mulai mengambil perannya kala ada seorang yang menjadi guru di dalamnya. Seiring dengan berlalunya guru demi guru maka syariat agama mulai mendapatkan polesan dari orang-orang yang menganutnya. Akhirnya keaslian syariat mulai luntur.
Fatalnya kala aturan syariat dibuat sesuai dengan kehendak masing-masing orang perseorang, timbulah keinginan untuk mengambil keuntungan. Saat syariat menguntungkan maka polesan make up agama semakin tebal agar
terlihat cantik dan menarik. Tak heran bila banyak manusia yang mulai menganggap bahwa hal itu adalah bagian dari agama yang harus ditaati dari generasi ke generasi.
Hari itu Sarmi, salah satu pendatang di satu desa mendapatkan sekantung kresek makanan dari seorang tetangga. Dia mengatakan kalau itu adalah berkat dari rewahan, tanpa banyak bertanya Sarmi menerimanya tak lupa mengucapkan terimakasih. Tak lama kemudian datang lagi yang mengetuk pintu dan memberikan sebuah bungkusan kresek hitam.
Saat salat magrib tiba, Sarmi bertanya pada ibu-ibu yang hadir di sana.
“Bu, tadi saya dapat bingkisan dari tetangga. Itu dalam rangka apa ya?” tanya Sarmi.
“O. Itu dalam rangka rewahan.” jawabnya membuat Sarmi makin bingung.
“Rewahan itu apa ya, Bu?” tanyanya lagi.
“Menurut mereka itu untuk almarhum/almarhumah agar mereka dapat makanan.” jawabnya lagi yang membuat Sarmi tak lagi bertanya.
Bagi Sarmi itu adalah tradisi yang sudah ada di desa itu jadi dia memahami dan menghormatinya. Sarmi hanya tak bisa mengikutinya saja, karena bagi dia ritual yang menyangkut keagamaan harus memiliki dasarnya. Bila tak ada dasarnya maka Sarmi tak akan mengikutinya terlebih secara ekonomi dia tidak termasuk orang yang mampu untuk membuat bingkisan yang nantinya dibagikan kepada tetangga.
Adapun makanan yang diberikan oleh tetangganya Sarmi anggap sebagai rezeki yang diberikan Tuhan kepadanya. Jadi selayaknya menerima dan menyantapnya dengan penuh rasa syukur.
Cerita di atas mengingatkan pada satu perkataan dari Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Umayyah ke-8 (717-720) yang berbunyi:
“Barangsiapa yang beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.”
Selanjutnya Hadhrat Khalifatul Masih V aba. dalam khutbahnya bersabda:
“Ibadah tidak dapat terwujud tanpa adanya kecintaan kepada Allah Ta’ala dan kecintaan kepada Allah Ta’ala pun tidak akan muncul tanpa ibadah.” [1]
Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an:
“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.” [2]
Rasulullah saw. merupakan contoh teladan dengan standar yang tinggi dalam prakteknya. Hal ini terbukti dari sunnahnya yang menjadi acuan dalam pelaksanaan ibadah. Apabila ibadah yang kita lakukan tak ada dalam contohnya maka standar ilmu kita yang harus ditingkatkan.
Apabila ilmunya belum sampai berarti tingkat literasi yang harus diperbaiki. Tentunya ilmu tersebut dipelajari untuk mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala. Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan:
“Siapa yang mempelajari ilmu agama yang seharusnya ditujukan kepada Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajari itu untuk Allah hanya untuk mendapat kedudukan atau kekayaan dunia, maka tidak akan mendapat baunya sorga pada hari kiamat.” [3]
Kutipan Masih Mau’ud selanjutnya semoga menjadi acuan dari melakukan ibadah yang mempunyai dasar ilmunya agar ibadah kita tercatat sebagai amalan saat penghisaban nanti. Ibadah yang mempunyai dasar serta contoh dari Yang Mulia Rasulullah saw. sesuai dengan keinginan Allah Ta’ala. Kutipannya adalah sebagai berikut:
“Agama hanya dapat dikhidmati oleh orang-orang yang memiliki cahaya Tuhan pada dirinya. Pencapaian dari ilmu-ilmu dapat berguna hanya jika seseorang itu sangatlah mukhlis dan berkeinginan mengkhidmati agama dan telah menjadi sahabat seorang yang telah diberkati ilmu duniawi.” [4]
Referensi:
[1] Khutbah Jum’at Hadhrat Khalifatul Masih V aba., tanggal 6 Pebruari 2026
[2] QS. Al-An’am 6: 163
[3] HR. Abu Daud
[4] Malfuzat, Vol.1, hal 66
Views: 49
