Memaknai Hidup Yang Tidak Menguasai Dan Tidak Mengalihkan
“Sebaik-baik kehidupan adalah yang tidak menguasaimu dan tidak pula mengalihkan perhatianmu.” — Hz. Ali bin Abi Thalib ra
Kutipan pendek dari Amirul Mukminin Hz. Ali bin Abi Thalib ra. Ini seperti kompas untuk manusia modern. Di zaman yang serba cepat dan penuh distraksi, kalimat ini mengajak kita bertanya: sebenarnya siapa yang memegang kendali — kita atas hidup, atau hidup atas kita?
1. “Tidak Menguasaimu”: Saat Dunia Menjadi Tuan
Hidup “menguasai” kita ketika kita diperbudak olehnya. Bentuknya macam-macam:
- Diperbudak harta: Bangun tidur ingat cicilan, tidur ingat target. Al-Qur’an menyebut: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” QS. At-Takasur: 1. Harta yang tadinya alat, berubah jadi tujuan. Kita kerja untuk hidup, tapi akhirnya hidup hanya untuk kerja.
- Diperbudak nafsu: Marah, iri, cinta berlebihan pada jabatan. Nabi SAW mengingatkan: “Celakalah hamba dinar, hamba dirham.” HR. Bukhari. Ketika mood kita ditentukan like di medsos, gaji naik, atau pujian bos, berarti hidup sudah menguasai kita.
- Diperbudak rasa takut kehilangan: Terlalu cemas akan masa depan sampai lupa nikmat hari ini. Padahal rezeki sudah dijamin, kita hanya diminta menjemput dengan ikhtiar. Ali bin Abi Thalib mengingatkan: sebaik-baik hidup adalah ketika dunia ada di tangan, bukan di hati. Seperti kapal: air harus di luar kapal. Kalau air masuk, kapal tenggelam.
2. “Tidak Pula Mengalihkan Perhatianmu”: Saat Dunia Menjadi Pengalih
Kalau “menguasai” itu soal diperbudak, maka “mengalihkan” itu soal terlena. Hidup yang mengalihkan perhatian adalah hidup yang membuat kita lupa tujuan utama.
- Lupa pada Sang Pemberi Hidup: Sibuk scroll media sosial berjam-jam, tapi zikir hanya beberapa menit terasa berat. Sibuk mengejar deadline, tapi salat di akhir waktu terasa biasa. Dunia boleh dikejar, tapi jangan sampai ia jadi hijab antara kita dan Allah.
- Lupa pada akhirat: Rasulullah SAW mengingatkan, “Jadilah di dunia seperti orang asing atau musafir.” HR. Bukhari. Musafir boleh menikmati pemandangan, tapi dia tidak membangun rumah di pinggir jalan. Dia tahu tujuan akhirnya bukan di sini.
- Lupa pada diri sendiri: Terlalu sibuk dengan validasi orang lain sampai kehilangan jati diri. Terlalu bising dengan notifikasi sampai tidak pernah hening mendengar suara hati.
- Jalan Tengah: Zuhud yang Bukan Berarti Miskin. Zuhud yang diajarkan Hz.Ali ra. Bukan anti-dunia. Beliau sendiri adalah khalifah, panglima, pedagang. Zuhud yang sejati adalah meletakkan dunia pada tempatnya. Ciri hidup yang “sebaik-baiknya” menurut kutipan ini:
1. Bekerja keras, tapi hati tetap tenang: rezeki dikejar dengan tangan, tapi tawakal dengan hati. Jika dapat, syukur. Jika lepas, sabar. Karena tahu semua titipan.
2. Menikmati, tapi tidak terikat: Boleh punya rumah bagus, HP baru, liburan. Tapi siap ditinggal kapan saja. Seperti Hz. Ali ra. Yang tidur beralaskan tanah tapi kaya hatinya.
3. Terlibat, tapi tidak tenggelam: Main medsos untuk dakwah dan silaturahmi, bukan untuk pamer dan ghibah. Berpolitik untuk maslahat, bukan untuk nafsu kuasa.
Imam Al-Ghazali menyebut ini al-faqru ma‘a al-ghina: fakir di hati, meski kaya di tangan.
4. Latihan Praktis Biar Hidup Tidak Menguasai & Mengalihkan
1. Hisab harian 5 menit: Tanya sebelum tidur, “Hari ini saya yang mengendalikan dunia, atau dunia yang mengendalikan saya?”
2. Puasa distraksi: 1 jam sehari tanpa HP. Latih agar kita yang pegang kendali, bukan notifikasi.
3. Sedekah cepat: Begitu dapat rezeki, langsung keluarkan sebagian. Ini melatih agar harta tidak mengendap di hati.
4. Ingat mati: Nabi sebut “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”. Bukan menjadi pesimis, tapi agar fokus. Kalau ingat kita akan pulang, kita tidak akan pernah sibuk berselisih untuk sesuatu yang akan kita tinggalkan.
Kebebasan yang Sejati
Sebaik-baik kehidupan adalah kehidupan orang yang bebas. Bukan bebas dari kerja atau tanggung jawab, tapi bebas dari belenggu dunia, diperbudak dan terlena olehnya.
Dunia ini jembatan, bukan tujuan. Kita boleh saja menikmati keindahan panorama dan berjalan di atasnya, tapi jangan pernah mencoba membangun vila di atasnya. Karena semua akan kita tinggalkan, kecuali amal dan hati yang selamat.
Seperti yang disampaikan oleh Hz. Ali bin Abi Thalib ra. di bagian lain: “Jadilah anak akhirat, jangan jadi anak dunia. Karena setiap anak akan mengikuti ibunya.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mampu menggenggam dunia, namun sama sekali tidak bisa digenggam oleh dunia. Aamiin.
Views: 23
