KETIKA KETAATAN MEMBUKA PINTU KARUNIA ILAHI
Pernahkah kita merasa terjebak melakukan sesuatu yang salah, meskipun hati kecil tahu itu tidak benar? Alasan “zaman sekarang” dan “banyak orang melakukannya” sering menjadi pembenaran.
Di era penuh godaan seperti sekarang, media sosial, tayangan TV, bahkan pengaruh di lingkungan sekolah membuat setan sangat lincah menjebak. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (aba) bersabda:
“Kita harus ingat bahwa ini adalah zaman di mana setan sangat aktif, semua tipu muslihat, rencana, dan intriknya untuk menyerang. Setan telah memasang jebakan melalui berbagai cara, seperti TV, media sosial, dan bahkan melalui sekolah anak-anak, sehingga hampir tidak mungkin untuk melarikan diri kecuali atas izin Allah. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: Dajjal yang sesungguhnya adalah hal yang selalu menyesatkan manusia dari sebuah kebenaran.”
Hanya dengan izin Allah kita bisa selamat. Karena itu, ketaatan sejati bukan sekadar di lisan adalah kunci meraih karunia Ilahi.
Berikut sebuah kisah tentang seseorang yang terjebak godaan melalui media sosial.
Sebut saja Salsa. Ia adalah ibu tiga anak yang sedang diuji ekonomi. Suaminya bergaji kecil, hutang menumpuk. Rasa putus asa menyelimutinya.
Suatu hari, ia bertemu teman sekolah yang kini menjadi dokter kaya raya dan sudah beristri. Awalnya hanya komunikasi lewat Facebook dan WhatsApp, lama-lama Salsa merasa nyaman. Ia mulai membandingkan suaminya, mudah marah, bahkan enggan mengurus anak. Ia sadar itu salah, tapi sulit berhenti. Ada “kekuatan” yang membuat hari-harinya terasa berwarna. Sang dokter pun mengaku lebih nyaman dengan Salsa.
Untungnya, Salsa memiliki ibu yang bijak. Ibunya berpesan, “Hidup di jalan Allah Ta’ala, jangan jadi musuh-Nya. Ada hal yang kamu suka tapi sejatinya tidak baik. Lebih baik menderita di jalan Allah daripada senang sesaat yang mendatangkan murka-Nya. Jangan rusak pagar orang lain.”
Salsa tersadar setelah mendapat nasihat dari ibunya. Di lubuk hati terdalam, rasa bersalah yang menghantui perasaannya. Salsa mulai mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala: rajin tahajud, salat sunah, dan istighfar.
Suatu malam, ia terbangun dan melihat suaminya sujud lama. Hatinya bergetar. “Ya Allah, jangan sampai suamiku hamba kesayangan-Mu, tapi aku dibutakan dunia.” Pemandangan itu menjadi titik balik. Ia memutuskan semua kontak dengan sang dokter dan kembali fokus pada keluarga. Untuk pertama kalinya, ia merasakan nikmatnya ibadah hingga menangis syukur karena Allah Ta’ala menyelamatkannya dari kehancuran.
Taubat Salsa menarik karunia Ilahi. Seorang nenek memberikan modal berjualan aksesori. Tokonya ramai, omzet mencapai ratusan juta, hingga ia bisa membuka cabang. Anak pertamanya menjadi pengusaha muda sukses, anak keduanya kuliah kedokteran. “Andai aku memilih sang dokter, tidak akan ada cerita hari ini. Semakin kita menjaga ketaatan, semakin banyak karunia Allah yang tak disangka,” ujar Salsa.
Huzur (aba) bersabda, dalam ketaatan ada keberkahan. Dunia tidak akan membinasakanmu selama hubungan dengan Tuhan terjalin erat. Taat tanpa syarat, sami’na wa atha’na.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul.”
(QS An-Nisa: 59)
Kebaikan sejati tidak berhenti pada niat dan ucapan. Ia hidup ketika ditaati dan diwujudkan dalam amal perbuatan. Semoga kita termasuk hamba yang menyelaraskan ketakwaan dalam hati, lisan, dan tindakan sehari-hari.
Views: 42
